Hari Kedua KP

Melaporkan dari ruangan 3×3 meter di desa Sukun. Hari ini hari kedua saya KP. Jadi, tadi siang saya diajak pembimbing buat lihat-lihat proses pengolahan limbahnya. Banyak nih limbahnya, ada yang padat ada yang cair. Yang padat itu serasah (daun pinus, bunga pinus, kayu pinus). Adapula yang cair dibagi-bagi jadi beberapa yaitu kotoran halus, air limbah, lumpur, dan getah pinusnya itu sendiri. Lalu perlakuannya masing-masing berbeda. Yang getah pinus dimasukin lagi ke dalam proses, yang air limbah diolah dalam IPAL, yang lumpur dibuang, yang kotoran halus alias jonjot diproses lagi jadi produk berkualitas rendah.

Tau gak? Melihat prosesnya saya kelabakan lho. Karena tema yang saya ajukan ternyata tidak adaaa. Maksudnya ada tapi pengolahannya sangat sederhanaaa. Yang limbah padat cuma dijadikan bahan bakar batu gamping.  Terus saya bingung deh. Kirain di sini limbah padatnya sudah punya sistem pengolahan sendiri untuk dibentuk atau diproses menjadi ‘sesuatu’. Eh ternyata cuma dilempar ke dalam perapian saja -______-

Tidak bisa menulis banyak-banyak deh akhirnya. Sekian.

15 Juni 2011 – 8an malam 

Hari Pertama KP

Melaporkan dari suatu ruangan di daerah terpencil di barat Jawa Timur. Saya, Sausan Atika Maesara baru saja melaksanakan satu hari sebuah kewajiban akademik yaitu Kerja Praktek (KP). Apa itu KP? Sebuah mata kuliah wajib semester depan (semester 7) 2 SKS yang intinya kita observasi selama minimal 1 bulan di perusahaan/industri tertentu untuk melihat proses tertentu yang berkaitan dengan bidang lingkup per-teknik lingkungan-an.

Saya mau cerita sedikit dulu tentang hari pertama saya menjalankan KP.

Di manakah itu? Saya KP di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Sukun di sebuah desa dalam Kab.Ponorogo, Jawa Timur. Tau? Ya, itu lho Kota Reyog.

Kenapa saya pilih di sini? Alasan utamanya adalah karena objeknya bukan migas atau tambang. Kedua, karena objeknya unik, maksudnya siapa sih anak ITB yang mau menjamah getah pinus, ya objek lain di luar migas dan tambang maksudnya? hehehe. Ketiga, karena malas ngurus administrasi blablabla, maklumlah ini pakai link dari ayah. Sebetulnya saya sangat ingin KP di pabrik tekstil, tapi karena faktor ketiga sangat mendominasi dan ada faktor urusan lain di kampus yang harus dipikirkan makanya gagal. Kecewa lah sama diri sendiri. Payah gw ya. Lain waktu deh lebih berjuang amin.

First Impression

Saya sampai di sini tadi pagi dan segera menuju rumah pegawai yang akan saya tinggali, namanya Pak & Bu Jarkasi. Beliau-beliau ini cuma tinggal berdua. Anak sulungnya tinggal di Makassar dan anak keduanya bekerja di pabrik tempat saya KP juga. Anak keduanya ini bernama Mbak Nita (umur sekitar 31 tahun), tinggal di rumah yang berbeda tapi masih 1 komplek di komplek pegawai sini.

PGT ini terletak desa Sukun, makanya namanya PGT Sukun. Bukan bagian dari kota, oleh karena itu sepi sekali di sini. Akses angkutan umum tidak ada, dan sekelilingnya sebagian besar hanya hutan kayu putih. Adapun rumah-rumah penduduk jarang dan letaknya berjauhan satu sama lain.

Pabriknya pun kecil ternyata. Saya kira gede. Ya, tapi semoga skupnya masih setara dengan teman-teman yang ke pabrik gede.

Kesimpulannya adalah : tempat KP saya terletak di desa ‘agak’ terpencil dan. Simple.

Sesampainya di rumah saya langsung taro barang, ramah tamah dan langsung ke pabrik. Bukan deng. Ke kantornya dulu. Pertama kalinya disambut oleh Pak Sarmanto alias Kaur (Kepala Urusan) Teknis. Beliau bilang nanti saya akan didampingi oleh Pak Dani alias asisten manager alias Kepala Pabrik hahaha gila.

Hari pertama langsung saya diajak keliling lihat proses produksi.

Jadi, pabrik ini merupakan (kalau dalam pohon, istilahnya) rantingnya sebuah pohon bernama Perhutani. Pabrik ini mengolah getah pinus menjadi produk gondorukem dan minyak terpentin. Penasaran? Silakan googling sendiri guys.

Prosesnya sederhana sekali dan mudah dimengerti. Membuat saya agak minder nih sama teman-teman lain yang perusahaannya pasti gede terus pengolahannya pasti rumit blablabla gitu. Ya semoga pikiran selintas ini cuma sementara.

Ma’em Murah Bro

Setelah lihat-lihat proses produksi, saya diajak makan siang oleh Pak Dani dengan ditemani Mbak Nita ke kota. Istilahnya kota cem dari kampung ‘aja hahaha, mau apalagi soalnya pabriknya di desa bukan di kota. Saya naik mobil Pak Dani. Lalu makan di rumah makan lesehan. Enak, anginnya banyak tapi sebelahnya cuma padang ilalang. Ya mungkin itu ya yang membuat udaranya makin sejuk.

Yang mengagetkan adalah, HARGANYA MURAH BET. Maksudnya, harganya harga standar warung-warung pinggiran di Bandung gitu. Padahal tempatnya bagus lho, ada tempat mainan anak kecilnya juga. Kata Pak Dani, “Murah kan? Rumah makan sama warung-warung kalau di sini sih harganya sama lho jadi mending makannya di rumah makan”

Oh saya kira yang di warung lebih murah lagi lho, kalau ayam goreng mungkin di rumah makan ini10 ribu saya kira di warung bisa sampai 6 ribu ternyata sama saja toh. Makanya akhirnya saya pesan ayam goreng, sayur asem dan jus strawberry. Ayam goreng harganya 10 ribu, sayur asem harganya 4 ribu, dan jusnya 4 ribu. Sama ya harganya kayak warung-warung pinggiran di Bandung.

Ternyata sayur asemnya SUPER BANYAK jadi nggak habis deh. Mana ada tomat sama wortelnya pula kan saya bingung biasanya cuma ada kacang panjang, kacang tanah, daun melinjo, melinjo, labu, sudah. Ini cemacem hahaha. Kalau kata Mbak Nita, itu sayur asemnya jawa. Kalau sayur asemnya sunda baru deh yang nggak pakai tomat sama wortel.

Nah di saat-saat menjelang mau pulang dengan piring yang sudah tak berisi, pastinya yang ditakutin seorang perantau adalah à DUIT. Ya, saya bingung ini siapa yang bakal bayar HAHAHA. Setelah ditanya ‘sudah?’ Pak Dani pergi ke kasir untuk bayar. Saya sampai sms mama, nanya kalau kayak gini duitnya nggak mesti diganti kan? Katro abis nih, nggak enak soalnya dibayarin hehehe.

Sekian tentang makanannya. Habis makan, pulang lagi naik mobil Pak Dani ke pabrik. Berhubung saya dibilang ‘pasti capek ya, mbak’ akhirnya saya nggak diajak ke lapangan lagi tapi disuruh ke kantor. Di kantor saya dikasi 1 kursi tersendiri di sebelah Mbak Nita dan seorang pegawai TU namanya Bu Yuni.

Seketika siang itu setelah saya duduki, Bu Yuni langsung menyuguhkan tempe goreng tipis-tipis yang sangat garing enak maknyus buat dimakan. Ples air putih. Jadi nggak enak lagi, pikir saya dalam hati. Terus bingung kan mau ngapain sambil menunggu jam 3 sore. Akhirnya saya cuma corat coret kertas deh.

Jam 3 Ke Atas

Jam 3 teng saya pulang ke rumah. Oiya saya belum cerita ya? Komplek perumahan pegawai dengan pabrik cuma 5 meter lho, jadi bisa bebas pulang sesuka hati. Kalau jalan kaki mungkin habis waktu sekitar 3 menitan. Saya pulang jalan kaki, niatnya sore ini mau beres-beres koper. Tadi pagi kan cuma ditaro di kamar.

Jadilah saya mendem di kamar dari jam 3 sampai 6, keluar hanya untuk wudlu dan mandi.

Pukul 6 lewat sedikit setelah shalat magrib, Bu Jar (panggilan buat si empunya rumah) ngetok-ngetok pintu ngajak makan malam. Makannya makan pecel, ayam, dan tempe. Tau kan kalau Ponorogo itu sebelahnya Madiun (I guess you’re not :p) otomatis pecelnya enak, ada ciri khasnya tersendiri. Untuk sayurnya, ada bunga turi-nya. Agak pahit tapi enak lah sebagai pelengkap. Toge-nya juga toge yang masih tunasnya kecil banget bro, jadi krenyes-krenyes gitu. Sambelnyaaa yang paling mantap. Enak deh pokoknya nikmat jengjet!

Saya makan berdua sama Bu Jar. Karena Pak Jar sedang ke pabrik. Urusan pabrik memabrik nanti sajala di postingan yang lain.

Nah sambil makan itu saya mikir nih ceritanya dan faktanya betulan mikir sih. Dalam hati saya berharap ini makanannya bukan ‘diada-adain’. Ya taulah maksudnya, kalau misalnya kedatangan tamu apalagi tamu dari kota wah kan maunya menjamu dengan sebaik-baiknya, tapi semoga nggak ya, Bu? Seadanya saja saya juga wong Indonesia tulen kok sukanya mangan sayur.

Habis makan saya nemenin Bu Jar nonton TV dulu. Bu Jar nontonnya sinetron RCTI, apa ya itu? Saya nggak afal abisnya nggak pernah nonton -__________-

Pas jam 8an saya ke kamar mandi deh buat wudlu dan sekalian minta ijin mau langsung tidur. Capek dari pagi belum tidur. Pas sampai di kamar, mendekati paragraf-paragraf terakhir dari postingan ini, saya shalat terus menyalakan laptop dan menemukan fakta bahwasanya MODEM SAYA NGGAK JALAN, karena nggak ada sinyal. Nol besar. Hiks.

Ya sudah deh. Postingan pertama ini saya simpan sampai nanti ketemu internet.

Bye. Goodnight. Have a nice dream. Jangan lupa pasang weker.

Salam remang-remang (lampu tidurnya) dari kamar depan

14 Juni 2011 – 20.56

Secuil Tentang Babakan Siliwangi

“Hak atas lingkungan hidup yang sehat

adalah hak asasi manusia.”

Babakan Siliwangi merupakan sebuah lahan yang terletak di timur laut kampus ITB. Terbentang dari arah Sabuga sampai pangkalan jembatan ke arah Ciumbuleuit. Pada dekade 1980-an, Babakan Siliwangi masih berupa petak-petak lahan hijau yang diramaikan oleh pepohonan dan semak-semak. Di dalamnya terdapat pula aktivitas seni yang dilakukan oleh para seniman, dan biasa dikunjungi oleh warga sekitar. Hingga pada akhir 1990-an, Pemerintah Kota mendirikan restoran dengan jalur memanjang pada lahan tersebut. Restoran berdesain rumah panggung etnik khas sunda, dengan taman, kolam air mancur, dan jalan setapak.

Napak Tilas

Babakan Siliwangi merupakan salah satu hutan kota yang sesungguhnya perlu dikelola. Hingga PemKot ahirnya memutuskan untuk membangun restoran di lahan tersebut. Pada awal dekade 2000-an, restoran yang didirikan PemKot bangkrut. Bangunan terbengkalai.

Bangunan Kawasan Restoran yang Terbengkalai

Tahun 2003, beberapa bom molotov diluncurkan mengarah pada restoran. Akibatnya, bangunan yang terbengkalai tersebut habis terbakar. Memang tidak terdapat apa-apa lagi di sana. Akan tetapi, warga sekitar masih menggunakan lahan tersebut bahkan memberdayakannya kembali melalui kegiatan-kegiatan sosial seperti mengajar anak TK, melukis di alam terbuka, dan penanaman pohon.

Tidak diketahui oknum mana yang melemparkan bom Molotov, seolah hal tersebut menjadi cikal bakal munculnya konflik kepentingan. Tak berapa lama, PT. EGI (PT. Esa Gemilang Indah) meminta PemKot untuk menjual lahan tersebut kepada mereka. PT.EGI merupakan anak perusahaan Istana Group dan trademark yang sudah terbangun, ya sudah menjadi rahasisa umum, Istana Group adalah perusahaan yang khusus mendirikan bangunan-bangunan komersil seperti hotel dan apartemen, serta mall.

Dalam perujukannya, PT.EGI berencana membangun restoran. Meminta izin memang sulit, tapi ketika izin sudah didapat maka akan mudah untuk melakukan peruahan terhadap desain awal. Jadi, wajar saja apabila banyak pihak tidak mampu percaya bahwa PT.EGI akan membangunnya menjadi restoran ‘saja’.

Namun, izin akhirnya dikeluarkan juga oleh PemKot kepada PT.EGI.

Entah apa yang ada di benak para bikorat serta para wakil rakyat Kota Bandung, ketika memutuskan Babakan Siliwangi kembali akan dibangun menjadi kawasan komersial, ditengah minimnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung.

Sedikit info. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007, mewajibkan setiap kota harus memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari luas wilayah kotanya. Dalam Perda No. 3 tahun 2006 tentang penataan ruang dan wilayah Kota Bandung, mencantumkan bahwa RTH di Kota Bandung yang harus dicapai sebesar 10 %. Sedangkan yang ada saat ini tidak lebih dari 6% saja. Itu pun tidak memiliki kualifikasi sebagai RTH.

[Kiri] Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat. [Kanan] Pohon kecil yang Ditebangi. Kira-kira Segitu Tingginya.

Sanggar Olah Seni

SOS merupakan beberapa bangunan yang terletak di samping Kantor Kelurahan. Sanggar Olah Seni didirikan sejak tahun 1982, dengan pencetusnya senior-senior seperti Anan Sumarna dkk. Mereka berpendapat bahwa kawasan Baksil merupakan tempat yang representatif untuk berkarya.

Para leluhur memutar otak untuk mencari modal agar dapat membangun sanggar. Akhirnya, usaha dilakukan dengan cara mengumpulkan tape untuk diekspor ke Jepang. Namun, hasil yang didapat tidak mencukupi modal awal perkiraan. Para founding father akhirnya menyusun proposal untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota agar bisa mendapatkan dana APBN Pusat.

Sanggar Olah Seni sendiri diberi nama oleh alm. Otto Iskandar dan disahkan oleh Menteri Pariwisata saat itu. Hingga saat ini, anggotanya melebihi 800 seniman aktif maupun nonaktif, menjadikannya sanggar seni terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2002, mulai terwacanakan isu bahwa dalam kawasan Baksil akan dilakukan pemekaran restoran dan dibangun kondominium. Termasuk sanggar, saat itu diajukan untuk diganti dengan 7 buah kios di Taman Sari. Namun, secara tegas para anggota menolak karena hal tersebut akan mendegradasikan tujuan diadakannya sanggar tersebut. Toh seni itu tidak melulu komersil, akan tetapi juga diterapkannya pendidikan seni rupa untuk masyarakat yang umumnya murid-murid TK atau SD.

ITB Sebagai Pencetus Komersialisasi Baksil?

Pada akhir tahun 90-an, ITB membeli sebagian lahan di Baksil untuk dibangun sebuah gedung pementasan karya, yang sekarang kita kenal sebagai Sasana Budaya Ganesha serta lahan untuk penyediaan sarana dan prasarana olahraga yakni Sarana Olahraga Ganesha.

Sedikit gelitik, mungkin. Namun, memang asal mula lahan Baksil ternyata mampu diproyeksikan sebagai kawasan komersil ialah dengan pembangunan kedua proyek tersebut. Sabuga yang dikhususkan untuk mahasiswa ITB, tapi pada kenyataannya apabila ingin menyewanya, mahasiswa tetap harus membayar mahal. Hmm…

Status Baksil

Kepemilikan Baksil saat ini masih dipegang oleh PT. EGI. Sesuai peraturan perndang-undangan, pemilik lahan wajib melakukan pengelolaan terhadap lahan yang dimilikinya. Entah dibuat taman, perkebunan, atau pembangunan infrastruktur lain. Namun, dalam keberjalanannya seperti kita tahu, tidak ada perubahan signifikan atas visual lahan Baksil tersebut.

Kecuali pada tanggal 12 Mei 2011 lalu, beberapa pohon di Baksil ditebangi dan telah ditanami petak-petak (berupa bambu setinggi kurang lebih 30 cm). Media menyebutkan bahwa pelaku penebangan tersebut berasal dari forum yang concern terhadap Baksil. Mereka memberi alasan bahwa semak-semak perlu dibersihkan agar Baksil sendiri tidak menimbulkan suasana seram bagi masyarakat sekitarnya. Sementara dalam ekspedisi langsung ke tempat, bukan hanya semak yang dibersihkan akan tetapi juga pohon-pohon kecil.

Sayangnya menurut Sawung, seorang aktivis WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), beliau menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya forum peduli Baksil yang tiba-tiba terbentuk. Orang yang menebangi pohon-pohon tersebut terlihat seperti orang asing. Karena LSM maupun komunitas-komunitas yang concern terhadap Baksil sejak awal, satu sama lain sudah saling mengenal. Toh isu ini sudah diangkat dan pernah menjadi pembahasan LSM & komunitas pecinta lingkungan sejak awal tahun 2000-an.

Alih Fungsi Baksil

Di Bandung sendiri, lahan hijau yang tersisa hanyalah di daerah Baksil dan Cilaki. Apabila Baksil dialihfungsikan dari komponen ‘hijau’ menjadi ‘tidak hijau’ pada peta, dalam arti mengubahnya dari RTH menjadi lahan penduduk atau lahan komersil, maka produksi oksigen untuk Bandung akan semakin berkurang. Akibatnya?

Bandung makin panas! Lahan komersil pastinya menjadi cikal bakal kemacetan! Debu tidak ada yang menyaring! Kebebasan menghirup udara segar tak terwujud! Ketersediaan akan oksigen berkurang! Dan pemukiman di bawah Baksil pasti kebanjiran karena limpasan air hujan semakin cepat turun ke bawah dan tidak terinfiltrasi (terserap) ke dalam tanah!

Sudah siapkah kita dengan keruwetan tersebut?

Sumber :

Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat

Pak Susantono, Sekertaris Sanggar Olah Seni

Berbagai sumber dari internet