Cerita ‘Saeutik’ Demonstrasi #BBM

Sebuah isu yang santer diberitakan sejak beberapa hari yang lalu ialah kenaikan BBM. Setelah menulis mengenai pro-kontra argumen mengenai isu ini dalam artikel “Ringkasan : Pro-Kontra Pengurangan Subsidi BBM”, kali ini saya greget juga untuk menulis tentang salah satu bentuk sikap terhadap isu ini, yaitu demonstrasi.

Jumat, 30 Maret 2012, beribu demonstran yang berasal dari kaum buruh dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran di depan Gedung DPR, bertepatan dengan sidang paripurna oleh DPR dalam meloloskan/tidaknya usulan kebijakan pemerintah tersebut. Tujuan demonstrasi ini tentunya bertujuan untuk membuat sebuah pressure terhadap anggota-anggota DPR.

Saya adalah salah satu mahasiswa ITB yang memutuskan untuk ikut berdemonstrasi ke Jakarta. Di samping karena memang mau demo, karena menyebalkannya pemberitaan media terhadap demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini. Saya mau cek langsung apakah memang sebobrok itu demonstrasi mahasiswa dilakukan.

Teman-teman saya banyak yang bertanya-tanya,

“Ngapain ikutan? Ngerusuh?”

“Pas demo lo mau ngapain? Emangnya ngefek ya?”

Dll.

Nah, sebelum cerita mengenai kejadian jumat lalu, melalui tulisan ini saya juga mau memperjelas saja mengenai sudut pandang saya tentang metode ini (baca: demonstrasi) dan seperti apakah demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa ITB.

Demonstrasi menurut KBBI :

“Pernyataan protes yg dikemukakan secara massal; unjuk rasa”

Demonstrasi, dalam sudut pandang saya (dan sepertinya tercantum dalam literatur yang saya baca, lupa apa judulnya), memiliki latar belakang untuk menyuarakan pendapat suatu kelompok (misal: mahasiswa, buruh, petani, dll) dengan big goal-nya ialah menimbulkan pressure (tekanan) terhadap objek demonstrasi (misal: pemerintah, DPR, dll).

Jadi, jika masih ada yang bertanya tentang ‘Kenapa pendapatnya nggak disampein langsung? Minta ketemu langsung lah’.

Jawabannya adalah, karena memang beda metode, beda tujuan.

Berikut ini beberapa metode dalam penyampaian pendapat namun memiliki goal yang berbeda:

  1. Audiensi (kalau sama pemerintah atau DPR istilahnya RDP [Rapat Dengar Pendapat]), goal-nya ialah untuk sekedar memperoleh informasi atau bertukar argumen.
  2. Advokasi, goal-nya adalah untuk melobi.
  3. Penulisan di media, goal-nya ialah untuk membentuk opini publik.
  4. Demonstrasi, goal-nya ialah menimbulkan pressure.

Nah!

Makanya ketika menyuarakan pendapat terkait kebijakan tertentu, pasti akan selalu ada suatu bentuk audiensi, advokasi, penulisan di media maupun demonstrasi itu sendiri. Beragam, tergantung mau pakai dan mencapai tujuan yang mana.

Sekarang saya coba me-review apa yang saya peroleh jumat lalu.

Tau lah ya, menjelang 1 April 2012, demonstrasi marak diberitakan di media. Daaan beritanya seputar kericuhan baik itu lempar bom molotov, tembak gas air mata, pemukulan, dsb. Dengan oknum? Pertikaian mahasiswa dan polisi.

Hal inilah yang membuat saya greget ingin membuktikan  pertanyaan yang kerap muncul di otak saya melihat pemberitaan tersebut, “Emangnya mahasiswa sama polisi segitunya ya?

Walhasil saya memutuskan untuk ikut demo ke Jakarta.

Berangkat pukul 05.30, sampai di Gedung Manggala Wanabhakti (Kementerian Kehutanan RI) di samping Gedung DPR sekitar pukul 10.00. Awalnya rombongan diperkirakan akan mulai masuk barisan dan berjalan menuju gedung sejak pukul segitu, tapi ternyata diundur hingga selesai shalat jumat. Kami (rombongan ITB dan kampus-kampus lain yang tergabung dalam aliansi BEM Seluruh Indonesia [BEM SI]) akhirnya ngaso-ngaso dulu di sekitar parkiran Kemenhut.

Sedari pagi memang ada yang bakar-bakar.

Bakar Ga Cuma Dilakuin Sama Tukang Sate

Sekitar pukul 13.30 para demonstran dari BEM SI (ITB, UI, UNJ, dll) keluar gerbang Kemenhut dan segera membentuk barisan dengan posisi wanita di tengah-belakang, laki-laki di luar depan dengan barikade keseluruhan terdiri dari laki-laki. Bermacam warna jaket almamater campur jadi satu.

Barisan BEM SI

Sembari berjalan menuju depan Gedung DPR, barisan BEM SI menyanyikan lagu “Totalitas Perjuangan” serta meneriakkan yel-yel berikut …

“hati-hati…hati-hati…hati-hati provokasi…”

Sang korlap wanita berulang kali menengokkan kepala ke kiri ke kanan, memastikan tidak ada barikade bolong yang memungkinkan oknum di luar BEM SI dapat masuk.

Barisan mahasiswa berhenti di samping pintu barat depan Gedung DPR. Barisan ini tidak dapat menembus barisan serikat buruh yang sudah nongkrong sejak pagi di depan gedung DPR.

Sudut Pandang Barisan Wanita

Suasana Di Depan Pagar DPR

Satu hal lain yang membuat terkesan adalah, karena BEM SI sudah memplotkan bahwa konten demonstrasi saat itu adalah ‘menolak kenaikan harga BBM’ maka konten di luar itu tidak diperkenankan. Dalam pelaksanaan, ada salah satu orator mahasiswa yang tiba-tiba nyerempet orasi meminta ‘turunkan SBY’, mic-nya diambil alih oleh orator lain.

Para Korlap BEM SI *sekalian orator*

Hingga sekitar pukul 15.00, barisan wanita diperkenankan untuk kembali ke Kemenhut disebabkan situasi yang mulai sedikit ‘memanas’ karena ada pihak yang mulai merobohkan pagar samping jalan tol. Yang laki-laki, beberapa membuat barikade mengantar barisan wanita kembali ke Kemenhut, sisanya meneruskan orasi dan yel-yel. Setelah itu massa melaksanakan shalat berjamaah.

Ingat Rakyat, Ingat Tuhan

Berhubung tidak betah duduk-duduk di Kemenhut akhirnya saya dan teman-teman wanita lainnya memutuskan kembali ke area demo untuk melihat-lihat keadaan. Suasana masih sama saja seperti siang, bedanya setelah pukul 15.30 ini, massa jadi bertambah ramai meskipun rombongan mahasiswa dari BEM SI sudah bubar.

Sore itu seorang orator dari suatu serikat buruh yang berorasi di atas mobil pick up, mulai mengajak demonstran untuk merobohkan pagar Gedung DPR agar tidak ada lagi penghalang antara rakyat dengan anggota DPR. Dhuar! Pagar pertama pun rubuh.

Anak Kecil Ikut Nggelantungan, agak ke sonoan dari pagar utama *tanya kenapa*

Anehnya, demonstran tidak serta merta langsung lari menerobos masuk ke dalam Gedung DPR. Mereka memilih untuk kembali merobohkan pagar kedua. Dhuar! Roboh lagi. Tapi massa juga nggak nyelonong masuk.

Yeaaah! *menaklukkan puncak pagar DPR*

Tapi teteup, sudah mulai chaos sih.

Nah, akhirnya saya bertanya dalam hati, ‘kenapa sih ‘udah ngerobohin pagar DPR tapi kok nggak nyelonong masuk?’ Bisik tetangga menyebutkan kalau itu strategi untuk memprovokasi polisi yang tengah berjaga di pekarangan DPR.

Atau perhatiannya lagi dialihin sama mas-mas ini hehehe

Nah, padahal saya bingung juga kenapa polisi nggak berusaha mencegah ketika tau gelagat demonstran bakal ngerobohin pagar DPR ya? Apakah mungkin karena sudah bisa membaca kalau itu adalah salah satu bentuk provokasi.

Pagar Telah Dibuka, menjelang pukul 5 sore

Nah ada pula yang corat-coret tembok pakai pylox, waktu dilihat mengenakan jaket almamater sebuah perguruan tinggi.

Buku Gambar Pindah Ke Sini

Setelah lelah mengamati, dan karena sudah jadi kesengajaan tempat itu dipenuhi oleh PKL, akhirnya saya memutuskan istirahat sambil beli mi ayam dulu hehehe. Belum makan siang soalnya. Sambil nunggu, sambil ngobrol.

“Udah berapa hari ada demo di sini, Pak?”

“Tiga harian, Neng.”

“Rusuhnya kapan, Pak?”

“Ya abis magrib biasanya, Neng. Pas polisi ‘udah keluar gedung ini pada diusirin semua.”

“Lho bentar lagi dong, Pak. Ayo dicepetin, Pak, saya laper nanti diusir duluan hehehe.”

Usai makan, saya maju lagi coba mendekati barisan demo.

Sepertinya beberapa media mulai berdatangan.

Dan ternyata ada bendera parpol! Dan gambar-gambar Prabowo.

Eits ada bendera partai tuh

Usai adzan magrib kami dari ITB baru benar-benar meninggalkan area demo untuk melaksanakan shalat magrib di masjid Kemenhut. Sementara beberapa teman (Tizar, Presiden KM-ITB yang sedari siang sudah nongkrong dalam ruang rapat, serta Angga dan Dani dari Kemenkoan Eksternal menyusulnya masuk ke dalam) tetap di sana.

Malamnya, saya mendapat kabar dan pemberitaan bahwa demonstrasi berlangsung ricuh. Ibu saya segera menelepon, memastikan anaknya sudah tidak ada di lokasi. Sesampainya di rumah pun saya langsung lihat berita TV One. Sayang banget deh nih reporter umumnya menggeneralisir bahwa yang berbuat rusuh adalah mahasiswa (+ buruh deh). Plus ramenya emang di sore hari. Gw ada di tempat bro. Dan teman-teman gw dari ITB ‘udah balik duluan, begitu pula dari UI, UNJ, dll. Ya barangkali emang ada beberapa yang nyangkut di lokasi tapi tetap atas nama perguruan tinggi, aksi sudah out dari sore hari.

Noted: Tapi sebenarnya kalaupun saya bawa kamera, kayaknya saya emang pasti mutusin buat tetap di lokasi sih hehehe

Ya, sekiranya cuma segitu pengalaman saya ikut demo ke Jakarta. Inti dari tulisan ini adalah … bahwa tidak semua mahasiswa yang berdemo akan berlaku rusuh dan provokator itu pasti ada. Entah dari mana datangnya. Dan saya berusaha lebih moderat dalam mencerna pemberitaan media mengenai demonstrasi ini dengan cara melihat langsung di lokasi hehehe

*Dokumentasi oleh Dwininta W. dan Husein S., anak ITB juga*

Persepsi Tentang Obral Janji

Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Sabtu Sakral, Wisuda ITB

Hari ini kalender tepat mencantumkan tanggal 16 Juli 2011. Sabtu. Jauh beratus kilometer dari tempat saya mengetik ini, teman-teman ITB yang lowong di Bandung sedang merayakan Sabtu Sakral mereka. WISUDA.

Wisuda ITB dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yaitu April, Juli, dan Oktober setiap Sabtu. Tapi, sempat beberapa kali diadakan dua hari yaitu Jumat dan Sabtu karena jumlah wisudawan/wisudawati (sebutan untuk orang yang diwisuda) terlampau banyak.

Selain acara formal di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), yang meliputi (setahu saya) sambutan dari ITB dan perwakilan wisudawan, pengambilan ijazah, pengumuman siswa berprestasi, dan foto bersama. Adapula acara formal dan nonformal yang diadakan oleh organisasi mahasiswa berbasiskan program studi masing-masing (ko-kurikuler) dan dikoordinasikan oleh organisasi mahasiswa pusat, KM-ITB. Kalau saya yang jurusannya Teknik Lingkungan ini, organisasi ko-kurikulernya namanya Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL).

Acara ala Himpunan2 terdiri atas wisnight (formal) dan wisday (nonformal). Wisnight dilaksanakan pada malam hari (ya iyalah) dengan suasana formal karena turut mengundang keluarga wisudawan, sedangkan wisday merupakan rangkaian kegiatan setelah para wisudawan keluar dari Sabuga di hari Sabtu. Biasanya hanya terdiri atas arak-arakan, tapi ada juga yang setelahnya melaksanakan kegiatan lain atau tradisi Himpunan masing-masing, sesuai permintaan wisudawan/wati ketika masih menjadi calon wisudawan.

Kudu dandan cantik & senyum dong :)

Satu hal yang paling menjadi ciri khas wisuda di ITB yaitu arak-arakan. Karena, seluruh Himpunan pasti mempersiapkan performance sekaligus stamina lebih untuk keren-kerenan dalam menggiring wisudawan, dari Sabuga menuju Himpunan masing-masing.

Arak-arakan dilaksanakan sejak tahun jebot, saya juga tidak tahu. Nah, karena sudah lama sekali dilaksanakan, maka ada beberapa Himpunan yang mulai menghak-patenkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam mengarak. Contoh, kalau di Himpunan saya ada istilahnya The Bamboos. Performance harus menggunakan konsep The Bamboos yaitu aksi menggunakan bambu-bambu. Ada juga Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) yang mengeluarkan jurus performance andalan berupa kendaraan bermotor sederhana (sorry mas/jeng nggak tau namanya, paling gagap soal motor-motoran nih). Ada Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) yang wisudawan/wisudawatinya suka hepi-hepi sendiri nyemprotin cairan-cairan ke temannya. Himpunan di bagian timur jauh yang selalu balas push-up antara pengarak dan yang diarak, dll.

Yang paling fenomenal PASTINYA adalah mahasiswa-mahasiswa dari SENI RUPA alias Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD). Wah ini performance paling ditunggu-tunggu, soalnya menggunakan properti yang besar, pelakon yang banyak, aransemen musik sendiri, drama, dan so pasti warna warni mencolok. Yang special juga adalah lokasinya. FSRD satu-satunya prodi yang mengambil tempat paling strategis di ITB yang kecil ini, yaitu di bundaran Indonesia Tenggelam/Intel.

Performnya HMTL biasanya pake BAMBU
Contoh lainnya, perform HMM pake mobil
Mau ngarak harus total!!! ngecat muka
wisudawan juga suka usil, gangguin yang ngarak
Masing semangat ‘aja

Sayangnya untuk wisday kali ini saya tidak bisa ikut karena sedang di rumah, menunggu kesembuhan tangan sekaligus menunggu jadwal operasi mulut senin depan. Ya, melalui sini saya ucapkan:

Selamat Jadi Pengangguran Sementara!!! Semoga nggak selamanya. Semoga Jadi Sarjana Yang Tulus Mengabdi, Turunkan Jumlah Orang Miskin Indonesia dan Doakan Saya Wisuda Tahun Depan. Amin.   

*foto-foto Wisuda Oktober 2010