Di hadapanku terbentang seratus jalan menuju langit, tiap malamnya aku terbang tinggi menembus awan seperti seuntai doa. Mendalami makhluk di bumi sana. Rahasia.
Kutunggu hingga larut. Demi manusia yang terlelap dalam sunyi, tak mendengar. Jika tatapan serupa siluet tergaris tipis di hadapanku, jangan bertanya ada apa, ‘ku hanya akan jawab dengan senyum. Jangan pun memaksa.
Cukup lah ku ulurkan tangan, berkata lirih. Ya sudahlah. Mari naik bersamaku.
8910 : 0.15, tengah malam menggigil