Secuil Tentang Babakan Siliwangi

“Hak atas lingkungan hidup yang sehat

adalah hak asasi manusia.”

Babakan Siliwangi merupakan sebuah lahan yang terletak di timur laut kampus ITB. Terbentang dari arah Sabuga sampai pangkalan jembatan ke arah Ciumbuleuit. Pada dekade 1980-an, Babakan Siliwangi masih berupa petak-petak lahan hijau yang diramaikan oleh pepohonan dan semak-semak. Di dalamnya terdapat pula aktivitas seni yang dilakukan oleh para seniman, dan biasa dikunjungi oleh warga sekitar. Hingga pada akhir 1990-an, Pemerintah Kota mendirikan restoran dengan jalur memanjang pada lahan tersebut. Restoran berdesain rumah panggung etnik khas sunda, dengan taman, kolam air mancur, dan jalan setapak.

Napak Tilas

Babakan Siliwangi merupakan salah satu hutan kota yang sesungguhnya perlu dikelola. Hingga PemKot ahirnya memutuskan untuk membangun restoran di lahan tersebut. Pada awal dekade 2000-an, restoran yang didirikan PemKot bangkrut. Bangunan terbengkalai.

Bangunan Kawasan Restoran yang Terbengkalai

Tahun 2003, beberapa bom molotov diluncurkan mengarah pada restoran. Akibatnya, bangunan yang terbengkalai tersebut habis terbakar. Memang tidak terdapat apa-apa lagi di sana. Akan tetapi, warga sekitar masih menggunakan lahan tersebut bahkan memberdayakannya kembali melalui kegiatan-kegiatan sosial seperti mengajar anak TK, melukis di alam terbuka, dan penanaman pohon.

Tidak diketahui oknum mana yang melemparkan bom Molotov, seolah hal tersebut menjadi cikal bakal munculnya konflik kepentingan. Tak berapa lama, PT. EGI (PT. Esa Gemilang Indah) meminta PemKot untuk menjual lahan tersebut kepada mereka. PT.EGI merupakan anak perusahaan Istana Group dan trademark yang sudah terbangun, ya sudah menjadi rahasisa umum, Istana Group adalah perusahaan yang khusus mendirikan bangunan-bangunan komersil seperti hotel dan apartemen, serta mall.

Dalam perujukannya, PT.EGI berencana membangun restoran. Meminta izin memang sulit, tapi ketika izin sudah didapat maka akan mudah untuk melakukan peruahan terhadap desain awal. Jadi, wajar saja apabila banyak pihak tidak mampu percaya bahwa PT.EGI akan membangunnya menjadi restoran ‘saja’.

Namun, izin akhirnya dikeluarkan juga oleh PemKot kepada PT.EGI.

Entah apa yang ada di benak para bikorat serta para wakil rakyat Kota Bandung, ketika memutuskan Babakan Siliwangi kembali akan dibangun menjadi kawasan komersial, ditengah minimnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung.

Sedikit info. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007, mewajibkan setiap kota harus memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari luas wilayah kotanya. Dalam Perda No. 3 tahun 2006 tentang penataan ruang dan wilayah Kota Bandung, mencantumkan bahwa RTH di Kota Bandung yang harus dicapai sebesar 10 %. Sedangkan yang ada saat ini tidak lebih dari 6% saja. Itu pun tidak memiliki kualifikasi sebagai RTH.

[Kiri] Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat. [Kanan] Pohon kecil yang Ditebangi. Kira-kira Segitu Tingginya.

Sanggar Olah Seni

SOS merupakan beberapa bangunan yang terletak di samping Kantor Kelurahan. Sanggar Olah Seni didirikan sejak tahun 1982, dengan pencetusnya senior-senior seperti Anan Sumarna dkk. Mereka berpendapat bahwa kawasan Baksil merupakan tempat yang representatif untuk berkarya.

Para leluhur memutar otak untuk mencari modal agar dapat membangun sanggar. Akhirnya, usaha dilakukan dengan cara mengumpulkan tape untuk diekspor ke Jepang. Namun, hasil yang didapat tidak mencukupi modal awal perkiraan. Para founding father akhirnya menyusun proposal untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota agar bisa mendapatkan dana APBN Pusat.

Sanggar Olah Seni sendiri diberi nama oleh alm. Otto Iskandar dan disahkan oleh Menteri Pariwisata saat itu. Hingga saat ini, anggotanya melebihi 800 seniman aktif maupun nonaktif, menjadikannya sanggar seni terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2002, mulai terwacanakan isu bahwa dalam kawasan Baksil akan dilakukan pemekaran restoran dan dibangun kondominium. Termasuk sanggar, saat itu diajukan untuk diganti dengan 7 buah kios di Taman Sari. Namun, secara tegas para anggota menolak karena hal tersebut akan mendegradasikan tujuan diadakannya sanggar tersebut. Toh seni itu tidak melulu komersil, akan tetapi juga diterapkannya pendidikan seni rupa untuk masyarakat yang umumnya murid-murid TK atau SD.

ITB Sebagai Pencetus Komersialisasi Baksil?

Pada akhir tahun 90-an, ITB membeli sebagian lahan di Baksil untuk dibangun sebuah gedung pementasan karya, yang sekarang kita kenal sebagai Sasana Budaya Ganesha serta lahan untuk penyediaan sarana dan prasarana olahraga yakni Sarana Olahraga Ganesha.

Sedikit gelitik, mungkin. Namun, memang asal mula lahan Baksil ternyata mampu diproyeksikan sebagai kawasan komersil ialah dengan pembangunan kedua proyek tersebut. Sabuga yang dikhususkan untuk mahasiswa ITB, tapi pada kenyataannya apabila ingin menyewanya, mahasiswa tetap harus membayar mahal. Hmm…

Status Baksil

Kepemilikan Baksil saat ini masih dipegang oleh PT. EGI. Sesuai peraturan perndang-undangan, pemilik lahan wajib melakukan pengelolaan terhadap lahan yang dimilikinya. Entah dibuat taman, perkebunan, atau pembangunan infrastruktur lain. Namun, dalam keberjalanannya seperti kita tahu, tidak ada perubahan signifikan atas visual lahan Baksil tersebut.

Kecuali pada tanggal 12 Mei 2011 lalu, beberapa pohon di Baksil ditebangi dan telah ditanami petak-petak (berupa bambu setinggi kurang lebih 30 cm). Media menyebutkan bahwa pelaku penebangan tersebut berasal dari forum yang concern terhadap Baksil. Mereka memberi alasan bahwa semak-semak perlu dibersihkan agar Baksil sendiri tidak menimbulkan suasana seram bagi masyarakat sekitarnya. Sementara dalam ekspedisi langsung ke tempat, bukan hanya semak yang dibersihkan akan tetapi juga pohon-pohon kecil.

Sayangnya menurut Sawung, seorang aktivis WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), beliau menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya forum peduli Baksil yang tiba-tiba terbentuk. Orang yang menebangi pohon-pohon tersebut terlihat seperti orang asing. Karena LSM maupun komunitas-komunitas yang concern terhadap Baksil sejak awal, satu sama lain sudah saling mengenal. Toh isu ini sudah diangkat dan pernah menjadi pembahasan LSM & komunitas pecinta lingkungan sejak awal tahun 2000-an.

Alih Fungsi Baksil

Di Bandung sendiri, lahan hijau yang tersisa hanyalah di daerah Baksil dan Cilaki. Apabila Baksil dialihfungsikan dari komponen ‘hijau’ menjadi ‘tidak hijau’ pada peta, dalam arti mengubahnya dari RTH menjadi lahan penduduk atau lahan komersil, maka produksi oksigen untuk Bandung akan semakin berkurang. Akibatnya?

Bandung makin panas! Lahan komersil pastinya menjadi cikal bakal kemacetan! Debu tidak ada yang menyaring! Kebebasan menghirup udara segar tak terwujud! Ketersediaan akan oksigen berkurang! Dan pemukiman di bawah Baksil pasti kebanjiran karena limpasan air hujan semakin cepat turun ke bawah dan tidak terinfiltrasi (terserap) ke dalam tanah!

Sudah siapkah kita dengan keruwetan tersebut?

Sumber :

Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat

Pak Susantono, Sekertaris Sanggar Olah Seni

Berbagai sumber dari internet

1.5 Jam untuk Pak Sudarman, Tukang Sol Sepatu


Siang ini, sekitar pukul 13.00 sehabis kuliah, saya langsung pergi ke Pasar Simpang untuk mengambil sepasang sandal saya yang sedari pagi sudah dititipkan ke tukang sol sepatu. Sesampainya di sana, kirain sudah kelar tuh sandalnya. Ternyata Bapaknya malah lupa. Aduh.

Walhasil saya makan siang dulu sambil menunggu. Parahnya setelah selesai makan, sandal saya baru dikerjakan. Siap-siap menunggu lama deh. Untungnya Bapaknya terlihat sudah berumur. Jujur sebenarnya saya agak kasihan kalau lihat orang tua yang sudah berumur masih kerja, otomatis saya nggak jadi kesal. Bisa dimaklumi deh.

Akhirnya sekitar pukul setengah dua sandal saya baru disentuh. Saya memilih untuk menunggu di samping Sang Bapak, memperhatikan bagaimana beliau memproses sandal saya.

Jadi begini, sandal kanan saya itu talinya putus. Sepertinya lemnya tidak kuat jadi sekalinya jatuh langsung putus talinya. Awalnya saya mau ngelem sendiri tapi sepertinya kalau dibawa ke tukang sol sepatu sepertinya bisa lebih bagus hasil lemnya.

Namun, ternyata setelah memperhatikan Sang Bapak, sandal saya bukan dilem melainkan dijahit. Tahu tidak? Jadi begini prosesnya.

Alas (alias sol bagian telapak yang langsung menyentuh tanah) itu dikerik pakai pisau membentuk lubang mengikuti bentuk kaki. Kemudian, beliau menyisipkan benang (khusus untuk sepatu, pastinya) menggunakan sejenis obeng dari telapak kaki menembus sol yang menyentuh tanah dan mulai menjahit sesuai bentuk telapak kaki yang sudah dikerik tadi.

Sandal saya tebalnya kira-kira 1 cm. Pasti beliau ini tenaganya kuat ya, bisa menjahit sepatu yang tebal dan keras gitu modal pakai obeng, pisau, dan benang. Super!!! Kagum. Terserah deh dibilang norak tapi saya suka melihatnya.

Setelah menjahit seluruh telapak kaki, barulah bagian tali yang putus dijahit. Melihatnya saya jadi berpikir, kenapa tidak bagian yang putusnya saja yang dijahit? Susah-susah beliau menjahit 2 buah sandal saya yang sebenarnya cuma 1 sandal saja yang talinya putus dan rusaknya cuma sekitar 1 cm. Kerusakan 1 cm yang tadinya mau saya lem, ternyata dijahit keseluruhan oleh beliau supaya lebih kuat dan lebih indah, pastinya.

Niat :)

Setelah sandal saya tuntas, saya minta diproses juga sepatu yang sedang saya pakai. Nah kalau model yang ini, so pasti dilem, pikir saya. Sepatunya model pantofel gitu dan tebal. Betulan tebal, jadi aneh sih kalau mau dijahit juga. Pasti susah.

Tapi ternyata Sang Bapak mengeluarkan jurus yang sama. Menjahit. Kali ini saya lihat ekspresinya lebih keras karena memang sol sepatunya lebih tebal. Saya tetap memperhatikan sampai selesai.

Untung ada tukang sol sepatu. Kan jadi bisa hemat puluhan ribu :D

Dan yang saya kira cuma perlu dilem ternyata dijahit keseluruhan. Bukan dijahit di bagian yang rusak saja dan bukan 1 sandal yang bermasalah saja, tapi semua bagian sepatu karena itu yang akan menjadikannya lebih kuat dan lebih indah.

Memang cuma ahlinya yang PALING PUNYA solusi !!!

Seusai menyelesaikan sepatu saya, kira-kira pukul 15.00 barulah saya membayar dan menanyakan nama beliau. Namanya Pak Sudarman dan beliau sudah bertahun-tahun menjadi tukang sol sepatu di lokasi yang sama. Saya saja jadi mahasiswa sudah sering bosan gini, apalagi Pak Sudarman. Tapi yang namanya cari duit memang nggak bisa memikirkan kejenuhan ya. Semoga beliau diberi pahala sama kebutuhannya hidup keluarganya terpenuhi.

Siang saya menyenangkan meskipun hanya dengan memperhatikan.

Terima kasih ya, Pak.

 

 

LIBURAN MAU KE SINI POKOKNYA

Kalau mas/jeng ini lihat beberapa tulisan saya di bawah, pasti tahu saya punya keinginan berkunjung ke mana kalau punya uang nanti. Turki. Tapi terlepas dari punya uang cukup, paspor, waktu, teman, atau tetek bengek yang diperlukan untuk ke sana, sekarang saya mau cerita tentang tempat yang pasti lebih mungkin dikunjungi. Dekat kok. Masih di Pulau Jawa juga.

Keinginan ini berawal dari rekomendasi  (lagi-lagi orang keren Indonesia :) ) Pandji Pragiwaksono dalam tulisannya yang berjudul Nasional.Is.Me, yang mas/jeng bisa unduh di webnya dia www.pandji.com.

Sebuah tempat yang katanya dia, cuma bisa mas/jeng temukan di 2 lokasi di dunia. Apa tuh?

Jawabannya, Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid yang spektakuler, kalau kata Pandji.

Karena no picture=hoax, maka saya printscreen-kan deh novelnya Pandji.

Gimana? Kalau saya sih antusias sekali sukanya karena embel-embel “cuma ada 2 di dunia”.

Siapa sih yang nggak bangga sama hal ini. Masjid Agung Jawa Tengah ini kekayaan kita lho.

Mau ngapain di sana? Yang pasti saya HARUS TIDURAN DI LANTAINYA SAMBIL MENGHADAP ATAPNYA (ALIAS  LANGIT) LALU MENGHEMBUSKAN NAFAS DALAM-DALAM DENGAN MATA TERBUKA, sama seperti hal yang sering saya lakukan setiap masuk masjid manapun.

Itu tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia, urutan PERTAMAX untuk saat ini.

Terus, ini sebenarnya bukan urutan kedua. Karena saya sendiri nggak tahu urutan keduanya apa. Tapi kalau yang satu ini gara-gara saya nonton acara di TV. Apa itu?

BNS (Batu National Spectacular)

Jadi, BNS ini letaknya sekitar 30 km dari Kota Malang, tepatnya di Batu. Tidak, tidak. Bukan Buah Batu. Batu ini tempat yang banyak memproduksi buah apel (kok jayus ya?!)

Ada apa di sana?

Ini adalah sebuah tempat rekreasi dengan sejuta lampu (sebenarnya nggak sejuta juga sih, tapi maksudnya banyak, gitu). Dibukanya mulai pukul 15.00 sampai tengah malam.

Mungkin memang cuma pemandangan yang bisa didapatkan di sana. Buat mas/jeng, tidak mungkin sensasinya sepeti naik wahana ke Dufan atau ya minimal Jatim Park, atau naik gunung. Tapi kalau buat saya, tempat dengan pemandangan menarik justru lebih utama dibandingkan tempat yang menyajikan pengalaman seru dan menegangkan.

Karena saya sangat mengapresiasi alam dan objek yang indah, jadilah ini sepertinya tempat yang sangat cocok untuk saya datagi.

Kekurangannya cuma satu sih. Sepertinya BNS ini lebih cocok untuk tamu yang berpasangan deh alias sayanya jomblo. Secara malam berselimutkan lampion pasti menciptakan suasana yang romantis. Mohon koreksi ya bagi yang sudah ke sana.

Tapi hal itu nggak mengurungkan niat sedikitpun. Teman saya banyak dan SERU-SERU PARAH. Pasti RAME.

Jadi nggak sabar nih mau libur semester bulan Januari besok. Ada nggak ya yang mau temenin saya liburan ke sana? Dua kota ‘aja kok :D

Part 1 : Baleendah —> Cikapundung

17 April 2010, Sabtu Pagi

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi saya. Cuma mau cerita-cerita sih. Hari itu saya awali dengan beberes ransel ya walaupun sedikit barang bawaannya. Rencananya saya diajak Kak Mirna, Kadiv Comdev Departemen Pengmas HMTL ITB ikutan ke Baleendah buat survei2. HMTL rencananya juga, mau membuat semacam alat pengolahan air bersih untuk daerah Baleendah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan sebagai lokasi bencana [manusia] sejak 3 bulan terakhir.

Saya datang jam 8 pagi lewat sedikit di Gerbang Ganesha, ternyata di sana baru ada kakak2 : Mirna, Adhiet BW, dan Fatur. Yah baru segini, alamat telat berangkat ini sih…pikir saya dalam hati. Yah pokoknya sampai jam 9 pagi saya cuma duduk menunggu bersama beberapa orang lain, ada Dida dan kakak2 : Mirna, Adhiet BW, Seli, Mitha, Karinta, Ade. Fatur cao memang tidak ikut. Siapa yang ditunggu nih? Ternyata biangnya adalah kakak2 : Igoy dan Afne. Mereka ketiduran di himpunan, katanya sih jam 8 dikira jam setengah 8. Ya pantes telat. Okelah lanjut.

Mengingat sudah jam 9 lewat sedikit dan ketika saya mempertimbangkan kembali untuk ikut, akhirnya saya memutuskan pilihan tidak ikut ke Baleendah. Karena jam 1 siang saya sudah harus ada lagi di kampus, praktikum Mekanika Fluida di Sungai Cikapundung. Takutnya nggak sempat. Perjalanan ke Baleendah memakan waktu satu setengah jam lebih soalnya.  Belum lagi karena itu hari Sabtu, kemungkinan macet lebih besar.

Okelah saya ditinggal sendirian. Tapi tak berapa lama kemudian Kak Mirna menelepon, katanya saya disuruh ikut saja karena dijanjikannya habis dzuhur langsung pulang. Estimasi saya sampai ke kampus bisa jam setengah 2. Kebetulan banget Kak Andi selaku Kadept.Pengmas sekaligus PJ Modul praktikum saya siang itu memberi keringanan sampai jam 2 siang. Gila. Kak Andi Nepotisme nih. Hahaha untunglah, tapi nggak baik nih.

Saya naik mobil Kak Adhiet BW sama Igoy, Afne, dan Dida. Perjalanan berangkat memakan waktu satu setengah jam. Di Bojongsoang [kalau nggak salah], datanglah Kak Bokir membawa motornya, menyusul karena rumahnya memang di daerah sana. Kami lanjut sampai berhenti di Kantor Kecamatan Baleendah. Di sana bertemu dengan Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya.

Mari saya kasih sedikit informasi yang saya dapat dari papan data di kantor kecamatan tersebut. Pada tanggal 13 April, di kelurahan Andir dan Baleendah, air pasang dengan total 699 rumah terendam. Tanggal 15 April air pasang lagi dengan total 328 rumah terendam pada dua kelurahan tersebut. Baru dua hari berlalu sejak air surut kembali, saya berkunjung ke sana.

Beliau, Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya menceritakan kondisi bahwa di sana banjir bisa pasang dan surut sewaktu-waktu. Dan hingga saat ini pun, masih ada sekitar 300-an rumah di kelurahan Baleendah, yang terendam lumpur. Ya. Bukan air banjir tapi lumpur, tepatnya.

Sekedar informasi juga, di halaman kantor kecamatan tersebut terdapat sebuah alat pengolahan air bersih buatan Belanda, kata si Bapak. Alat itu didatangkan ke Indonesia sejak terjadinya tsunami Aceh, dioper ke-apa-lagi-ya-bencananya-saya-lupa, barulah pada bulan Maret 2010 kemarin dipindahkan ke Baleendah. Sumber airnya diambil dari kolam di samping kantor, diolah, dan hasilnya ditampung dalam sebuah bak superbesar untuk kemudian dapat dikeluarkan melalui keran pada bagian bawahnya untuk mengalirkan air.  Jujur saja sih ya, airnya masih sedikit kuning kalau yang saya lihat dengan mata sendiri.

Ini dia alat olahan air bersih Turun-Temurun-Bencana
Sumpah ini nggak pake efek foto apapun, kuning ‘kan kuning?

Lalu, kami serombongan pergi menuju daerah Cieunteung, daerah yang baru saya tahu menjadi daerah paling parah efeknya. Sayangnya sesayang-sayangnya, sepatu bot cuma ada 4 dan ternyata medan tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Lumpur masih terlalu dalam untuk ditapaki sandal/sepatu apalagi dengan mahasiswa-mahasiswa elit [ya ya ya saya akui ini] yang tidak biasa berkutat dengan lumpur. Bahkan tak jauh berapa meter ada 2 buah kano kecil. Tahu ‘kan ya maksudnya? Ya untuk alat transportasi. Dan pada akhirnya cuma kakak cowok2 : Adhiet BW, Igoy, Afne, dan Bokir yang masuk ke dalam Cieunteung untuk bertemu dengan Pak RW, menanyakan kondisi setempat.

Sekitar sejam menunggu, kami cewek2 menunggu sembari duduk di luar jendela sebuah rumah yang lembab dengan lantai penuh lumpur kering. Saya sempat foto pintunya. Ini dia, ternyata si lumpur pernah membuat sejarah bagi rumah ini dengan menempelkan endapan-endapannya hingga ketinggian lebih dari setengah daun pintu alias se-alis saya kira-kira. Itu baru endapan lumpur, belum air banjirnya lho. Cemana lah tingginya.

Sekitar jam 12 rombongan cowok2 datang. Yang dilakukan pertama adalah mengeluarkan air berlumpur dari dalam sepatu bot. Lalu berjalan kaki menuju SPBU setempat untuk mencuci kaki. Kak Adhiet BW menceritakan kondisi di dalam sana. Jadi, dalam mushola terdapat sebuah bak setinggi kira2 dada Kak Adhiet BW, yang berfungsi sebagai alat kelola air bersih. Alat itu dikhususkan ditempatkan di mushola untuk kemudahan akses rumah-rumah setempat mendapatkan air bersih jika banjir sedang pasang, tidak perlu ke kantor kecamatan.

Mekanismenya adalah air banjir diambil, dimasukkan ke dalam bak, lalu dibubuhi kaporit, PAC, dan-lupa-satu-macam-lagi, ya pokoknya begitu sampai endapannya jatuh dan air bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk air minum, ya pakai air itu tapi dimasak lagi.

Kak Adhiet BW menceritakan bahwa si Bapak di mushola sana bilang kalau yang paling sulit didapatkan adalah makanan. Ya mau bagaimana juga ya, dipikir2 memang kalau sedang pasang, warga mana bisa keluar rumah jauh-jauh untuk cari makanan? Akses mendapatkan air bersih kan bisa didapat di mushola, lha kalau makanan?

Dengan hasil survei tersebut dan bermodal dokumentasi, kami pun kembali menuju kampus. Rencananya, hasil survei ini akan dibawakan kepada Bu Ogi, salah satu dosen Teknik Lingkungan, untuk dibahas bersama.

Melelahkan. Pusing karena kepanasan. Semangat juga menurun sedikit karena tidak bisa masuk ke dalam gang. Ya yang penting dapat sedikit manfaat lah. Sedih sih melihat seorang bapak-bapak yang mengkayuh gerobak mau masuk ke dalam tapi memutuskan diri untuk keluar gang lagi hanya beberapa meter dari jarak saya berdiri, karena lumpurnya memang terlalu dalam, tidak bisa itu dimasuki gerobak.

Ada pula beberapa anak kecil baru pulang sekolah, melepaskan sepatunya dan mengangkat celananya, mulai menerobos lumpur. Tinggi mereka cuma sekitar seperut saya. Bayangkan, kalau setiap hari mereka harus bolak-balik seperti itu, berapa jumlah air bersih mereka habis dipakai hanya untuk cuci seragam?

Dengan kondisi badan yang menurun karena kelaparan dan kepanasan, akhirnya kami kembali ke kampus. Saya masih bersama Dida dan kakak2 cowok : Adhiet BW, Afne, Igoy. Bokir pulang pakai motor ke rumahnya. Walaupun mepet tapi saya sih santai-santai saja melihat jam. Pukul 1 lewat. Pasti telat praktikum sih ini, pikir saya.

SO GEBS-nya adalah mobil Kak Adhiet BW tiba-tiba MOGOK DI TENGAH JALAN di daerah Bojongsoang kalau nggak salah lihat papan-papan toko. Dengan perasaan nggak enak, saya memutuskan naik angkot demi mengejar praktikum yang sebenarnya sudah pasti telat. Benar-benar nggak enak meninggalkan kakak2 itu mengurusi mobil ya walaupun saya juga pasti gabut sih di sana. Dida juga. Malah ikut dia naik angkot sama saya, berhubung pasti gabut dan cewek sendiri nantinya.

Okelah akhirnya kami naik angkot dua kali menuju depan SMA 3 Bandung, lanjut angkot Kalapa-Dago. Dida terus ke Kanayakan [nggak praktikum shift Sabtu siang, dia] saya terus naik angkot Caheum-Ciroyom menuju jembatan Babakan Siliwangi, TKP [Tempat Kejadian Praktikum].

Dan waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.21

To Be Continued

Baduy, “Negara” Tanpa Kelaparan

copas dari milis

Cornelius Helmy dan C Anto Saptowalyono

Punggung Gunung Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (16/3) pagi, berangsur terang ketika matahari menyembul di langit timur. Udara masih dingin ketika satu demi satu warga mulai keluar dari pintu rumahnya. Aktivitas pagi masyarakat Baduy pun kembali berjalan. Asap keluar dari atap rumah warga, pertanda perempuan Baduy mempersiapkan makan dan bekal buat ke ladang. Sebagian perempuan lainnya menumbuk bulir padi dan biji kopi. Setelah semua beres, mereka bersama suami dan anak-anak berangkat ke ladang. Sementara perempuan yang tinggal di rumah mulai dengan aktivitas menenun.

Dari kejauhan di pinggir kampung, seorang lelaki berbaju putih terlihat memikul buntalan mendaki jalan setapak yang menanjak di Kampung Cipaler. Lelaki bernama Idong itu hendak pulang ke Desa Cibeo setelah malam sebelumnya menginap di Ciboleger untuk menjual buah. Baju putih yang dia kenakan adalah pakaian khas warga Baduy Dalam, yang tinggal di tiga kampung di Kanekes; yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Tak berselang lama, satu keluarga yang kesemuanya berpakaian hitam bergegas hendak ke ladang. Mereka adalah bagian dari masyarakat Baduy Luar yang tinggal di 56 kampung di Kanekes. Baju hitam adalah salah satu ciri khas pakaian mereka. Sepintas Desa Kanekes yang hingga Maret 2010 dihuni 11.175 jiwa warga Baduy ini tak beda dengan desa-desa lainnya. Mereka tinggal di rumah panggung, lantainya berada sekitar 50 sentimeter di atas tanah. Dindingnya bambu, atapnya anyaman daun kelapa.

Sejumlah literatur menyebut orang Baduy keturunan pengikut Kerajaan Padjadjaran dan mereka penduduk asli yang sangat perhatian terhadap lingkungan. Kekhasan permukiman Baduy terlihat dari bentuk rumah yang nyaris seragam. Hanya ada sedikit ruang yang tersisa antarbangunan rumah, sedangkan rumah-rumah Baduy umumnya tidak berjendela. Rumah mereka juga tidak memiliki jaringan listrik karena adat menabukan listrik.

Aturan adat berlandaskan nilai-nilai adat moyang mereka, yaitu tradisi Sunda Wiwitan. Tradisi itu menjadi pegangan dan pengetahuan masyarakat Baduy. Hingga saat ini adat tersebut masih tetap dijaga. Termasuk pula di antaranya falsafah yang tergambar dalam peribahasa Baduy, Lojor teu menuang dipotong, pondok teu menang disambung, kurang teu menang ditambah, leuwih teu menang dikurang. Arti harfiahnya adalah ”panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang”.

Sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam masih berjalan kaki ke mana pun mereka pergi, termasuk hingga ke Jakarta. Lain halnya dengan masyarakat di perkampungan Baduy Luar yang sudah mau naik ojek atau mobil angkutan antarkota ketika bepergian agak jauh dari desanya. ”Masyarakat Baduy tidak ada yang terlihat kaya, tapi juga tidak ada yang miskin. Di sini tidak ada pengangguran ataupun kelaparan,” ujar Jaro Pamarentahan (Kepala Pemerintahan) Baduy Dainah.

Meski banyak yang berprofesi sebagai perajin kain tenun, penjual gula aren, atau memiliki warung penjual barang kebutuhan keluarga sehari-hari, warga Baduy selalu menganggap bahwa berladang adalah pekerjaan utama dan kewajiban. Dalam berladang, mereka memiliki kebiasaan yang dijalankan turun-temurun. Mereka antimenggunakan pupuk pabrikan dan senyawa kimia pembasmi hama dan gulma. Warga Baduy Dalam hingga sekarang bahkan masih menabukan mandi menggunakan sabun dan sampo. Hal-hal semacam ini menghindarkan lingkungan, yang menjadi tempat mereka menggantungkan pendapatan harian mereka, dari pencemaran. Hingga sekarang pun mereka kukuh mempertahankan kawasan hutan dan tak hendak mengubahnya untuk kepentingan lain. ”Dari 5.136,8 hektar (ha) kawasan di Baduy, sekitar 3.000 hektar dipertahankan sebagai hutan untuk menjaga 120 titik mata air,” kata Jaro Dainah.

Ketika jumlah warga terus bertambah, kebutuhan ladang untuk bertanam padi pun meningkat. Alih-alih mengubah hutan lindung untuk ladang, sebagian warga Baduy lebih memilih membeli tanah di luar kawasan Baduy. Setidaknya 700 hektar ladang di luar kawasan Baduy saat ini dimiliki warga. ”Selain itu, juga banyak yang menyewa, lebih luas lagi dibandingkan yang sudah dibeli warga,” ujar Jaro Dainah.

Sistem bagi hasil dilakukan antara warga Baduy yang menyewa serta menggarap ladang dan pemilik tanah. Sekitar tahun 1980-an, tanaman albasia pun mulai banyak ditanam warga Baduy. Sekarang pun tanaman albasia yang bibitnya mulai ditanam di sela-sela padi ladang ini dipetik hasilnya oleh warga Baduy setiap lima tahun sekali ketika ladang selesai di-beura, dibiarkan tidak ditanami setelah lewat tiga kali musim panen. Kayu albasia hasil budidaya ini biasa dijual warga kepada bos pengumpul, yang sebagian juga orang Baduy, untuk kemudian dikirim ke pembeli di luar daerah. Sebatang kayu albasia umur lima tahun bisa laku Rp 100.000. Rata-rata sekali memanen albasia di ladang miliknya tiap orang bisa mengantongi penjualan Rp 5 juta-Rp 15 juta.

Keseharian warga dalam bekerja itu berjalan dalam bingkai adat yang terjaga. Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran Johan Iskandar mengatakan, Baduy mengenal dua sistem pemerintahan: nasional yang mengikuti aturan negara Indonesia dan adat yang mengikuti adat istiadat. Secara nasional, di Baduy ada Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes yang kini dijabat Dainah.

Sementara itu, pimpinan adat tertinggi masyarakat Baduy dipegang oleh tiga puun yang tinggal di tiga tempat Baduy Dalam. Puun Cikeusik mengurus keagamaan, Puun Cibeo mengatur hubungan dengan daerah luar, serta Puun Cikertawana mengurus pembinaan warga, kesejahteraan, dan keamanan masyarakat Baduy.

Dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku puun diatur ketat. Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran Kusnaka Adimihardja menjelaskan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy. Ia mengatakan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy dari dalam. Bahkan, hingga kepemilikan rumah, puun harus memiliki rumah paling sederhana. Mampu melayani masyarakatnya dengan baik adalah penghargaan terbesar seorang puun di Baduy. ”Inilah figur pemimpin sebenarnya. Masyarakat adat Baduy ibaratnya negara sejahtera ideal,” kata Kusnaka. Masa kekuasaan seorang puun tak pernah dibatasi aturan adat. Namun, seorang puun yang sudah merasa tak sanggup menjalankan amanah bisa meminta untuk segera diganti. Selain itu, pergantian seorang puun juga tergantung dari kondisi alam. Jika sering muncul bencana alam yang menimpa warga Baduy atau panen rakyat gagal terus, menjadi alasan kuat untuk turunnya seorang puun.

Warga Baduy meyakini keberhasilan pemimpin berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, mereka juga dikenal sebagai komunitas mandiri yang menghidupi diri sendiri, tetapi melimpahkan rezeki bagi warga sekitar mereka. Mahfudin, warga Kampung Cicakal, yang berada di luar kawasan Baduy, misalnya, tiap minggu pasti memboncengkan penumpang yang hendak berkunjung ke Baduy. Sekali mengantar dari Desa Kuranji ke Parigi, dia memperoleh Rp 30.000. Hila, seorang pemilik toko di kawasan Ciboleger, pun dapat mencari rezeki dengan menjual kerajinan dan kain khas Baduy kepada pengunjung. ”Kalau pas ramai pengunjung, seperti akhir pekan atau ketika liburan sekolah, per hari bisa ratusan ribu rupiah,” katanya. Warga Baduy membuktikan bahwa ada korelasi antara alam yang terjaga dan kehidupan yang sejahtera, bagi mereka dan bagi warga di sekitarnya.

(Buyung Wijaya Kusuma)

Karakter lagi, Karakter lagi

Berawal dari pembicaraan kecil saat mengejakan laporan Mekanika Fluida tentang karakteristik seseorang berdasarkan golongan darah, besoknya saya jadi penasaran dan niatan ketemu sama Mbah Google mau cari-cari info. Eh dapetlah dari web ini. Golongan darah saya A , dan saya menemukan karakter yang [istilahnya] ‘GW BANGET’ di web itu. Karakter apaan tuh?

Karakter Orang Bergolongan Darah A

Orang dengan golongan darah A memiliki kekuatan karakter yang mengakar kuat yang akan membantu mereka untuk tetap tenang dalam krisis ketika semua orang panik menghadapi situasi serupa. Mereka cenderung menghindari konfrontasi, dan sesungguhnya kurang nyaman berada di antara orang banyak. Mereka biasanya pemalu dan terkadang suka mengasingkan diri. Mereka mencari keharmonisan dan sangat sopan, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar cocok dengan orang lain. Mereka sangat bertanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka lebih suka mengerjakannya sendiri. Orang-orang dengan golongan darah ini selalu mengukir sukses dan sangat perfeksionis. Mereka juga sangat kreatif dan paling artistik di antara semua golongan darah yang ada karena kesensitifan mereka.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah  A

  • Jangan mengangkat topik yang konfrontatif, misalnya, topik kontroversial karena mereka orang yang tidak suka membuat konfrontasi dengan lawan bicara.
  • Gunakan kata-kata yang relatif sopan karena mereka sangat sensitif dan terkadang konservatif sehingga kata-kata yang tidak sesuai dengan standar kesopanan minimal akan dapat menyinggung mereka.
  • Jika menjawab usahakan dengan lengkap dan bermakna karena mereka adalah orang yang sangat sempurna dan kurang menyukai hal yang setengah-setengah.
  • Mintalah pandangan dan pendapat mereka karena mereka sangat kreatif untuk hal ini dan dengarkan dengan saksama ketika mereka menjelaskan.
  • Jangan melebihi mereka saat menyampaikan sesuatu. Artinya, jangan sampai mereka merasa dilampaui dalam hal kepintaran dan pengalaman, misalnya.
  • Hargai mereka dengan memuji seperlunya karena pujian yang berlebihan akan membuat mereka ragu dengan ketulusan si pemuji.

Sebagai tambahan, orang golongan darah A cenderung menyukai topik-topik yang bernuansa damai dan kooperatif. Mereka tidak menyukai topik yang berkaitan dengan sepak terjang atau kepribadian orang lain yang tidak ada parameter jelasnya. Mereka sangat sensitif, dalam arti setiap kata yang diterima oleh akal sehat mereka akan menjadi tolak ukur terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Untuk itu, lebih berhati-hatilah jika berhadapan dengan orang golongan darah A ini karena mereka sesungguhnya adalah pengamat yang luar biasa.

Terus, golongan darah lain gimana? Boleh deh saya kasih review-nya juga

Karakter Orang Bergolongan Darah B

Orang dengan golongan darah B merupakan orang yang paling praktis di antara semua golongan darah yang ada. Mereka adalah spesialis di bidang yang digelutinya. Ketika mereka memulai sebuah proyek, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memahami dan mencoba mengikuti semua petunjuk/arahan yang diperlukan untuk itu. Jika mengerjakan sesuatu, mereka selalu fokus kepada apa yang tengah dikerjakan. Mereka cenderung berpedoman pada tujuan dan mengejarnya sampai tuntas walau pun kelihatannya pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan. Mereka cenderung kurang kooperatif. Mereka lebih suka mengikuti peraturan dan gagasan mereka sendiri. Orang dengan golongan darah B memberikan perhatian lebih kepada pikiran daripada perasaan mereka, dan karenanya, terkadang kelihatannya dingin dan serius.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah B

Ada karakter ada gaya. Orang bergolongan darah B memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergolongan darah A. Mereka lebih praktis, egois, kreatif, optimis dan bebas dalam berpikir. Mereka juga memiliki kecenderungan mengerjakan segala sesuatu secara individual. Oleh karena itu, di Jepang, untuk membentuk sebuah tim yang kuat sehingga motto yang digagas John C. Maxwell: teamwork makes the dream work benar-benar menjadi kenyataan, orang golongan darah B ini biasanya kurang dilibatkan.

Gaya komunikasi dengan orang bergolongan darah B :

  • Mulailah pembicaraan dengan runtun, jangan melompat-lompat karena mereka kurang menyukai hal-hal yang tidak teratur.
  • Jangan memulai pembicaraan tanpa mengakhirinya.
  • Gunakan data-data akurat, bukan rekaan.
  • Jika mengajak kerjasama, pastikan bahwa mereka bersedia.
  • Berbicaralah kepada otaknya bukan hatinya. Gunakan lebih banyak fakta rasional daripada sosial.
  • Jangan menggunakan gaya bicara yang terburu-buru.

Orang bergolongan darah B lebih suka mendengarkan uraian rinci dan runtun. Mereka suka ada awal dan akhir dari sebuah percakapan. Karena mereka sangat perhatian dengan apa yang telah dimulai untuk dapat diakhiri. Mereka tidak suka orang yang berbicara secara tidak jelas dan tanpa pertimbangan rasional karena mereka lebih menggunakan nalar rasio-nya daripada perasaannya.

Karakter Orang Bergolongan Darah O

Orang-orang dengan golongan darah O adalah mereka yang tidak banyak ambil pusing, penuh semangat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka adalah orang yang paling fleksibel di antara semua golongan darah yang ada. Mereka akan dengan cepat memulai sebuah proyek namun mengalami masalah ketika melanjutkannya dan tidak jarang banyak juga yang dengan mudah menyerah di tengah jalan. Mereka terkadang bertingkah dan tidak terlalu dapat dijadikan sandaran. Mereka selalu mengatakan apa yang ada di pikiran mereka secara langsung. Mereka selalu jujur. Mereka menghargai pendapat orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. Selain itu, orang-orang bergolongan darah O ini memiliki rasa percaya diri yang sungguh kuat. Di Jepang, golongan darah ini merupakan golongan darah rata-rata orang disana.

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah O

  • Berbicaralah dengan semangat dan penuh vitalitas. Karena mereka kurang menyukai orang-orang yang terkesan lemah, letih, lesu, lemas, letoy, dan loyo yang dianggap tidak dapat mengikuti ritme mereka yang penuh dengan energi.
  • Jangan gunakan kata-kata negatif dan pesimis karena kelompok kata itu tidak terdapat dalam kamus mereka yang penuh dengan semangat positif dan optimis.
  • Ketika mengikat sebuah kontrak, pastikan dengan tegas bahwa mereka komit dengan apa yang telah disepakati dan dapat bertanggung jawab atas penyelesaiannya.
  • Berkatalah dengan jujur karena mereka juga demikian adanya. Sekali kebohongan terdeteksi, mereka tidak akan percaya lagi pada lain kesempatan.
  • Tunjukkan bahasa tubuh yang penuh keceriaan dan semangat.

Orang dengan golongan darah O paling suka berkomunikasi dengan mereka yang penuh semangat. Orang-orang yang tidak memiliki semangat hidup yang baik sulit menjadi teman dekat orang golongan ini. Karena mereka selalu semangat sejalan dengan vitalitas yang mereka miliki. Mereka akan dapat berkomunikasi berjam-jam dengan orang yang cocok dan dapat mengikuti ritme bicara mereka yang sangat optimistis dan motivatif.

Karakter Orang Bergolongan Darah AB

Orang dengan golongan darah AB susah dikelompokkan. Mereka dapat memiliki karakteristik di kedua ujung spektrum pada waktu bersamaan. Artinya, di satu sisi mereka pemalu, di sisi lain, sangat terbuka. Mereka dengan mudah mengubah satu sisi ke sisi yang lain. Mereka dapat dipercaya dan bertanggung jawab, namun tidak dapat bertanggung jawab jika terlalu banyak yang dituntut dari mereka. Mereka tidak keberatan membantu sepanjang sesuai dengan syarat mereka. Orang-orang dengan golongan darah ini sangat suka seni dan metafisika. AB juga dianggap sebagai tipe darah terburuk di Jepang. Mereka juga suka menentukan syarat sendiri dan berhak menggugurkannya jika tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka dikenal sangat sensitif dan penuh perhatian. Di Jepang, beberapa perusahaan membagi karyawan-karyawannya ke dalam kelompok kerja berdasarkan golongan darah, dan ironisnya, tidak seorang pun yang mau bekerjasama dengan kelompok golongan darah AB di Jepang  (Jangan terlalu sedih buat yang di Indonesia ya).

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah AB

Dengan karakter yang mudah berubah-ubah tergantung kondisi mood tertentu, orang-orang dengan golongan darah AB tentu masih dapat diambil ‘hatinya’ ketika kita berkomunikasi dengan mereka agar mencapai tujuan yang ingin kita raih. Gaya komunikasi yang perlu diterapkan adalah seperti tersebut di bawah ini:

  • Pertama-tama, ikuti dulu alur pembicaraan mereka.
  • Selanjutnya, berbicaralah secara tegas karena mereka mudah berubah-ubah.
  • Bicaralah tentang seni dan metafisika untuk memulai percakapan yang lebih panjang jika hal itu diinginkan.
  • Jika membuat janji, pastikan mereka memahaminya dan setuju.
  • Jangan ambil keputusan sepihak karena mereka termasuk orang yang suka menentukan sebuah keputusan secara sepihak. Diskusikanlah dengan sinergis.
  • Jangan terlalu banyak mengumbar kata dan janji karena mereka sulit mengingat, apa lagi menjalankan kewajiban yang semakin banyak.

Orang dengan golongan darah ini memang sedikit kurang beruntung di Jepang karena dianggap yang paling lemah dan tidak dapat dipercaya. Namun, hal ini tentu sangat kasuistis dan geografis. Hanya saja, dengan memahami karakteristik orang dengan golongan darah ini, banyak hal yang dapat dilakukan untuk tidak menuai kekecewaan nantinya di kemudian hari jika ternyata karakter itu benar adanya. Dan bagi mereka dengan golongan darah AB tentu dapat melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki hal-hal negatif yang benar sesuai dengan penjelasan di atas.

Ngapain Sih Dik Doank?

Kamu tahu? Sekitar pukul 10.00 pada tanggal 19 Februari 2010 ketika saya memasuki Aula Barat, saya sudah tahu akan menikmati sebuah momen yang cukup sayang kalau dilewatkan. Meskipun datang telat karena kuliah, setidaknya saya datang karena memang ada ketertarikan tersendiri melihat siapa yang omongannya akan saya dengarkan pagi itu.

Dik Doank, Kak Sano, Putri Pariwisata Indonesia, dan ada Manik-Laluna sebagai moderator. Moderator? Yap. Karena itu adalah salah satu acara talkshow GELAR PEDULI LINGKUNGAN 2010 bertemakan “Eco-lifestyle”. Overall, mungkin saya bisa katakan itu adalah salah satu talkshow paling oke di ITB yang pernah saya ikuti. Mungkin terdengar berlebihan tapi sumpah ini beneran.

Kalau lihat isinya, pastinya tulisan ini sudah out of date. Tapi justru dengan out of date-nya itu saya sekedar ingin mereview beberapa kalimat istimewa yang saya dapat selama 1 jam duduk dalam ruangan tersebut. Barangkali pada lupa. Ya meskipun sebagian besar hanya saya dapat dari Dik Doank yang SANGAT NIAT & WAH dalam penyampaiannya. Lagi-lagi, sekedar mereview buat kawan-kawan yang mungkin juga berhalangan hadir. Oke mulai saja ya.

Ada yang salah besar dalam dunia pendidikan kita

Dik Doank


Kalau anak-anak tahu keindahan, apa mereka akan buang sampah sembarangan?

Dik Doank


Kita tidak pernah berhasil kalau hidup tidak didasari pendidikan rasa yang diolah oleh seni

Dik Doank


Jangan sampai ITB hanya melahirkan orang-orang kalkulator

Dik Doank


Kita bukan bangsa pencipta kalau pendidikan kita terus seperti ini

Dik Doank


Yang paling penting dari musibah adalah hikmah

Dik Doank


Nikahilah penderitaan karena penderitaan itu adalah singgasana kebahagiaan

Dik Doank


Kalau bangsa kita sudah menang sepakbola, bangsa ini sudah beres

Dik Doank


Aku ingin masuk ITB, tapi tidak diterima.

Aku masuk IKJ, tapi inilah jalan hidupku.

Dik Doank


Orang yang mengatakan oang lain sombong adalah orang yang kurang wawasan

Dik Doank


Setiap kali kau dibicarakan orang lain, yakinlah kau telah berbuat kebajikan

Dik Doank


Habiskan air minummu di undangan

Manik-Laluna


Saya teh emang USA. Urang Sunda Asli

Manik-Laluna


Kita jangan memikirkan dunia, karena dunia sudah ada yang memikirkan.

Kita jangan memuliakan Allah, karena Dia sudah mulia.

Tapi mintalah karena kita butuh kemuliaan-Nya.

Dik Doank


Izinkan aku bernyanyi tidak di hadapanmu

(kemudian beliau membalikkan badan membelakangi penonton, dan melantunkan lagunya)

Dik Doank


CK : Oh iya. Barangkali ada kutipan yang kurang tepat, mohon dikoreksi ya. Terus kalau butuh pembicara, Dik Doank kayaknya memang orang yang top recommended.