Persepsi Tentang Obral Janji

Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Hari Pertama KP

Melaporkan dari suatu ruangan di daerah terpencil di barat Jawa Timur. Saya, Sausan Atika Maesara baru saja melaksanakan satu hari sebuah kewajiban akademik yaitu Kerja Praktek (KP). Apa itu KP? Sebuah mata kuliah wajib semester depan (semester 7) 2 SKS yang intinya kita observasi selama minimal 1 bulan di perusahaan/industri tertentu untuk melihat proses tertentu yang berkaitan dengan bidang lingkup per-teknik lingkungan-an.

Saya mau cerita sedikit dulu tentang hari pertama saya menjalankan KP.

Di manakah itu? Saya KP di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Sukun di sebuah desa dalam Kab.Ponorogo, Jawa Timur. Tau? Ya, itu lho Kota Reyog.

Kenapa saya pilih di sini? Alasan utamanya adalah karena objeknya bukan migas atau tambang. Kedua, karena objeknya unik, maksudnya siapa sih anak ITB yang mau menjamah getah pinus, ya objek lain di luar migas dan tambang maksudnya? hehehe. Ketiga, karena malas ngurus administrasi blablabla, maklumlah ini pakai link dari ayah. Sebetulnya saya sangat ingin KP di pabrik tekstil, tapi karena faktor ketiga sangat mendominasi dan ada faktor urusan lain di kampus yang harus dipikirkan makanya gagal. Kecewa lah sama diri sendiri. Payah gw ya. Lain waktu deh lebih berjuang amin.

First Impression

Saya sampai di sini tadi pagi dan segera menuju rumah pegawai yang akan saya tinggali, namanya Pak & Bu Jarkasi. Beliau-beliau ini cuma tinggal berdua. Anak sulungnya tinggal di Makassar dan anak keduanya bekerja di pabrik tempat saya KP juga. Anak keduanya ini bernama Mbak Nita (umur sekitar 31 tahun), tinggal di rumah yang berbeda tapi masih 1 komplek di komplek pegawai sini.

PGT ini terletak desa Sukun, makanya namanya PGT Sukun. Bukan bagian dari kota, oleh karena itu sepi sekali di sini. Akses angkutan umum tidak ada, dan sekelilingnya sebagian besar hanya hutan kayu putih. Adapun rumah-rumah penduduk jarang dan letaknya berjauhan satu sama lain.

Pabriknya pun kecil ternyata. Saya kira gede. Ya, tapi semoga skupnya masih setara dengan teman-teman yang ke pabrik gede.

Kesimpulannya adalah : tempat KP saya terletak di desa ‘agak’ terpencil dan. Simple.

Sesampainya di rumah saya langsung taro barang, ramah tamah dan langsung ke pabrik. Bukan deng. Ke kantornya dulu. Pertama kalinya disambut oleh Pak Sarmanto alias Kaur (Kepala Urusan) Teknis. Beliau bilang nanti saya akan didampingi oleh Pak Dani alias asisten manager alias Kepala Pabrik hahaha gila.

Hari pertama langsung saya diajak keliling lihat proses produksi.

Jadi, pabrik ini merupakan (kalau dalam pohon, istilahnya) rantingnya sebuah pohon bernama Perhutani. Pabrik ini mengolah getah pinus menjadi produk gondorukem dan minyak terpentin. Penasaran? Silakan googling sendiri guys.

Prosesnya sederhana sekali dan mudah dimengerti. Membuat saya agak minder nih sama teman-teman lain yang perusahaannya pasti gede terus pengolahannya pasti rumit blablabla gitu. Ya semoga pikiran selintas ini cuma sementara.

Ma’em Murah Bro

Setelah lihat-lihat proses produksi, saya diajak makan siang oleh Pak Dani dengan ditemani Mbak Nita ke kota. Istilahnya kota cem dari kampung ‘aja hahaha, mau apalagi soalnya pabriknya di desa bukan di kota. Saya naik mobil Pak Dani. Lalu makan di rumah makan lesehan. Enak, anginnya banyak tapi sebelahnya cuma padang ilalang. Ya mungkin itu ya yang membuat udaranya makin sejuk.

Yang mengagetkan adalah, HARGANYA MURAH BET. Maksudnya, harganya harga standar warung-warung pinggiran di Bandung gitu. Padahal tempatnya bagus lho, ada tempat mainan anak kecilnya juga. Kata Pak Dani, “Murah kan? Rumah makan sama warung-warung kalau di sini sih harganya sama lho jadi mending makannya di rumah makan”

Oh saya kira yang di warung lebih murah lagi lho, kalau ayam goreng mungkin di rumah makan ini10 ribu saya kira di warung bisa sampai 6 ribu ternyata sama saja toh. Makanya akhirnya saya pesan ayam goreng, sayur asem dan jus strawberry. Ayam goreng harganya 10 ribu, sayur asem harganya 4 ribu, dan jusnya 4 ribu. Sama ya harganya kayak warung-warung pinggiran di Bandung.

Ternyata sayur asemnya SUPER BANYAK jadi nggak habis deh. Mana ada tomat sama wortelnya pula kan saya bingung biasanya cuma ada kacang panjang, kacang tanah, daun melinjo, melinjo, labu, sudah. Ini cemacem hahaha. Kalau kata Mbak Nita, itu sayur asemnya jawa. Kalau sayur asemnya sunda baru deh yang nggak pakai tomat sama wortel.

Nah di saat-saat menjelang mau pulang dengan piring yang sudah tak berisi, pastinya yang ditakutin seorang perantau adalah à DUIT. Ya, saya bingung ini siapa yang bakal bayar HAHAHA. Setelah ditanya ‘sudah?’ Pak Dani pergi ke kasir untuk bayar. Saya sampai sms mama, nanya kalau kayak gini duitnya nggak mesti diganti kan? Katro abis nih, nggak enak soalnya dibayarin hehehe.

Sekian tentang makanannya. Habis makan, pulang lagi naik mobil Pak Dani ke pabrik. Berhubung saya dibilang ‘pasti capek ya, mbak’ akhirnya saya nggak diajak ke lapangan lagi tapi disuruh ke kantor. Di kantor saya dikasi 1 kursi tersendiri di sebelah Mbak Nita dan seorang pegawai TU namanya Bu Yuni.

Seketika siang itu setelah saya duduki, Bu Yuni langsung menyuguhkan tempe goreng tipis-tipis yang sangat garing enak maknyus buat dimakan. Ples air putih. Jadi nggak enak lagi, pikir saya dalam hati. Terus bingung kan mau ngapain sambil menunggu jam 3 sore. Akhirnya saya cuma corat coret kertas deh.

Jam 3 Ke Atas

Jam 3 teng saya pulang ke rumah. Oiya saya belum cerita ya? Komplek perumahan pegawai dengan pabrik cuma 5 meter lho, jadi bisa bebas pulang sesuka hati. Kalau jalan kaki mungkin habis waktu sekitar 3 menitan. Saya pulang jalan kaki, niatnya sore ini mau beres-beres koper. Tadi pagi kan cuma ditaro di kamar.

Jadilah saya mendem di kamar dari jam 3 sampai 6, keluar hanya untuk wudlu dan mandi.

Pukul 6 lewat sedikit setelah shalat magrib, Bu Jar (panggilan buat si empunya rumah) ngetok-ngetok pintu ngajak makan malam. Makannya makan pecel, ayam, dan tempe. Tau kan kalau Ponorogo itu sebelahnya Madiun (I guess you’re not :p) otomatis pecelnya enak, ada ciri khasnya tersendiri. Untuk sayurnya, ada bunga turi-nya. Agak pahit tapi enak lah sebagai pelengkap. Toge-nya juga toge yang masih tunasnya kecil banget bro, jadi krenyes-krenyes gitu. Sambelnyaaa yang paling mantap. Enak deh pokoknya nikmat jengjet!

Saya makan berdua sama Bu Jar. Karena Pak Jar sedang ke pabrik. Urusan pabrik memabrik nanti sajala di postingan yang lain.

Nah sambil makan itu saya mikir nih ceritanya dan faktanya betulan mikir sih. Dalam hati saya berharap ini makanannya bukan ‘diada-adain’. Ya taulah maksudnya, kalau misalnya kedatangan tamu apalagi tamu dari kota wah kan maunya menjamu dengan sebaik-baiknya, tapi semoga nggak ya, Bu? Seadanya saja saya juga wong Indonesia tulen kok sukanya mangan sayur.

Habis makan saya nemenin Bu Jar nonton TV dulu. Bu Jar nontonnya sinetron RCTI, apa ya itu? Saya nggak afal abisnya nggak pernah nonton -__________-

Pas jam 8an saya ke kamar mandi deh buat wudlu dan sekalian minta ijin mau langsung tidur. Capek dari pagi belum tidur. Pas sampai di kamar, mendekati paragraf-paragraf terakhir dari postingan ini, saya shalat terus menyalakan laptop dan menemukan fakta bahwasanya MODEM SAYA NGGAK JALAN, karena nggak ada sinyal. Nol besar. Hiks.

Ya sudah deh. Postingan pertama ini saya simpan sampai nanti ketemu internet.

Bye. Goodnight. Have a nice dream. Jangan lupa pasang weker.

Salam remang-remang (lampu tidurnya) dari kamar depan

14 Juni 2011 – 20.56

Emosional !!! – Eliana, serial anak-anak mamak

A gift for my lovely nephew

Adalah bunyi kalimat yang tertulis di halaman pertama novel saya berjudul ELIANA : serial ke-4 anak-anak mamak, karangan Tere Liye. Eliana ditulis oleh Tere Liye, tahu? Yang mengarang “Moga Bunda Disayang Allah” dan beberapa novel anak lainnya. Dan tante saya namanya Eliana, sesuai dengan judul novelnya, makanya mungkin buku itu diberikan ke saya, bukan dalam rangka apa-apa tapi memang kayaknya tante saya mau ngasih ‘aja.

 

Novel ini mengambil tokoh utamanya seorang anak sulung sebuah keluarga sederhana di daerah pedalaman yang bernama Eliana. Ia tinggal bersama Mamak, Bapak, dan ketiga adiknya, Pukat, Burlian, Amelia.

Isinya mensuasanakan kehidupan sederhana keluarga dengan watak ingin tahu, kepolosan, dan kenakalan anak-anak yang dibalut oleh cerita tentang petualangan, proses pembelajaran, dan pemahaman yang baik atas kehidupan bermasyarakat.

Kisah dalam novel ini dimulai ketika suatu hari Eliana diajak Bapak ke Kota Provinsi untuk sekedar melihat bagaimana perawakan kota besar. Namun, sesungguhnya Syahdan, nama Bapak, serta beberapa tokoh desa akan melaksanakan negosiasi dengan Johan, pemilik perusahaan tambang pasir yang ingin mengambil alih lahan kampung yang menjadi sasaran lokasi penambangan.

Eliana yang sesungguhnya tak diundang dalam pertemuan, yang seharusnya menunggu di penginapan, bersikeras menyusul Bapak. Tak sengaja mendengar percakapan dalam ruangan negosiasi, Eliana yang tak menerima Bapaknya direndahkan oleh Johan menyebu masuk ruangan dan memaki pemilik perusahaan tersebut. Lantas, dimulailah kisah dalam novel ini.

Inti utama perjalanan cerita adalah bagaimana Eliana dan teman-temannya yang kemudian mendirikan geng “Empat Buntal” berusaha merebut kembali tanah kampung dari eksploitasi oleh perusahaan tambang pasir milik Johan. Ala anak kecil, pastinya.

Konflik yang dimunculkan bermacam-macam. Contohnya adalah “Empat Buntal” yang berusaha mengusik para pekerja tambang dengan menaruh paku-paku agar ban traktor kempes, sampai usaha membakar traktor menggunakan balon kecil berisi minyak tanah yang berakibat pada terbunuhnya Marhotap dalam pengejaran pekerja tambang. Marhotap adalah salah satu anggota Empat Buntal.

Di luar inti cerita, novel ini disuguhi oleh berbagai pembelajaran moral dalam berkehidupan. Misalnya, persahabatan yang diwujudkan oleh solidnya Empat Buntal, kasih sayang Mamak (ibu) ketika Eliana kabur dari rumah, semangat hidup meski dalam kesederhanaan yang disiratkan oleh Pak Bin, guru SD Eliana, serta banyak ajaran-ajaran lain yang tersirat hikmahnya.

.

Emosional. Begitu pendapat saya terhadap isinya.

Mungkin karena saya sudah bukan anak kecil lagi, sudah bosan dengan pelajaran Kewarganegaraan, maka berbagai pelajaran moral berkehidupan yang dituliskan dalam novel ini seperti menjadi hal yang lumrah. Namanya juga novel anak-anak.

Yang menarik adalah bagaimana Tere Liye berhasil menuturkan, atau menggugah lebih tepatnya, mengenai sudut pandang rakyat yang merasa kehilangan haknya karena tanahnya dieksploitasi sebuah perusahaan. Berlebihan, mungkin hehehe, kalau mas/jeng rasa. Tapi toh novel ini yang membuat saya lebih aware sedikit terhadap Baksil! Lagi-lagi lebay, hehehe.

Karena novel ini kasusnya hampir sama dengan Baksil. Tentang lahan yang tidak seharusnya dieksploitasi, dijadikan lahan komersil, karena apa? Mengganggu keseimbangan alam. Menguntungkan sepihak.

Novel ini saya baca tak berapa lama sebelum tanggal 12 Mei, di mana Baksil tiba-tiba kedatangan oknum yang mengaku ‘peduli Baksil’ tapi nyatanya malah menebang pohon kecil (pohon kecil tuh artinya masih muda umurnya, belum layak ditebang, guys) dan memasang petak-petak bambu di sana.

Emosional. Makanya saya sebut begitu :p

.

Di luar ke-emosional-an tersebut, sepertinya novel ini memang a-must-read, baik bagi anak-anak, orang tua, para pecinta alam, remaja-remaja nganggur yang kehilangan semangat hidup #lho, kakek-nenek yang mau mengenang sejarah kampungnya, guru SD.

Atau orang-orang yang terlalu berorientasi dengan oil & gas or mine, whatever lah supaya kalian-kalian tahu tuh kalau gaji hasil kerja di pertambangan bukan segalanya #eh jadi curhat tentang trend jurusan :p

Overall, silakan dibaca dan selamat menikmati penuturan jujur di dalamnya :)

Secuil Tentang Babakan Siliwangi

“Hak atas lingkungan hidup yang sehat

adalah hak asasi manusia.”

Babakan Siliwangi merupakan sebuah lahan yang terletak di timur laut kampus ITB. Terbentang dari arah Sabuga sampai pangkalan jembatan ke arah Ciumbuleuit. Pada dekade 1980-an, Babakan Siliwangi masih berupa petak-petak lahan hijau yang diramaikan oleh pepohonan dan semak-semak. Di dalamnya terdapat pula aktivitas seni yang dilakukan oleh para seniman, dan biasa dikunjungi oleh warga sekitar. Hingga pada akhir 1990-an, Pemerintah Kota mendirikan restoran dengan jalur memanjang pada lahan tersebut. Restoran berdesain rumah panggung etnik khas sunda, dengan taman, kolam air mancur, dan jalan setapak.

Napak Tilas

Babakan Siliwangi merupakan salah satu hutan kota yang sesungguhnya perlu dikelola. Hingga PemKot ahirnya memutuskan untuk membangun restoran di lahan tersebut. Pada awal dekade 2000-an, restoran yang didirikan PemKot bangkrut. Bangunan terbengkalai.

Bangunan Kawasan Restoran yang Terbengkalai

Tahun 2003, beberapa bom molotov diluncurkan mengarah pada restoran. Akibatnya, bangunan yang terbengkalai tersebut habis terbakar. Memang tidak terdapat apa-apa lagi di sana. Akan tetapi, warga sekitar masih menggunakan lahan tersebut bahkan memberdayakannya kembali melalui kegiatan-kegiatan sosial seperti mengajar anak TK, melukis di alam terbuka, dan penanaman pohon.

Tidak diketahui oknum mana yang melemparkan bom Molotov, seolah hal tersebut menjadi cikal bakal munculnya konflik kepentingan. Tak berapa lama, PT. EGI (PT. Esa Gemilang Indah) meminta PemKot untuk menjual lahan tersebut kepada mereka. PT.EGI merupakan anak perusahaan Istana Group dan trademark yang sudah terbangun, ya sudah menjadi rahasisa umum, Istana Group adalah perusahaan yang khusus mendirikan bangunan-bangunan komersil seperti hotel dan apartemen, serta mall.

Dalam perujukannya, PT.EGI berencana membangun restoran. Meminta izin memang sulit, tapi ketika izin sudah didapat maka akan mudah untuk melakukan peruahan terhadap desain awal. Jadi, wajar saja apabila banyak pihak tidak mampu percaya bahwa PT.EGI akan membangunnya menjadi restoran ‘saja’.

Namun, izin akhirnya dikeluarkan juga oleh PemKot kepada PT.EGI.

Entah apa yang ada di benak para bikorat serta para wakil rakyat Kota Bandung, ketika memutuskan Babakan Siliwangi kembali akan dibangun menjadi kawasan komersial, ditengah minimnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung.

Sedikit info. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007, mewajibkan setiap kota harus memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari luas wilayah kotanya. Dalam Perda No. 3 tahun 2006 tentang penataan ruang dan wilayah Kota Bandung, mencantumkan bahwa RTH di Kota Bandung yang harus dicapai sebesar 10 %. Sedangkan yang ada saat ini tidak lebih dari 6% saja. Itu pun tidak memiliki kualifikasi sebagai RTH.

[Kiri] Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat. [Kanan] Pohon kecil yang Ditebangi. Kira-kira Segitu Tingginya.

Sanggar Olah Seni

SOS merupakan beberapa bangunan yang terletak di samping Kantor Kelurahan. Sanggar Olah Seni didirikan sejak tahun 1982, dengan pencetusnya senior-senior seperti Anan Sumarna dkk. Mereka berpendapat bahwa kawasan Baksil merupakan tempat yang representatif untuk berkarya.

Para leluhur memutar otak untuk mencari modal agar dapat membangun sanggar. Akhirnya, usaha dilakukan dengan cara mengumpulkan tape untuk diekspor ke Jepang. Namun, hasil yang didapat tidak mencukupi modal awal perkiraan. Para founding father akhirnya menyusun proposal untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota agar bisa mendapatkan dana APBN Pusat.

Sanggar Olah Seni sendiri diberi nama oleh alm. Otto Iskandar dan disahkan oleh Menteri Pariwisata saat itu. Hingga saat ini, anggotanya melebihi 800 seniman aktif maupun nonaktif, menjadikannya sanggar seni terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2002, mulai terwacanakan isu bahwa dalam kawasan Baksil akan dilakukan pemekaran restoran dan dibangun kondominium. Termasuk sanggar, saat itu diajukan untuk diganti dengan 7 buah kios di Taman Sari. Namun, secara tegas para anggota menolak karena hal tersebut akan mendegradasikan tujuan diadakannya sanggar tersebut. Toh seni itu tidak melulu komersil, akan tetapi juga diterapkannya pendidikan seni rupa untuk masyarakat yang umumnya murid-murid TK atau SD.

ITB Sebagai Pencetus Komersialisasi Baksil?

Pada akhir tahun 90-an, ITB membeli sebagian lahan di Baksil untuk dibangun sebuah gedung pementasan karya, yang sekarang kita kenal sebagai Sasana Budaya Ganesha serta lahan untuk penyediaan sarana dan prasarana olahraga yakni Sarana Olahraga Ganesha.

Sedikit gelitik, mungkin. Namun, memang asal mula lahan Baksil ternyata mampu diproyeksikan sebagai kawasan komersil ialah dengan pembangunan kedua proyek tersebut. Sabuga yang dikhususkan untuk mahasiswa ITB, tapi pada kenyataannya apabila ingin menyewanya, mahasiswa tetap harus membayar mahal. Hmm…

Status Baksil

Kepemilikan Baksil saat ini masih dipegang oleh PT. EGI. Sesuai peraturan perndang-undangan, pemilik lahan wajib melakukan pengelolaan terhadap lahan yang dimilikinya. Entah dibuat taman, perkebunan, atau pembangunan infrastruktur lain. Namun, dalam keberjalanannya seperti kita tahu, tidak ada perubahan signifikan atas visual lahan Baksil tersebut.

Kecuali pada tanggal 12 Mei 2011 lalu, beberapa pohon di Baksil ditebangi dan telah ditanami petak-petak (berupa bambu setinggi kurang lebih 30 cm). Media menyebutkan bahwa pelaku penebangan tersebut berasal dari forum yang concern terhadap Baksil. Mereka memberi alasan bahwa semak-semak perlu dibersihkan agar Baksil sendiri tidak menimbulkan suasana seram bagi masyarakat sekitarnya. Sementara dalam ekspedisi langsung ke tempat, bukan hanya semak yang dibersihkan akan tetapi juga pohon-pohon kecil.

Sayangnya menurut Sawung, seorang aktivis WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), beliau menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya forum peduli Baksil yang tiba-tiba terbentuk. Orang yang menebangi pohon-pohon tersebut terlihat seperti orang asing. Karena LSM maupun komunitas-komunitas yang concern terhadap Baksil sejak awal, satu sama lain sudah saling mengenal. Toh isu ini sudah diangkat dan pernah menjadi pembahasan LSM & komunitas pecinta lingkungan sejak awal tahun 2000-an.

Alih Fungsi Baksil

Di Bandung sendiri, lahan hijau yang tersisa hanyalah di daerah Baksil dan Cilaki. Apabila Baksil dialihfungsikan dari komponen ‘hijau’ menjadi ‘tidak hijau’ pada peta, dalam arti mengubahnya dari RTH menjadi lahan penduduk atau lahan komersil, maka produksi oksigen untuk Bandung akan semakin berkurang. Akibatnya?

Bandung makin panas! Lahan komersil pastinya menjadi cikal bakal kemacetan! Debu tidak ada yang menyaring! Kebebasan menghirup udara segar tak terwujud! Ketersediaan akan oksigen berkurang! Dan pemukiman di bawah Baksil pasti kebanjiran karena limpasan air hujan semakin cepat turun ke bawah dan tidak terinfiltrasi (terserap) ke dalam tanah!

Sudah siapkah kita dengan keruwetan tersebut?

Sumber :

Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat

Pak Susantono, Sekertaris Sanggar Olah Seni

Berbagai sumber dari internet

LIBURAN MAU KE SINI POKOKNYA

Kalau mas/jeng ini lihat beberapa tulisan saya di bawah, pasti tahu saya punya keinginan berkunjung ke mana kalau punya uang nanti. Turki. Tapi terlepas dari punya uang cukup, paspor, waktu, teman, atau tetek bengek yang diperlukan untuk ke sana, sekarang saya mau cerita tentang tempat yang pasti lebih mungkin dikunjungi. Dekat kok. Masih di Pulau Jawa juga.

Keinginan ini berawal dari rekomendasi  (lagi-lagi orang keren Indonesia :) ) Pandji Pragiwaksono dalam tulisannya yang berjudul Nasional.Is.Me, yang mas/jeng bisa unduh di webnya dia www.pandji.com.

Sebuah tempat yang katanya dia, cuma bisa mas/jeng temukan di 2 lokasi di dunia. Apa tuh?

Jawabannya, Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid yang spektakuler, kalau kata Pandji.

Karena no picture=hoax, maka saya printscreen-kan deh novelnya Pandji.

Gimana? Kalau saya sih antusias sekali sukanya karena embel-embel “cuma ada 2 di dunia”.

Siapa sih yang nggak bangga sama hal ini. Masjid Agung Jawa Tengah ini kekayaan kita lho.

Mau ngapain di sana? Yang pasti saya HARUS TIDURAN DI LANTAINYA SAMBIL MENGHADAP ATAPNYA (ALIAS  LANGIT) LALU MENGHEMBUSKAN NAFAS DALAM-DALAM DENGAN MATA TERBUKA, sama seperti hal yang sering saya lakukan setiap masuk masjid manapun.

Itu tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia, urutan PERTAMAX untuk saat ini.

Terus, ini sebenarnya bukan urutan kedua. Karena saya sendiri nggak tahu urutan keduanya apa. Tapi kalau yang satu ini gara-gara saya nonton acara di TV. Apa itu?

BNS (Batu National Spectacular)

Jadi, BNS ini letaknya sekitar 30 km dari Kota Malang, tepatnya di Batu. Tidak, tidak. Bukan Buah Batu. Batu ini tempat yang banyak memproduksi buah apel (kok jayus ya?!)

Ada apa di sana?

Ini adalah sebuah tempat rekreasi dengan sejuta lampu (sebenarnya nggak sejuta juga sih, tapi maksudnya banyak, gitu). Dibukanya mulai pukul 15.00 sampai tengah malam.

Mungkin memang cuma pemandangan yang bisa didapatkan di sana. Buat mas/jeng, tidak mungkin sensasinya sepeti naik wahana ke Dufan atau ya minimal Jatim Park, atau naik gunung. Tapi kalau buat saya, tempat dengan pemandangan menarik justru lebih utama dibandingkan tempat yang menyajikan pengalaman seru dan menegangkan.

Karena saya sangat mengapresiasi alam dan objek yang indah, jadilah ini sepertinya tempat yang sangat cocok untuk saya datagi.

Kekurangannya cuma satu sih. Sepertinya BNS ini lebih cocok untuk tamu yang berpasangan deh alias sayanya jomblo. Secara malam berselimutkan lampion pasti menciptakan suasana yang romantis. Mohon koreksi ya bagi yang sudah ke sana.

Tapi hal itu nggak mengurungkan niat sedikitpun. Teman saya banyak dan SERU-SERU PARAH. Pasti RAME.

Jadi nggak sabar nih mau libur semester bulan Januari besok. Ada nggak ya yang mau temenin saya liburan ke sana? Dua kota ‘aja kok :D

Selewat Mimpi & Firasat

Siang ini panas dan angin tidak berhembus kencang. Ya. Ini basa-basi sih sebenarnya. Sekarang saya sedang nganggur dan jadilah saya meminjam komputer lembaga untuk menulis sesuatu yang sebenarnya sangat ingin saya utarakan akhir-akhir ini.

Saya ingin mengutarakan tentang sesuatu yang biasa orang bilang sebagai mimpi dan firasat. Mungkin mas/jeng juga sering merasakan firasat yang aneh-aneh dalam hidup. Mengalami mimpi juga. Saya juga pernah. Sering malah. Makanya saya mau berbagi. Berbagi bukan karena ini hal yang lumrah tapi justru firasat yang saya alami ini membuat saya bingung. Bingung kenapa? Karena hampir semua firasat yang saya rasakan benar terjadi. Yuk ah saya mau cerita. Tidak semua tapi yang menurut saya cukup untuk dibilang dapat porsi lebih besar dari firasat-firasat yang lain.

Menari di SD

Saya ingat betul nih waktu kelas 2 atau 3 SD, ya? Saya pernah mimpi, bertemu boneka-boneka yang hidup, bisa berbicara, dengan dandanan menor. Salah satu adegan yang muncul dalam mimpi saya adalah saya berkaca dengan make up tebal. Lalu beberapa minggu kemudian, untuk pertama kalinya saya akan menari daerah di pentas SD.

Kala itu saya sedang berkaca di depan cermin, selesai dimake-up, dan seolah mengalami deja vu. Adegan yang persis dalam mimpi.

Pengganti Jabatan Sementara

Bulan itu sekitar pertengahan Mei. Sore-sore, Senator lembaga saya, sebut saja F, mengumpulkan 8 orang timnya dengan saya sebagai salah satu yang hadir. Agendanya cuma perkenalan saja sih. Setelah perkenalan, salah satu tim bertanya. Sebut saja A. “Tur, PJS gimana?”

F kurang lebih menjawab, “Belum ada. Ya nanti saya lihat dulu kinerja masing-masing.”

Yak dan langsung saja saya merasa aneh. Lalu muncul firasat.

Firasat apa? Firasat yang menyerempet kalau tempat itu akan diisi oleh saya. Jelas ya maksudnya? Ya begitulah. Tapi saya meyakinkan diri itu pasti bukan saya, toh saya baru bergabung dalam tim. Saya meyakini kalau si A tadi yang akan menggantikan Fatur sementara saat dia KP, karena kontribusi A dalam tim sudah lebih banyak dari teman-teman yang lain. Dia sudah magang dalam tim sejak pertama masuk lembaga.

Lagipula (curhat sedikit) saya awalnya tidak berniat masuk tim. Tapi kalau bukan si B, salah satu teman seangkatan yang saya hormati, yang meminta saya untuk bergabung, saya tidak akan mau bergabung dalam tim.

Lanjut. Pertengahan Juni, ketika itu saya sedang di kampus tapi lupa ngapain. Baru ingat sekitar jam 10 ada kumpul (yang untuk selanjutnya sebut saja legislatif ya). Mumpung kosong saya mau deh menyempatkan untuk pertama kalinya datang menemani si F. Toh bukan cuma saya, si A juga katanya mau datang.

Begitu masuk sekre, saya duduk di sebelah F. Eh tahu-tahu F menanyakan hal yang jadi firasat saya sejak beberapa minggu sebelumnya. Kan saya bingung. Terus jadilah si F memperkenalkan saya sebagai penggantinya selama KP.

Dan terjadilah secara nyata firasat saya itu.

Apa lagi ya? Oh iya, ada lagi deh.

Perihal Teman Jadian

Ada seorang teman SMA, perempuan. Sekarang satu kampus juga sama saya. Waktu itu saya mimpi tentang dia. Tapi saya lupa adegan apa yang muncul, pokoknya tentang berpasangan-pasangan gitu lah. Eh tiba-tiba tidak berapa lama, saya baru tahu kalau dia jadian. Cihuy.

Perihal Persaingan Teman

Kalau yang ini bukan tentang saya lagi, tapi teman saya yang baru kemarin-kemarin mau mencalonkan diri jadi seorang ketua acara besar di kampus. Waktu itu sore-sore ketika saya menerima SMS dari dia yang meminta untuk datang meramaikan saat ia kampanye untuk kedua kalinya di depan banyak orang.

Saya merasa aneh. Bingung, lebih tepatnya. Padahal isi SMS-nya biasa saja, bahkan ada emoticon :) . Lucu ya? Tapi ya saya bingung saja, gitu. Tidak tahu cara mendeskripsikannya. Saking merasa bingungnya sampai saya membalas dengan mengatakan bahwa saya mungkin tidak akan datang.

Lalu lanjut hari Senin kalau tidak salah. Teman saya ini sedikit bercerita tentang hasil wawancaranya semalam. Mungkin lebih karena tidak fit-nya dia saat menceritakan pada saya bagaimana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan, jadi saya tiba-tiba bingung lagi. Setelah bingung, sedih. Lalu muncul firasat.

Seperti hal-hal yang lain, firasat saya sering benar. Tapi kalau yang satu ini mana bisa saya meyakini. Walaupun teman saya mungkin bukan yang paling kompeten (tidak tahu juga ya) tapi dia yang paling terkonsep dan siap. Jadilah saya meyakini pemikiran, bukan firasat. Tapi ternyata, beberapa hari kemudian ketika hasil diumumkan, firasat saya yang terjadi. Sayang sekali.

Apa lagi ya? Oh ini yang paling baru kayaknya.

Beberapa hari yang lalu saya mimpi tentang teman saya. Dalam mimpi itu, ada adegan ia sedang melakukan sesuatu. Nah, baru kemarin nih ketika saya mengobrol sebentar sama dia. Ternyata dia baru saja melakukan sesuatu persis dengan mimpi saya. Menarik sekali. Mimpi saya terjadi lagi lho :D

Mungkin mas/jeng juga sering ya mengalami mimpi atau firasat yang suka tiba-tiba muncul? Terserah deh orang mau bilang itu bunga tidur atau bantal ngeces atau bayi ngapung. Yang pasti menarik kalau tahu mimpi atau firasat kita benar-benar terjadi. Tapi jangan terlalu dipercaya, dibuat fun sajalah ya.

Selentingan Pengingat

Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudlulah. Ketika lengan ini lelah menggapai cita-cita, maka bertakbirlah. Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah. Ikhlaskan semua dan mendekatlah dengan sedekat-dekatnya.

Agar kita patuh di saat yang lain angkuh.

Agar kita teguh di saat yang lain runtuh.

Dan agar kita tegar di saat yang lain lemah.

Part 1 : Baleendah —> Cikapundung

17 April 2010, Sabtu Pagi

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi saya. Cuma mau cerita-cerita sih. Hari itu saya awali dengan beberes ransel ya walaupun sedikit barang bawaannya. Rencananya saya diajak Kak Mirna, Kadiv Comdev Departemen Pengmas HMTL ITB ikutan ke Baleendah buat survei2. HMTL rencananya juga, mau membuat semacam alat pengolahan air bersih untuk daerah Baleendah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan sebagai lokasi bencana [manusia] sejak 3 bulan terakhir.

Saya datang jam 8 pagi lewat sedikit di Gerbang Ganesha, ternyata di sana baru ada kakak2 : Mirna, Adhiet BW, dan Fatur. Yah baru segini, alamat telat berangkat ini sih…pikir saya dalam hati. Yah pokoknya sampai jam 9 pagi saya cuma duduk menunggu bersama beberapa orang lain, ada Dida dan kakak2 : Mirna, Adhiet BW, Seli, Mitha, Karinta, Ade. Fatur cao memang tidak ikut. Siapa yang ditunggu nih? Ternyata biangnya adalah kakak2 : Igoy dan Afne. Mereka ketiduran di himpunan, katanya sih jam 8 dikira jam setengah 8. Ya pantes telat. Okelah lanjut.

Mengingat sudah jam 9 lewat sedikit dan ketika saya mempertimbangkan kembali untuk ikut, akhirnya saya memutuskan pilihan tidak ikut ke Baleendah. Karena jam 1 siang saya sudah harus ada lagi di kampus, praktikum Mekanika Fluida di Sungai Cikapundung. Takutnya nggak sempat. Perjalanan ke Baleendah memakan waktu satu setengah jam lebih soalnya.  Belum lagi karena itu hari Sabtu, kemungkinan macet lebih besar.

Okelah saya ditinggal sendirian. Tapi tak berapa lama kemudian Kak Mirna menelepon, katanya saya disuruh ikut saja karena dijanjikannya habis dzuhur langsung pulang. Estimasi saya sampai ke kampus bisa jam setengah 2. Kebetulan banget Kak Andi selaku Kadept.Pengmas sekaligus PJ Modul praktikum saya siang itu memberi keringanan sampai jam 2 siang. Gila. Kak Andi Nepotisme nih. Hahaha untunglah, tapi nggak baik nih.

Saya naik mobil Kak Adhiet BW sama Igoy, Afne, dan Dida. Perjalanan berangkat memakan waktu satu setengah jam. Di Bojongsoang [kalau nggak salah], datanglah Kak Bokir membawa motornya, menyusul karena rumahnya memang di daerah sana. Kami lanjut sampai berhenti di Kantor Kecamatan Baleendah. Di sana bertemu dengan Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya.

Mari saya kasih sedikit informasi yang saya dapat dari papan data di kantor kecamatan tersebut. Pada tanggal 13 April, di kelurahan Andir dan Baleendah, air pasang dengan total 699 rumah terendam. Tanggal 15 April air pasang lagi dengan total 328 rumah terendam pada dua kelurahan tersebut. Baru dua hari berlalu sejak air surut kembali, saya berkunjung ke sana.

Beliau, Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya menceritakan kondisi bahwa di sana banjir bisa pasang dan surut sewaktu-waktu. Dan hingga saat ini pun, masih ada sekitar 300-an rumah di kelurahan Baleendah, yang terendam lumpur. Ya. Bukan air banjir tapi lumpur, tepatnya.

Sekedar informasi juga, di halaman kantor kecamatan tersebut terdapat sebuah alat pengolahan air bersih buatan Belanda, kata si Bapak. Alat itu didatangkan ke Indonesia sejak terjadinya tsunami Aceh, dioper ke-apa-lagi-ya-bencananya-saya-lupa, barulah pada bulan Maret 2010 kemarin dipindahkan ke Baleendah. Sumber airnya diambil dari kolam di samping kantor, diolah, dan hasilnya ditampung dalam sebuah bak superbesar untuk kemudian dapat dikeluarkan melalui keran pada bagian bawahnya untuk mengalirkan air.  Jujur saja sih ya, airnya masih sedikit kuning kalau yang saya lihat dengan mata sendiri.

Ini dia alat olahan air bersih Turun-Temurun-Bencana
Sumpah ini nggak pake efek foto apapun, kuning ‘kan kuning?

Lalu, kami serombongan pergi menuju daerah Cieunteung, daerah yang baru saya tahu menjadi daerah paling parah efeknya. Sayangnya sesayang-sayangnya, sepatu bot cuma ada 4 dan ternyata medan tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Lumpur masih terlalu dalam untuk ditapaki sandal/sepatu apalagi dengan mahasiswa-mahasiswa elit [ya ya ya saya akui ini] yang tidak biasa berkutat dengan lumpur. Bahkan tak jauh berapa meter ada 2 buah kano kecil. Tahu ‘kan ya maksudnya? Ya untuk alat transportasi. Dan pada akhirnya cuma kakak cowok2 : Adhiet BW, Igoy, Afne, dan Bokir yang masuk ke dalam Cieunteung untuk bertemu dengan Pak RW, menanyakan kondisi setempat.

Sekitar sejam menunggu, kami cewek2 menunggu sembari duduk di luar jendela sebuah rumah yang lembab dengan lantai penuh lumpur kering. Saya sempat foto pintunya. Ini dia, ternyata si lumpur pernah membuat sejarah bagi rumah ini dengan menempelkan endapan-endapannya hingga ketinggian lebih dari setengah daun pintu alias se-alis saya kira-kira. Itu baru endapan lumpur, belum air banjirnya lho. Cemana lah tingginya.

Sekitar jam 12 rombongan cowok2 datang. Yang dilakukan pertama adalah mengeluarkan air berlumpur dari dalam sepatu bot. Lalu berjalan kaki menuju SPBU setempat untuk mencuci kaki. Kak Adhiet BW menceritakan kondisi di dalam sana. Jadi, dalam mushola terdapat sebuah bak setinggi kira2 dada Kak Adhiet BW, yang berfungsi sebagai alat kelola air bersih. Alat itu dikhususkan ditempatkan di mushola untuk kemudahan akses rumah-rumah setempat mendapatkan air bersih jika banjir sedang pasang, tidak perlu ke kantor kecamatan.

Mekanismenya adalah air banjir diambil, dimasukkan ke dalam bak, lalu dibubuhi kaporit, PAC, dan-lupa-satu-macam-lagi, ya pokoknya begitu sampai endapannya jatuh dan air bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk air minum, ya pakai air itu tapi dimasak lagi.

Kak Adhiet BW menceritakan bahwa si Bapak di mushola sana bilang kalau yang paling sulit didapatkan adalah makanan. Ya mau bagaimana juga ya, dipikir2 memang kalau sedang pasang, warga mana bisa keluar rumah jauh-jauh untuk cari makanan? Akses mendapatkan air bersih kan bisa didapat di mushola, lha kalau makanan?

Dengan hasil survei tersebut dan bermodal dokumentasi, kami pun kembali menuju kampus. Rencananya, hasil survei ini akan dibawakan kepada Bu Ogi, salah satu dosen Teknik Lingkungan, untuk dibahas bersama.

Melelahkan. Pusing karena kepanasan. Semangat juga menurun sedikit karena tidak bisa masuk ke dalam gang. Ya yang penting dapat sedikit manfaat lah. Sedih sih melihat seorang bapak-bapak yang mengkayuh gerobak mau masuk ke dalam tapi memutuskan diri untuk keluar gang lagi hanya beberapa meter dari jarak saya berdiri, karena lumpurnya memang terlalu dalam, tidak bisa itu dimasuki gerobak.

Ada pula beberapa anak kecil baru pulang sekolah, melepaskan sepatunya dan mengangkat celananya, mulai menerobos lumpur. Tinggi mereka cuma sekitar seperut saya. Bayangkan, kalau setiap hari mereka harus bolak-balik seperti itu, berapa jumlah air bersih mereka habis dipakai hanya untuk cuci seragam?

Dengan kondisi badan yang menurun karena kelaparan dan kepanasan, akhirnya kami kembali ke kampus. Saya masih bersama Dida dan kakak2 cowok : Adhiet BW, Afne, Igoy. Bokir pulang pakai motor ke rumahnya. Walaupun mepet tapi saya sih santai-santai saja melihat jam. Pukul 1 lewat. Pasti telat praktikum sih ini, pikir saya.

SO GEBS-nya adalah mobil Kak Adhiet BW tiba-tiba MOGOK DI TENGAH JALAN di daerah Bojongsoang kalau nggak salah lihat papan-papan toko. Dengan perasaan nggak enak, saya memutuskan naik angkot demi mengejar praktikum yang sebenarnya sudah pasti telat. Benar-benar nggak enak meninggalkan kakak2 itu mengurusi mobil ya walaupun saya juga pasti gabut sih di sana. Dida juga. Malah ikut dia naik angkot sama saya, berhubung pasti gabut dan cewek sendiri nantinya.

Okelah akhirnya kami naik angkot dua kali menuju depan SMA 3 Bandung, lanjut angkot Kalapa-Dago. Dida terus ke Kanayakan [nggak praktikum shift Sabtu siang, dia] saya terus naik angkot Caheum-Ciroyom menuju jembatan Babakan Siliwangi, TKP [Tempat Kejadian Praktikum].

Dan waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.21

To Be Continued

Baduy, “Negara” Tanpa Kelaparan

copas dari milis

Cornelius Helmy dan C Anto Saptowalyono

Punggung Gunung Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (16/3) pagi, berangsur terang ketika matahari menyembul di langit timur. Udara masih dingin ketika satu demi satu warga mulai keluar dari pintu rumahnya. Aktivitas pagi masyarakat Baduy pun kembali berjalan. Asap keluar dari atap rumah warga, pertanda perempuan Baduy mempersiapkan makan dan bekal buat ke ladang. Sebagian perempuan lainnya menumbuk bulir padi dan biji kopi. Setelah semua beres, mereka bersama suami dan anak-anak berangkat ke ladang. Sementara perempuan yang tinggal di rumah mulai dengan aktivitas menenun.

Dari kejauhan di pinggir kampung, seorang lelaki berbaju putih terlihat memikul buntalan mendaki jalan setapak yang menanjak di Kampung Cipaler. Lelaki bernama Idong itu hendak pulang ke Desa Cibeo setelah malam sebelumnya menginap di Ciboleger untuk menjual buah. Baju putih yang dia kenakan adalah pakaian khas warga Baduy Dalam, yang tinggal di tiga kampung di Kanekes; yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Tak berselang lama, satu keluarga yang kesemuanya berpakaian hitam bergegas hendak ke ladang. Mereka adalah bagian dari masyarakat Baduy Luar yang tinggal di 56 kampung di Kanekes. Baju hitam adalah salah satu ciri khas pakaian mereka. Sepintas Desa Kanekes yang hingga Maret 2010 dihuni 11.175 jiwa warga Baduy ini tak beda dengan desa-desa lainnya. Mereka tinggal di rumah panggung, lantainya berada sekitar 50 sentimeter di atas tanah. Dindingnya bambu, atapnya anyaman daun kelapa.

Sejumlah literatur menyebut orang Baduy keturunan pengikut Kerajaan Padjadjaran dan mereka penduduk asli yang sangat perhatian terhadap lingkungan. Kekhasan permukiman Baduy terlihat dari bentuk rumah yang nyaris seragam. Hanya ada sedikit ruang yang tersisa antarbangunan rumah, sedangkan rumah-rumah Baduy umumnya tidak berjendela. Rumah mereka juga tidak memiliki jaringan listrik karena adat menabukan listrik.

Aturan adat berlandaskan nilai-nilai adat moyang mereka, yaitu tradisi Sunda Wiwitan. Tradisi itu menjadi pegangan dan pengetahuan masyarakat Baduy. Hingga saat ini adat tersebut masih tetap dijaga. Termasuk pula di antaranya falsafah yang tergambar dalam peribahasa Baduy, Lojor teu menuang dipotong, pondok teu menang disambung, kurang teu menang ditambah, leuwih teu menang dikurang. Arti harfiahnya adalah ”panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang”.

Sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam masih berjalan kaki ke mana pun mereka pergi, termasuk hingga ke Jakarta. Lain halnya dengan masyarakat di perkampungan Baduy Luar yang sudah mau naik ojek atau mobil angkutan antarkota ketika bepergian agak jauh dari desanya. ”Masyarakat Baduy tidak ada yang terlihat kaya, tapi juga tidak ada yang miskin. Di sini tidak ada pengangguran ataupun kelaparan,” ujar Jaro Pamarentahan (Kepala Pemerintahan) Baduy Dainah.

Meski banyak yang berprofesi sebagai perajin kain tenun, penjual gula aren, atau memiliki warung penjual barang kebutuhan keluarga sehari-hari, warga Baduy selalu menganggap bahwa berladang adalah pekerjaan utama dan kewajiban. Dalam berladang, mereka memiliki kebiasaan yang dijalankan turun-temurun. Mereka antimenggunakan pupuk pabrikan dan senyawa kimia pembasmi hama dan gulma. Warga Baduy Dalam hingga sekarang bahkan masih menabukan mandi menggunakan sabun dan sampo. Hal-hal semacam ini menghindarkan lingkungan, yang menjadi tempat mereka menggantungkan pendapatan harian mereka, dari pencemaran. Hingga sekarang pun mereka kukuh mempertahankan kawasan hutan dan tak hendak mengubahnya untuk kepentingan lain. ”Dari 5.136,8 hektar (ha) kawasan di Baduy, sekitar 3.000 hektar dipertahankan sebagai hutan untuk menjaga 120 titik mata air,” kata Jaro Dainah.

Ketika jumlah warga terus bertambah, kebutuhan ladang untuk bertanam padi pun meningkat. Alih-alih mengubah hutan lindung untuk ladang, sebagian warga Baduy lebih memilih membeli tanah di luar kawasan Baduy. Setidaknya 700 hektar ladang di luar kawasan Baduy saat ini dimiliki warga. ”Selain itu, juga banyak yang menyewa, lebih luas lagi dibandingkan yang sudah dibeli warga,” ujar Jaro Dainah.

Sistem bagi hasil dilakukan antara warga Baduy yang menyewa serta menggarap ladang dan pemilik tanah. Sekitar tahun 1980-an, tanaman albasia pun mulai banyak ditanam warga Baduy. Sekarang pun tanaman albasia yang bibitnya mulai ditanam di sela-sela padi ladang ini dipetik hasilnya oleh warga Baduy setiap lima tahun sekali ketika ladang selesai di-beura, dibiarkan tidak ditanami setelah lewat tiga kali musim panen. Kayu albasia hasil budidaya ini biasa dijual warga kepada bos pengumpul, yang sebagian juga orang Baduy, untuk kemudian dikirim ke pembeli di luar daerah. Sebatang kayu albasia umur lima tahun bisa laku Rp 100.000. Rata-rata sekali memanen albasia di ladang miliknya tiap orang bisa mengantongi penjualan Rp 5 juta-Rp 15 juta.

Keseharian warga dalam bekerja itu berjalan dalam bingkai adat yang terjaga. Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran Johan Iskandar mengatakan, Baduy mengenal dua sistem pemerintahan: nasional yang mengikuti aturan negara Indonesia dan adat yang mengikuti adat istiadat. Secara nasional, di Baduy ada Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes yang kini dijabat Dainah.

Sementara itu, pimpinan adat tertinggi masyarakat Baduy dipegang oleh tiga puun yang tinggal di tiga tempat Baduy Dalam. Puun Cikeusik mengurus keagamaan, Puun Cibeo mengatur hubungan dengan daerah luar, serta Puun Cikertawana mengurus pembinaan warga, kesejahteraan, dan keamanan masyarakat Baduy.

Dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku puun diatur ketat. Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran Kusnaka Adimihardja menjelaskan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy. Ia mengatakan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy dari dalam. Bahkan, hingga kepemilikan rumah, puun harus memiliki rumah paling sederhana. Mampu melayani masyarakatnya dengan baik adalah penghargaan terbesar seorang puun di Baduy. ”Inilah figur pemimpin sebenarnya. Masyarakat adat Baduy ibaratnya negara sejahtera ideal,” kata Kusnaka. Masa kekuasaan seorang puun tak pernah dibatasi aturan adat. Namun, seorang puun yang sudah merasa tak sanggup menjalankan amanah bisa meminta untuk segera diganti. Selain itu, pergantian seorang puun juga tergantung dari kondisi alam. Jika sering muncul bencana alam yang menimpa warga Baduy atau panen rakyat gagal terus, menjadi alasan kuat untuk turunnya seorang puun.

Warga Baduy meyakini keberhasilan pemimpin berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, mereka juga dikenal sebagai komunitas mandiri yang menghidupi diri sendiri, tetapi melimpahkan rezeki bagi warga sekitar mereka. Mahfudin, warga Kampung Cicakal, yang berada di luar kawasan Baduy, misalnya, tiap minggu pasti memboncengkan penumpang yang hendak berkunjung ke Baduy. Sekali mengantar dari Desa Kuranji ke Parigi, dia memperoleh Rp 30.000. Hila, seorang pemilik toko di kawasan Ciboleger, pun dapat mencari rezeki dengan menjual kerajinan dan kain khas Baduy kepada pengunjung. ”Kalau pas ramai pengunjung, seperti akhir pekan atau ketika liburan sekolah, per hari bisa ratusan ribu rupiah,” katanya. Warga Baduy membuktikan bahwa ada korelasi antara alam yang terjaga dan kehidupan yang sejahtera, bagi mereka dan bagi warga di sekitarnya.

(Buyung Wijaya Kusuma)