1.5 Jam untuk Pak Sudarman, Tukang Sol Sepatu


Siang ini, sekitar pukul 13.00 sehabis kuliah, saya langsung pergi ke Pasar Simpang untuk mengambil sepasang sandal saya yang sedari pagi sudah dititipkan ke tukang sol sepatu. Sesampainya di sana, kirain sudah kelar tuh sandalnya. Ternyata Bapaknya malah lupa. Aduh.

Walhasil saya makan siang dulu sambil menunggu. Parahnya setelah selesai makan, sandal saya baru dikerjakan. Siap-siap menunggu lama deh. Untungnya Bapaknya terlihat sudah berumur. Jujur sebenarnya saya agak kasihan kalau lihat orang tua yang sudah berumur masih kerja, otomatis saya nggak jadi kesal. Bisa dimaklumi deh.

Akhirnya sekitar pukul setengah dua sandal saya baru disentuh. Saya memilih untuk menunggu di samping Sang Bapak, memperhatikan bagaimana beliau memproses sandal saya.

Jadi begini, sandal kanan saya itu talinya putus. Sepertinya lemnya tidak kuat jadi sekalinya jatuh langsung putus talinya. Awalnya saya mau ngelem sendiri tapi sepertinya kalau dibawa ke tukang sol sepatu sepertinya bisa lebih bagus hasil lemnya.

Namun, ternyata setelah memperhatikan Sang Bapak, sandal saya bukan dilem melainkan dijahit. Tahu tidak? Jadi begini prosesnya.

Alas (alias sol bagian telapak yang langsung menyentuh tanah) itu dikerik pakai pisau membentuk lubang mengikuti bentuk kaki. Kemudian, beliau menyisipkan benang (khusus untuk sepatu, pastinya) menggunakan sejenis obeng dari telapak kaki menembus sol yang menyentuh tanah dan mulai menjahit sesuai bentuk telapak kaki yang sudah dikerik tadi.

Sandal saya tebalnya kira-kira 1 cm. Pasti beliau ini tenaganya kuat ya, bisa menjahit sepatu yang tebal dan keras gitu modal pakai obeng, pisau, dan benang. Super!!! Kagum. Terserah deh dibilang norak tapi saya suka melihatnya.

Setelah menjahit seluruh telapak kaki, barulah bagian tali yang putus dijahit. Melihatnya saya jadi berpikir, kenapa tidak bagian yang putusnya saja yang dijahit? Susah-susah beliau menjahit 2 buah sandal saya yang sebenarnya cuma 1 sandal saja yang talinya putus dan rusaknya cuma sekitar 1 cm. Kerusakan 1 cm yang tadinya mau saya lem, ternyata dijahit keseluruhan oleh beliau supaya lebih kuat dan lebih indah, pastinya.

Niat :)

Setelah sandal saya tuntas, saya minta diproses juga sepatu yang sedang saya pakai. Nah kalau model yang ini, so pasti dilem, pikir saya. Sepatunya model pantofel gitu dan tebal. Betulan tebal, jadi aneh sih kalau mau dijahit juga. Pasti susah.

Tapi ternyata Sang Bapak mengeluarkan jurus yang sama. Menjahit. Kali ini saya lihat ekspresinya lebih keras karena memang sol sepatunya lebih tebal. Saya tetap memperhatikan sampai selesai.

Untung ada tukang sol sepatu. Kan jadi bisa hemat puluhan ribu :D

Dan yang saya kira cuma perlu dilem ternyata dijahit keseluruhan. Bukan dijahit di bagian yang rusak saja dan bukan 1 sandal yang bermasalah saja, tapi semua bagian sepatu karena itu yang akan menjadikannya lebih kuat dan lebih indah.

Memang cuma ahlinya yang PALING PUNYA solusi !!!

Seusai menyelesaikan sepatu saya, kira-kira pukul 15.00 barulah saya membayar dan menanyakan nama beliau. Namanya Pak Sudarman dan beliau sudah bertahun-tahun menjadi tukang sol sepatu di lokasi yang sama. Saya saja jadi mahasiswa sudah sering bosan gini, apalagi Pak Sudarman. Tapi yang namanya cari duit memang nggak bisa memikirkan kejenuhan ya. Semoga beliau diberi pahala sama kebutuhannya hidup keluarganya terpenuhi.

Siang saya menyenangkan meskipun hanya dengan memperhatikan.

Terima kasih ya, Pak.

 

 

Ngapain Sih Dik Doank?

Kamu tahu? Sekitar pukul 10.00 pada tanggal 19 Februari 2010 ketika saya memasuki Aula Barat, saya sudah tahu akan menikmati sebuah momen yang cukup sayang kalau dilewatkan. Meskipun datang telat karena kuliah, setidaknya saya datang karena memang ada ketertarikan tersendiri melihat siapa yang omongannya akan saya dengarkan pagi itu.

Dik Doank, Kak Sano, Putri Pariwisata Indonesia, dan ada Manik-Laluna sebagai moderator. Moderator? Yap. Karena itu adalah salah satu acara talkshow GELAR PEDULI LINGKUNGAN 2010 bertemakan “Eco-lifestyle”. Overall, mungkin saya bisa katakan itu adalah salah satu talkshow paling oke di ITB yang pernah saya ikuti. Mungkin terdengar berlebihan tapi sumpah ini beneran.

Kalau lihat isinya, pastinya tulisan ini sudah out of date. Tapi justru dengan out of date-nya itu saya sekedar ingin mereview beberapa kalimat istimewa yang saya dapat selama 1 jam duduk dalam ruangan tersebut. Barangkali pada lupa. Ya meskipun sebagian besar hanya saya dapat dari Dik Doank yang SANGAT NIAT & WAH dalam penyampaiannya. Lagi-lagi, sekedar mereview buat kawan-kawan yang mungkin juga berhalangan hadir. Oke mulai saja ya.

Ada yang salah besar dalam dunia pendidikan kita

Dik Doank


Kalau anak-anak tahu keindahan, apa mereka akan buang sampah sembarangan?

Dik Doank


Kita tidak pernah berhasil kalau hidup tidak didasari pendidikan rasa yang diolah oleh seni

Dik Doank


Jangan sampai ITB hanya melahirkan orang-orang kalkulator

Dik Doank


Kita bukan bangsa pencipta kalau pendidikan kita terus seperti ini

Dik Doank


Yang paling penting dari musibah adalah hikmah

Dik Doank


Nikahilah penderitaan karena penderitaan itu adalah singgasana kebahagiaan

Dik Doank


Kalau bangsa kita sudah menang sepakbola, bangsa ini sudah beres

Dik Doank


Aku ingin masuk ITB, tapi tidak diterima.

Aku masuk IKJ, tapi inilah jalan hidupku.

Dik Doank


Orang yang mengatakan oang lain sombong adalah orang yang kurang wawasan

Dik Doank


Setiap kali kau dibicarakan orang lain, yakinlah kau telah berbuat kebajikan

Dik Doank


Habiskan air minummu di undangan

Manik-Laluna


Saya teh emang USA. Urang Sunda Asli

Manik-Laluna


Kita jangan memikirkan dunia, karena dunia sudah ada yang memikirkan.

Kita jangan memuliakan Allah, karena Dia sudah mulia.

Tapi mintalah karena kita butuh kemuliaan-Nya.

Dik Doank


Izinkan aku bernyanyi tidak di hadapanmu

(kemudian beliau membalikkan badan membelakangi penonton, dan melantunkan lagunya)

Dik Doank


CK : Oh iya. Barangkali ada kutipan yang kurang tepat, mohon dikoreksi ya. Terus kalau butuh pembicara, Dik Doank kayaknya memang orang yang top recommended.

Arti Namaku, Teratai

Saya mau berbagi cerita sedikit nih dengan mas/jeng tentang arti nama saya. Sausan Atika Maesara. Nama ini merupakan pemberian kakek (ayah dari ibu) yang sudah almarhum sejak saya masih kecil sekali. Katanya sih artinya Teratai Pembawa Kebahagiaan. Diambil dari bahasa arab.

Saya tidak tahu atas dasar apa kakek memberi nama saya ‘teratai’. Ya kenapa bukan mawar, melati atau bougenville atau anggrek atau bahkan bunga bangkai? (waduh yang ini nih nggak enak banget dengernya).
Barusan banget deh keinget soal nama ini. Akhirnya iseng googling dan ini yang saya dapat. Bikin saya nggak nyesel deh dikasih nama teratai. Ya walaupun saya tetap nggak tahu alasan kakek memberi nama teratai tapi setidaknya arti dan filosofinya bagus. Nah ini dia sedikit hasil googlingnya. Sedikit ‘aja ya, kalau banyak-banyak nanti malas juga bacanya.

TERATAI

Sebagai tanaman air yang POPULER di berbagai belahan dunia, teratai memiliki keistimewaan yakni menjadi tanaman yang banyak menyuntikkan INSPIRASI pada kaum penyair maupun penggubah lagu. Selebihnya, berbagai bangsa di muka bumi menempatkan tumbuhan air ini dalam posisi SARAT NILAI.
Banyak kisah mengenai bunga ini. Dalam astrologi, masyarakat Mesir Kuno menggunakan bentuk teratai sebagai simbol matahari terbit. Dalam ajaran Buddha menegaskan bahwa proses mekarnya bunga teratai merupakan lambang pencapaian KESEMPURNAAN menuju nirvana. Dalam Hindu, teratai merupakan perlambang KEMURNIAN. Selebihnya, bunga teratai kerap dijadikan simbol kecantikan fisik wanita. Beberapa perguruan tinggi terkemuka di tanah air juga menggunakan bunga teratai sebagai logo lembaga pendidikannya.

Dari kehidupan teratai yang dapat ditarik banyak pelajaran. Apabila air pasang, teratai naik. Bila air surut teratai pun turun. Daun teratai yang senantiasa mengapung rata di permukaan air tak pernah kotor sekalipun hidup di air keruh. Bunga yang muncul dari dalam air itu tetap bersih, segar dan indah. Akar yang kait-mengait dalam dasar kolam membuat teratai tidak gampang meninggalkan hidupnya. Semua itu melambangkan sikap KEMATANGAN dan KEMAPANAN, dan KEJUANGAN serta sikap CINTA TANAH AIR yang telah menghidupinya.

Teratai merah/lotus (salah satu jenis teratai) melambangkan KESUCIAN. Teratai merah membangun kehidupan harmoni dengan lingkungannya tanpa mengorbankan jati dirinya. Ia tetap bersih sekalipun air di sekelilingnya kotor. Keindahannya terjangkau oleh siapapun dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Teratai memang bukan bunga yang harum semerbak, tetapi keberadaannya mampu membuat orang menoleh dan memperhatikannya. Tak peduli dia hidup di kolam gedung megah atau di kubangan lumpur belantara. Teratai merupakan bunga yang tak pernah mati saat kemarau melingkupi bumi, dia tetap hidup dalam umbinya, terpuruk dalam tanah kering kerontang. Tetapi begitu hujan datang, kuncup bunga akan segera mekar ditengah hijau dedaunan. Jadi, bunga teratai mampu memiliki PRINSIP HIDUP, mampu menghadapi TANTANGAN atas apa yang ada disekitarnya. Air boleh tercemar polusi, tapi teratai mampu mengatasinya karena ia akan tetap hidup.

.

Well, sebenarnya lumayan banyak terusannya, tapi di-stop sampai di sini ‘aja deh. Filosofinya emang pas banget sih sama saya (APAKAH???). Ya pokoknya selamat deh sudah membaca. Ada bagusnya coba mas/jeng cari arti eh bukan, cari filosofi dari nama sendiri. Sensasinya terasa deh apalagi kalau hujan-hujan gini *nggak nyambung lah
.
.
.
23.28 menulis di kosan sambil meringkuk dalam selimut, kedinginan