Spirit TRI HITA KARANA : Relevansi Dengan Permasalahan Global

Pertama kali saya mengenal istilah Tri Hita Karana pada awal semester 8 perkuliahan dari seorang dosen yang juga seorang Duta Besar Indonesia untuk UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, Dan Kebudayaan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa). Di dalam kelas beliau sempat bercerita mengenai istilah tersebut, yang saat ini sedang diajukan sebagai world heritage (warisan budaya dunia) kepada UNESCO.

Kunci Kesejahteraan
Dalam Islam, dikenal suatu pola hubungan hablum minannas (hubungan manusia dengan sesama) dan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah). Begitu pula dengan agama lain, salah satunya ialah Hindu, juga memiliki konsep yang sama. Hanya saja, sejak berpuluh tahun yang lalu umat Hindu di Bali memberi kedudukan yang sama pentingnya terhadap penambahan sebuah aspek lain dari pola hubungan tersebut, yang kemudian diperkenalkan dengan istilah Tri Hita Karana. Konsep yang sebenarnya secara tak sadar telah diimplementasikan sejak berabad-abad lalu, namun untuk pertama kalinya diistilahkan oleh masyarakat Bali pada tanggal 11 November 1966 saat diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali di Kota Denpasar.

Tri = Tiga
Hita = Sejahtera
Karana = Penyebab

Tiga Kunci Kesejahteraan yang diyakini oleh masyarakat Bali, ialah terciptanya keharmonisan hubungan antara :
1. Manusia dengan Tuhannya
2. Manusia dengan sesamanya
3. Manusia dengan alam lingkungannya

Dengan menerapkan Tri Hita Karana maka diyakini dapat terwujud kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang berbakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.

Masyarakat Bali Dengan Nilai Budaya Yang Adiluhung
Hingga kini, Tri Hita Karana masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Perwujudan budaya yang telah disepakati tersebut tak tanggung-tanggung. Berbagai institusi (perusahaan, pariwisata, dll) kerap ‘memegang’ konsep tersebut dalam aktivitas sehari-hari institusi. Pemerintah provinsi pun turut mendukung, salah satunya ialah dengan memberikan apresiasi terhadap para pelaku melalui penghargaan Tri Hita Karana.
Kemudian, saya teringat dengan sebuah buku fenomenal berjudul “The Limits To Growth” yang diterbitkan pada tahun 1970-an, membahas mengenai permodelan collapse-nya Bumi dalam beberapa tahun mendatang akibat ketidakseimbangan antara populasi manusia dengan sumber daya yang makin terkuras.
Beberapa tahun sebelum Sekjen PBB, U Thant, pada tahun 1969 pertama kali mengemukakan kegelisahannya mengenai kehancuran sumber daya yang sebagian besar dieksploitasi untuk kebutuhan perang dunia, masyarakat Bali telah membuat sebuah jawaban sekaligus komitmen terhadap permasalahan tersebut.

Maka, memang sudah selayaknya ‘menyebarkan kunci kesejahteraan’ dalam pengaruh yang lebih luas lagi melalui pengakuan dunia, atas keberhasilan masyarakat Bali yang telah melahirkan sebuah nilai adiluhung terhadap permasalahan global yang santer diperdebatkan dalam beberapa dekade terakhir ini.

Dukung Tri Hita Karana sebagai World Heritage! :D

Cerita ‘Saeutik’ Demonstrasi #BBM

Sebuah isu yang santer diberitakan sejak beberapa hari yang lalu ialah kenaikan BBM. Setelah menulis mengenai pro-kontra argumen mengenai isu ini dalam artikel “Ringkasan : Pro-Kontra Pengurangan Subsidi BBM”, kali ini saya greget juga untuk menulis tentang salah satu bentuk sikap terhadap isu ini, yaitu demonstrasi.

Jumat, 30 Maret 2012, beribu demonstran yang berasal dari kaum buruh dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran di depan Gedung DPR, bertepatan dengan sidang paripurna oleh DPR dalam meloloskan/tidaknya usulan kebijakan pemerintah tersebut. Tujuan demonstrasi ini tentunya bertujuan untuk membuat sebuah pressure terhadap anggota-anggota DPR.

Saya adalah salah satu mahasiswa ITB yang memutuskan untuk ikut berdemonstrasi ke Jakarta. Di samping karena memang mau demo, karena menyebalkannya pemberitaan media terhadap demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini. Saya mau cek langsung apakah memang sebobrok itu demonstrasi mahasiswa dilakukan.

Teman-teman saya banyak yang bertanya-tanya,

“Ngapain ikutan? Ngerusuh?”

“Pas demo lo mau ngapain? Emangnya ngefek ya?”

Dll.

Nah, sebelum cerita mengenai kejadian jumat lalu, melalui tulisan ini saya juga mau memperjelas saja mengenai sudut pandang saya tentang metode ini (baca: demonstrasi) dan seperti apakah demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa ITB.

Demonstrasi menurut KBBI :

“Pernyataan protes yg dikemukakan secara massal; unjuk rasa”

Demonstrasi, dalam sudut pandang saya (dan sepertinya tercantum dalam literatur yang saya baca, lupa apa judulnya), memiliki latar belakang untuk menyuarakan pendapat suatu kelompok (misal: mahasiswa, buruh, petani, dll) dengan big goal-nya ialah menimbulkan pressure (tekanan) terhadap objek demonstrasi (misal: pemerintah, DPR, dll).

Jadi, jika masih ada yang bertanya tentang ‘Kenapa pendapatnya nggak disampein langsung? Minta ketemu langsung lah’.

Jawabannya adalah, karena memang beda metode, beda tujuan.

Berikut ini beberapa metode dalam penyampaian pendapat namun memiliki goal yang berbeda:

  1. Audiensi (kalau sama pemerintah atau DPR istilahnya RDP [Rapat Dengar Pendapat]), goal-nya ialah untuk sekedar memperoleh informasi atau bertukar argumen.
  2. Advokasi, goal-nya adalah untuk melobi.
  3. Penulisan di media, goal-nya ialah untuk membentuk opini publik.
  4. Demonstrasi, goal-nya ialah menimbulkan pressure.

Nah!

Makanya ketika menyuarakan pendapat terkait kebijakan tertentu, pasti akan selalu ada suatu bentuk audiensi, advokasi, penulisan di media maupun demonstrasi itu sendiri. Beragam, tergantung mau pakai dan mencapai tujuan yang mana.

Sekarang saya coba me-review apa yang saya peroleh jumat lalu.

Tau lah ya, menjelang 1 April 2012, demonstrasi marak diberitakan di media. Daaan beritanya seputar kericuhan baik itu lempar bom molotov, tembak gas air mata, pemukulan, dsb. Dengan oknum? Pertikaian mahasiswa dan polisi.

Hal inilah yang membuat saya greget ingin membuktikan  pertanyaan yang kerap muncul di otak saya melihat pemberitaan tersebut, “Emangnya mahasiswa sama polisi segitunya ya?

Walhasil saya memutuskan untuk ikut demo ke Jakarta.

Berangkat pukul 05.30, sampai di Gedung Manggala Wanabhakti (Kementerian Kehutanan RI) di samping Gedung DPR sekitar pukul 10.00. Awalnya rombongan diperkirakan akan mulai masuk barisan dan berjalan menuju gedung sejak pukul segitu, tapi ternyata diundur hingga selesai shalat jumat. Kami (rombongan ITB dan kampus-kampus lain yang tergabung dalam aliansi BEM Seluruh Indonesia [BEM SI]) akhirnya ngaso-ngaso dulu di sekitar parkiran Kemenhut.

Sedari pagi memang ada yang bakar-bakar.

Bakar Ga Cuma Dilakuin Sama Tukang Sate

Sekitar pukul 13.30 para demonstran dari BEM SI (ITB, UI, UNJ, dll) keluar gerbang Kemenhut dan segera membentuk barisan dengan posisi wanita di tengah-belakang, laki-laki di luar depan dengan barikade keseluruhan terdiri dari laki-laki. Bermacam warna jaket almamater campur jadi satu.

Barisan BEM SI

Sembari berjalan menuju depan Gedung DPR, barisan BEM SI menyanyikan lagu “Totalitas Perjuangan” serta meneriakkan yel-yel berikut …

“hati-hati…hati-hati…hati-hati provokasi…”

Sang korlap wanita berulang kali menengokkan kepala ke kiri ke kanan, memastikan tidak ada barikade bolong yang memungkinkan oknum di luar BEM SI dapat masuk.

Barisan mahasiswa berhenti di samping pintu barat depan Gedung DPR. Barisan ini tidak dapat menembus barisan serikat buruh yang sudah nongkrong sejak pagi di depan gedung DPR.

Sudut Pandang Barisan Wanita

Suasana Di Depan Pagar DPR

Satu hal lain yang membuat terkesan adalah, karena BEM SI sudah memplotkan bahwa konten demonstrasi saat itu adalah ‘menolak kenaikan harga BBM’ maka konten di luar itu tidak diperkenankan. Dalam pelaksanaan, ada salah satu orator mahasiswa yang tiba-tiba nyerempet orasi meminta ‘turunkan SBY’, mic-nya diambil alih oleh orator lain.

Para Korlap BEM SI *sekalian orator*

Hingga sekitar pukul 15.00, barisan wanita diperkenankan untuk kembali ke Kemenhut disebabkan situasi yang mulai sedikit ‘memanas’ karena ada pihak yang mulai merobohkan pagar samping jalan tol. Yang laki-laki, beberapa membuat barikade mengantar barisan wanita kembali ke Kemenhut, sisanya meneruskan orasi dan yel-yel. Setelah itu massa melaksanakan shalat berjamaah.

Ingat Rakyat, Ingat Tuhan

Berhubung tidak betah duduk-duduk di Kemenhut akhirnya saya dan teman-teman wanita lainnya memutuskan kembali ke area demo untuk melihat-lihat keadaan. Suasana masih sama saja seperti siang, bedanya setelah pukul 15.30 ini, massa jadi bertambah ramai meskipun rombongan mahasiswa dari BEM SI sudah bubar.

Sore itu seorang orator dari suatu serikat buruh yang berorasi di atas mobil pick up, mulai mengajak demonstran untuk merobohkan pagar Gedung DPR agar tidak ada lagi penghalang antara rakyat dengan anggota DPR. Dhuar! Pagar pertama pun rubuh.

Anak Kecil Ikut Nggelantungan, agak ke sonoan dari pagar utama *tanya kenapa*

Anehnya, demonstran tidak serta merta langsung lari menerobos masuk ke dalam Gedung DPR. Mereka memilih untuk kembali merobohkan pagar kedua. Dhuar! Roboh lagi. Tapi massa juga nggak nyelonong masuk.

Yeaaah! *menaklukkan puncak pagar DPR*

Tapi teteup, sudah mulai chaos sih.

Nah, akhirnya saya bertanya dalam hati, ‘kenapa sih ‘udah ngerobohin pagar DPR tapi kok nggak nyelonong masuk?’ Bisik tetangga menyebutkan kalau itu strategi untuk memprovokasi polisi yang tengah berjaga di pekarangan DPR.

Atau perhatiannya lagi dialihin sama mas-mas ini hehehe

Nah, padahal saya bingung juga kenapa polisi nggak berusaha mencegah ketika tau gelagat demonstran bakal ngerobohin pagar DPR ya? Apakah mungkin karena sudah bisa membaca kalau itu adalah salah satu bentuk provokasi.

Pagar Telah Dibuka, menjelang pukul 5 sore

Nah ada pula yang corat-coret tembok pakai pylox, waktu dilihat mengenakan jaket almamater sebuah perguruan tinggi.

Buku Gambar Pindah Ke Sini

Setelah lelah mengamati, dan karena sudah jadi kesengajaan tempat itu dipenuhi oleh PKL, akhirnya saya memutuskan istirahat sambil beli mi ayam dulu hehehe. Belum makan siang soalnya. Sambil nunggu, sambil ngobrol.

“Udah berapa hari ada demo di sini, Pak?”

“Tiga harian, Neng.”

“Rusuhnya kapan, Pak?”

“Ya abis magrib biasanya, Neng. Pas polisi ‘udah keluar gedung ini pada diusirin semua.”

“Lho bentar lagi dong, Pak. Ayo dicepetin, Pak, saya laper nanti diusir duluan hehehe.”

Usai makan, saya maju lagi coba mendekati barisan demo.

Sepertinya beberapa media mulai berdatangan.

Dan ternyata ada bendera parpol! Dan gambar-gambar Prabowo.

Eits ada bendera partai tuh

Usai adzan magrib kami dari ITB baru benar-benar meninggalkan area demo untuk melaksanakan shalat magrib di masjid Kemenhut. Sementara beberapa teman (Tizar, Presiden KM-ITB yang sedari siang sudah nongkrong dalam ruang rapat, serta Angga dan Dani dari Kemenkoan Eksternal menyusulnya masuk ke dalam) tetap di sana.

Malamnya, saya mendapat kabar dan pemberitaan bahwa demonstrasi berlangsung ricuh. Ibu saya segera menelepon, memastikan anaknya sudah tidak ada di lokasi. Sesampainya di rumah pun saya langsung lihat berita TV One. Sayang banget deh nih reporter umumnya menggeneralisir bahwa yang berbuat rusuh adalah mahasiswa (+ buruh deh). Plus ramenya emang di sore hari. Gw ada di tempat bro. Dan teman-teman gw dari ITB ‘udah balik duluan, begitu pula dari UI, UNJ, dll. Ya barangkali emang ada beberapa yang nyangkut di lokasi tapi tetap atas nama perguruan tinggi, aksi sudah out dari sore hari.

Noted: Tapi sebenarnya kalaupun saya bawa kamera, kayaknya saya emang pasti mutusin buat tetap di lokasi sih hehehe

Ya, sekiranya cuma segitu pengalaman saya ikut demo ke Jakarta. Inti dari tulisan ini adalah … bahwa tidak semua mahasiswa yang berdemo akan berlaku rusuh dan provokator itu pasti ada. Entah dari mana datangnya. Dan saya berusaha lebih moderat dalam mencerna pemberitaan media mengenai demonstrasi ini dengan cara melihat langsung di lokasi hehehe

*Dokumentasi oleh Dwininta W. dan Husein S., anak ITB juga*

Kutipan : Tujuan Pendidikan

Harusnya pendidikan itu…

1. Mempertajam kecerdasan

2. Memperkokoh kemauan

3. Memperhalus perasaan

 

Maka, yang semestinya diajarkan itu …

1. Pendidikan ketrampilan dan ilmu pengetahuan

2. Pendidikan berorganisasi, bergaul, dan berdemokrasi

3. Pendidikan yang berorientasi ke bawah (grass root)

 

- Eko Prasetyo-

Ringkasan : Pro-Kontra Pengurangan Subsidi BBM


Subsidi BBM, dari naskah RAPBN dan Nota Keuangan, adalah “pembayaran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia kepada Pertamina (pemegang monopoli distribusi BBM di Indonesia) dalam situasi dimana pendapatan yang diperoleh Pertamina dari tugasnya menyediakan BBM di Tanah Air lebih rendah dibandingkan biaya yang dikeluarkannya untuk menyediakan BBM tersebut”.

Biar cepat, saya langsung coba rangkumkan argumentasi pro-kontra terhadap pengurangan subsidi BBM.

Tapi ingat dulu bahwa kebijakan mengenai BBM ini meliputi:

  1. Diberlakukan mulai tanggal 1 April 2012
  2. Pengurangan subsidi BBM *penekanan ada pada pengurangan subsidi BBM-nya, bukan kenaikan harganya. jangan negative thinking dulu* untuk mengurangi beban APBN (dapat menghemat sebesar ± Rp 50 Triliun).
  3. Kompensasi berupa pemberian Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLSM) sebesar ± Rp 26.5 Triliun.

Berikut ini berbagai argumentasi yang mendukung pengurangan subsidi BBM per 1 April 2012 :

1.   Ketersediaan SDA minyak makin berkurang, maka perlu digunakan secara bijak.

Harga BBM yang murah di Indonesia dibandingkan dengan beberapa Negara di luar, menyebabkan konsumsi BBM amat tinggi. Ketergantungan terhadap minyak sebesar 48.4%. Pengurangan subsidi BBM otomatis menyebabkan kenaikan harga BBM. Diharapkan kenaikan harga ini mendorong agar masyarakat berhemat. Lebih lagi kalau bisa mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi.

2.   Subsidi dari awal tidak tepat sasaran, jadi tak apa dikurangi.

Lagu lama bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran karena 40% lebih konsumsi BBM digunakan oleh kelompok berkemampuan atas di Indonesia. Jadi tak apa mengurangi subsidi BBM karena sedari awal orang-orang mampu lah yang akan banyak membayar.

3.   Diversifikasi dilakukan secara paralel dengan pencabutan subsidi.

Melihat Negara Brazil yang sudah menerapkan diversifikasi energi, bahwa mereka dahulu berkorban untuk mengalami ‘musibah’ nasional sembari mengembangkan sumber energi selain minyak. Pengorbanan itu selalu ada!

4.   Konsekuensi logis untuk mengimpor

Konsekuensi Logis Sistem PSC membuat Indonesia mengekspor minyak mentah ke luar negeri, sehingga minyak mentah yang masuk ke kilang ±570 ribu barrel. Kapasitas kilang Indonesia sebesar 1,157 juta barrel. Sementara konsumsi BBM di Indonesia sudah mencapai 1,3 juta barrel. Konsumsi yang tinggi ini memaksa Indonesia harus impor BBM meski ada yang diekspor pula.

5.   Mendukung karena enggan terjadi demonstrasi.

Frame yang terbangun adalah, menyatakan sikap menolak berarti –> demonstrasi. So, dukunglah pengurangan subsidi BBM agar tidak terjadi demonstrasi.

Rasanya saya belum tahu lagi alasan lain.

Sekarang, berikut ini berbagai argumentasi penolakan terhadap pengurangan subsidi BBM per 1 April 2012:

1.   Perhitungan yang aneh dan belum ada kejelasan alokasi dana.

Aneh saat pemerintah memutuskan untuk menghemat sekitar Rp 50 Triliun melalui alokasi subsidi BBM, namun memberikan kompensasi berupa Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLSM) ke 74 juta warga miskin yang besarnya Rp 25 Triliun + untuk angkutan umum sekitar Rp 5 Triliun. Cuma dapat Rp 20 Triliun.

Dikemanain? Isu santer beredar sebesar 13,6 Triliun akan digunakan untuk belanja Negara #BaruIsu. Namun, karena belum ada sosialisasi yang pasti mengenai ke mana saja dana yang dihemat dengan pengurangan subsidi BBM tersebut, maka bingunglah.

Bagi yang menggunakan argumen ini pastilah menolak pengurangan subsidi BBM per 1 April, dan meminta agar pemerintah mengkaji ulang alokasi dana dari penghematan subsidi BBM.

2.   Penggunaan dana APBN tidak efisien.

–> APBN bocor rata-rata 30% tiap tahun (Dr. Fuad Bawazier, Mantan Menteri Keuangan RI).

–> Belum sehatnya proses pengadaan selama ini menyebabkan keuangan negara mengalami “kebocoran” antara 10% – 50% per tahun (Agus Raharjo, Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah)

Mengutip kalimat Sudjiwo Tedjo kurang lebih seperti ini, “Aku ngerti klo BBM memang harus naik, tapi ini bukan masalah harganya apa bukan. Ini kekecewaan yang ‘udah numpuk!

Pernyataan kebocoran memang belum disertai data memadai mengenai sektor mana saja yang bocor. Namun, melihat anggaran lalu-lalu yang banyak digunakan untuk biaya studi banding, renovasi ruangan rapat, dll. Hal inilah yang kemudian menimbulkan sakit hati masyarakat.

Mengapa membebankan penghematan APBN ke masyarakat umum *BBM saat ini menjadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat*, bukannya mengefisiensikan penggunaan dana APBN?

3.   Sudahkah kembali melirik Blueprint Pengelolaan Energi Nasional?

Banyak yang telah sadar bahwa konsumsi BBM di Indonesia itu terlampau tinggi sementara persediaan minyak kian menurun. Oleh karena itu, mungkin terpikirkan bahwa kenaikan harga BBM-lah yang paling tepat agar konsumsi berkurang. Padahal sedari dulu sudah amat banyak pihak mengusulkan agar diversifikasi sumber energi segera ditingkatkan dan jangan lupa bahwa Indonesia memiliki Blueprint PEN 2006-2025.

Masalah pengurangan subsidi BBM ini sesungguhnya dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Mau pilih dilaksanakan paralel (harga BBM naik, dan infrastruktur mulai dibenahi) atau… Harga BBM harus naik, tapi apakah saat ini adalah saat yang tepat? Ketika sarana-prasarana untuk meningkatkan diversifikasi energi belum memadai serta transportasi massal masih harus diperbaiki? Sementara daya beli masyarakat pun tak kunjung meningkat.

4.   Rakyat tercekik

Pengurangan subsidi BBM –> Kenaikan harga BBM –> Kenaikan harga bahan pokok (pangan dll) <– *dibenturkan* Daya beli masyarakat tidak meningkat.

Argumen ini sepertinya merupakan argumen paling sederhana yang dikemukakan. Kenaikan harga BBM sebesar Rp 1500/liter dapat memicu kenaikan inflasi 2.15%, penurunan daya beli 2.10%, penambahan kemiskinan 0.98%.

Yang mengusung argumen ini pastilah meminta agar pemerintah terlebih dahulu memberi ruang kekondusifan bagi industri dan UKM agar nantinya dapat memperluas lapangan pekerjaan. Juga pembenahan transportasi massal dan infrastruktur pendukung lainnya. Ya kumur-kumur sana.

Padahal masyarakat bayar pajak, dan uang itulah yang dikelola oleh pemerintah agar dapat menyejahterakan masyarakat melalui ketersediaan sistem, fasilitas, sarana-prasarana, dll. Kalau tidak dikelola untuk masyarakat secara luas, lalu?

5.   PNBP dan PPh (Pajak Penghasilan) dari Migas seharusnya sudah mencukupi untuk menutupi kebutuhan subsidi BBM.

Pada   APBN 2012 dicantumkan, persentase subsidi energi terhadap APBN sebesar 14,79% sementara persentase total pendapatan Negara dari migas terhadap APBN sebesar 15,35%. Namun, mengapa Negara masih kekurangan dana? Hal ini *konon kabar* dikarenakan perusahaan-perusahaan migas yang ada di Indonesia banyak yang tidak membayar pajak sesuai dengan jumlah yang diwajibkan, dan ini berlangsung dari tahun ke tahun. Artinya, tidak terdapat tindakan tegas dari pemerintah terhadap permasalahan ini.

Di samping itu, PNBP dan PPh Migas menunjukkan tren naik tiap tahun, sehingga tidak ada alasan bahwa harga minyak dunia naik maka kekurangan dana untuk mensubsidi BBM.

6.   Jumlah penerima BLSM berbeda dengan data BPS.

Tahun 2011, jumlah penduduk kategori miskin yang tercatat di Biro Pusat Statistik (BPS) sejumlah 30 juta. Namun, pemerintah ingin memberikan kompensasi berupa BLSM yang ditargetkan kepada 74 juta jiwa penduduk miskin (?)

7.   Mengubah mekanisme distribusi BBM bersubsidi lebih tepat ketimbang harus mengurangi subsidi.

Jika pemerintah mengatakan bahwa distribusi BBM bersubsidi tidak adil karena 53%-nya dinikmati oleh pengguna kendaraan bermotor pribadi, maka jawabannya bukan dengan menaikkan harga, tetapi bagaimana mengendalikan distribusi BBM secara terkendali, akuntabel dan transparan, sehingga distribusinya dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga subsidi  memang tepat guna, diberikan kepada yang benar-benar membutuhkan (motor, angkutan umum, kapal nelayan, dll) yang memang layak  disubsidi. Kenaikan harga BBM jika tidak dibarengi dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat, toh sama saja.

8.   Indikasi salah urus di sektor Pengelolaan Produksi & Distribusi Nasional

Berapa sesungguhnya kapasitas produksi minyak Pertamina? Kenapa terus menurun? Bocor kemanakah? Berapa tingkat kebocoran yang terjadi? Sudahkah kinerja BUMN menunjukkan performa sehat? Ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terungkap ke publik.

Padahal seharusnya masyarakat senang jika terjadi kenaikan harga minyak dunia, bukannya dianggap sebagai bencana, jika target produksi dalam negeri oleh Pertamina tercapai. Dari sini sudah terlihat indikasi adanya ‘salah urus’ di sektor pengelolaan produksi dan distribusi nasional. Kalau minyak jadi semakin mahal maka pajak penerimaah bagi Negara meningkat, sehingga keseimbangan kenaikan dan penerimaan pun terjadi.

9. Kenaikan harga BBM diperkirakan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengurangan konsumsi BBM.

Argumen pro, salah satunya ialah dengan kenaikan harga BBM menjadi Rp 6000/ liter diharapkan masyarakat terstimulus untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Salah satu contoh, sektor pertanian-perkebunan warga (yang tidak tergolong industri) tidak dapat dipungkiri bahwa distribusi bahan pangannya masih menggunakan kendaraan roda dua/empat. Apabila jumlah produksi tetap, dengan prasarana trasnportasi juga tetap, maka konsumsi BBM pun otomatis akan tetap. Frekuensi distribusi juga tetap. Yang berbeda? Harga BBM-nya meningkat Rp 1500/liter.

Untuk pengguna kendaraan pribadi, sepertinya memang harus melalui wawancara atau survei yang lebih komprehensif. Paragraf di atas sekedar contoh bagi masyarakat non industri.

Lantas bagaimana agar pengguna kendaraan pribadi berkurang? Solusi yang muncul ialah dengan menaikkan pajak kendaraan bermotor agar jumlah permintaan makin menurun.

10.  Kenapa harus ekspor minyak?

Konsumsi rata-rata minyak Indonesia: 1300 million barrel crude oil per day (MBCD), sedangkan rata-rata lifting minyak Indonesia: 950 MBCD. Dari 950 itu sekitar 395 MBCD diekspor ke luar negeri.

“Kenapa kok ngekspor, padahal kebutuhan dalam negeri saja tidak mencukupi?”
Karena pemilik 395 MBCD ini bukan pemerintah, tapi perusahaan asing contohnya Exxon, BP, Chevron, dsb. yang diatur dalam UU Migas. Sehingga kebijakan ekspor sekitar 395 MBCD ini bukan wewenang pemerintah, tapi sepenuhnya hak perusahaan-perusahaan tersebut.

Maka untuk memenuhi defisit ini, pemerintah mengimpor BBM sekitar 340 MBCD dan minyak mentah 313 MBCD untuk kemudian diolah Pertamina. Sehingga jelas bahwa memang Indonesia sekarang negara pengekspor dan pengimpor minyak mentah.

Dengan argumen ini, maka renegosiasi kontrak royalti di sektor migas dan pertambangan lah yang paling konkret. Bahkan bisa sampai revisi UU Migas.

11.  Pesanan asing?

Dalam Letter of Intent (LOI) Indonesia dengan IMF berbunyi, “To achieve this objective, the government intends to adjust administered prices of petroleum products and electricity before the next fiscal year, with a view to eliminating subsidies for these products.”
Poin nomor 12.

Wah ternyata sudah 11 poin. Lupa apalagi, tapi sepertinya masih ada.

Tulisan ini sekedar sebuah rangkuman argumentasi.

Mengutip kalimat Ridwan Kamil,

Kenaikan BBM seperti ingin memecah belah kita. Yang pro alasannya ilmiah dan logis. Yang kontra alasannya masuk akal dan manusiawi.

Kalau saya sih, yang penting jangan lupa. This!

Kata seorang teman yang mendalami ilmu ekonomi, dalam memutuskan kebijakan itu ada beberapa analisis. Dua yang disebutkan, analisis positif-negatif (umumnya kuantitatif untung-rugi) dan analisis normatif, menyangkut baik-buruk. Kecenderungan sekarang ialah analisis positif-negatif yang menjadi prioritas. Terlihat-kah?

Lalu, kepada apakah kamu berpegang?

*Nih tulisan argumen & datanya dari berbagai sumber. Kutipannya juga. Ternyata ngerangkum itu lama juga.

DIJAJAH! -Kutipan

“Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia. Karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya, di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah.”

Pramoedya Ananta Tour

One Day One Food – Berbagi Setiap Hari

Jangan percaya sama logo di atas!

Logo tersebut bukanlah logo dari sebuah gerakan masif, melainkan logo buatan hasil keisengan saya hehehe

Pasti akhir-akhir ini mas/jeng sering mendengar istilah “One Man One Tree. Satu Orang Satu Pohon”, yaitu gerakan menanam pohon. Terinspirasi dari ear catching-nya istilah tersebut, maka saya memutuskan untuk menamai komitmen pribadi ini dengan kalimat sejenis.

Apa itu “One Day One Food”?

One Day One Food adalah sebuah gerakan personal yang memiliki tujuan untuk berbagi rejeki ‘tepat guna’ terhadap sesama manusia. Gerakan ini sudah terpikirkan sejak akhir tahun lalu dan mulai saya realisasikan sejak 1 Januari 2012.

Konsepnya adalah memberikan satu porsi makanan dalam satu hari kepada siapapun. Namun, karena tujuannya adalah ‘tepat guna’, maka definisi ‘siapapun’ di atas tentunya lebih baik ditujukan kepada orang yang membutuhkan alias manusia-manusia yang untuk memenuhi kebutuhan perutnya sendiri saja sulit. Biasanya makanan ini merupakan makanan yang dilebihkan satu porsi ketika memasak, atau membagi jatah masakan sendiri menjadi 2 porsi.

  • Mengapa ‘tepat guna’?

Pasti sering deh mas/jeng malas ngasih duit ke pengamen atau pengemis karena pun sering muncul dalam pikiran kita kalimat-kalimat sejenis ini …

‘Palingan dibuat beli rokok ni duit. Malas ngasi ah’

‘Ah, ini duit sih bakal dikasi ke bosnya ‘aja kali. Ogah ngasi deh’

‘Nggak deh. Kebiasaan minta-minta ini entar nggak ilang-ilang klo terus-terusan dikasi duit’

Nah, demi mencegah aumsi-asumsi tersebut makin menggerogoti pikiran namun akhirnya malah jadi penghalang untuk ngasih rejeki, yasud. Kasih makanan dong pastinya! Nggak disetor ke bos dan nggak disalahgunain buat ngerokok, ngelem, atau mabok. Perutnya kenyang pula.

  • Tapi kan namanya tetap ‘ngasih’? Kalau keseringan dikasi makanan pun pasti mereka ketagihan kan?

Nah!!! Makanya objeknya harus bervariasi. Orang yang dikasi jangan itu-itu terus. Contohnya senin untuk pengemis yang tidur di samping masjid, selasa untuk pengamen yang mainin lagu Bond dengan sangat ciamik, rabu untuk anak kecil dari ciroyom yang suka nyari ikan di kolam samping lab GKU Timur, dll. Percayalah objek yang dituju itu tidak direncanakan, tapi spontan hari itu juga seketemunya.

Ngasihnya nggak setiap hari ini ke 1 orang ini dimaksudkan supaya mereka (si objek) pun nggak merasa sudah punya ‘donatur perut tetap’ yang dicemaskan bisa memupuk rasa malas untuk nggak bekerja karena selalu menunggu orang ngasih makan.

Jahat sih, tapi saya pernah berhubungan dengan orang-orang semacam ini. Faktanya bahwa dikasih itu nagih! So, perlu dilakukan trik untuk meminimalisir supaya mereka pun nggak ketergantungan dengan itikad baik tersebut.

  • Ngasi makan doang itu setengah-setengah amat ngebantunya…

Nah kalau contoh nggak setengah-setengah apa? Misalnya, ngasi rumah singgah agar mereka punya tempat untuk bisa berlatih wirausaha dengan keterampilan yang diasah, atau memberi lapangan pekerjaan sekalian. Prosesnya panjang menuju ke sana. Tapi dengan alokasi waktu yang masih harus diprioritaskan untuk kegiatan akademik-nonakademik di kampus, masih dibekap dulu niatnya untuk ke arah sana.

Ya lebih baik ada sesuatu yang diberikan daripada nggak sama sekali.

Meskipun masih bolong-bolong juga nggak setiap hari bisa konsisten ngasih makanan, yang penting kan komitmen ini jalan dulu, bahkan sekarang-sekarang ini mulai setiap hari rutin dilakukan. Namanya juga belajar.

Yuk ikutan! #BerbagiSetiapHari

Persepsi Tentang Obral Janji

Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Modernisasi Cerita Rakyat

Judul                     : Lutung Kasarung

Bintang Tamu    : Laudya Cyntia Bella, Chico Jericho

Pemain                 : Nadhira Ulya, Astri Hapsari, Indra Yogaswara, Indra Andika Arifiana

Sutradara            : Didi Petet

Genre                   : Drama musikal

Lokasi                    : Sasana Budaya Ganesha, Bandung

Durasi                   : 2,5 jam

 

Drama musikal Lutung Kasarung, yang digagas oleh Dede Yusuf, ditampilkan sejak tanggal 27 Desember 2011 – 1 Januari 2012 di Sabuga dengan waktu pertunjukan terbagi dalam 2 shift (tapi tidak semua hari) yakni siang pukul 14.00 dan malam pukul 19.30. Kebetulan saya hadir dalam premiernya, yakni tanggal 27 Desember 2011 malam sehingga berkesempatan mendapatkan pertunjukan perdana dari tim inti (terbagi menjadi 2 tim, tim inti untuk shift malam dan tim2 untuk shift malam).

Drama musikal Lutung Kasarung mengisahkan kembali cerita rakyat Jawa Barat “Lutung Kasarung” dalam gaya modernisasi. Musikal? Ya, seluruh dialog yang terjadi dalam pertunjukan dilantunkan oleh masing-masing pemeran yang (sepertinya) kesemuanya DAPAT BERNYANYI DENGAN MERDU.

Dalam salah satu talkshow di stasiun TV nasional, Didi Petet selaku sutradara mengatakan bahwa seluruh pemeran yang jumlahnya 100-an orang itu ‘bisa nyanyi’. Setelah melihat pertunjukan, hahaha benar saja. Di pipi para pemeran terpasang microphone yang mana menunjukkan bahwa lantunan dialog benar-benar berasal dari mulut mereka.

Selain dialog yang sedap didengar, pertunjukan pun turut sedap dilihat karena kekompakan tarian dan tentu saja (gorgeous) kostum yang begitu ‘wah’ membawa kesan tradisional tapi ala masa kini.

 

foto dari page facebook Musikal Lutung Kasarung

Drama musikal ini diperankan oleh 100 orang lebih dari penjuru Jawa Barat. Setelah melihat booklet yang dibagikan, wah ternyata sebagian besar para pemeran yang berhasil lolos melewati berbagai tahap audisi ini memang punya background yang tak jauh dari dunia entertainment. Ada yang pernah menjadi mojang jajaka, juara menyanyi, serta juara dance & koreografi.

Pertunjukan ini adalah kedua kalinya saya menonton drama musikal (bukan diadakan oleh Unit Kegiatan Mahsiswa di ITB) setelah acara “Napak Tilas Ganesha” yang dulu diprakarsai oleh Purwatjaraka. Tapi, hasilnya jauh hehehe. Memang bakal beda hasil sih antara mahasiswa yang beraktifitas dalam unit seni budaya dengan audisi serius dari profesional skala Jawa Barat. Nyebutnya mah, pasarnya juga beda sih.

Sayangnya, penampilan perdana ini tidak didukung dengan kesiapan teknis yang sangat mumpuni. Beberapa kali mic di pipi pemeran tidak berfungsi dengan baik sehingga harus ada 1 orang nyempil di panggung untuk memberikan mic cadangan.  Selain itu, ada adegan di mana duet tukang bubur favorit rakyat Pasir Batang : Maman & Titin muncul dari sekeliling penonton, yang tidak disorot oleh lampu sorot. Sayaaang sekali. Tapi mungkin di pertunjukan selanjutnya hal ini sudah dibenahi.

Oh iya, satu hal lagi. Saat di Sabuga rasanya saya menjadi pencilan di antara ribuan penonton lain. Mengapa? Karena mayoritas orang tua yang datang menonton hehehe. Semoga ini bukan berarti cerita rakyat sudah tidak menempati hati para pemuda hehehe

Selamat menikmati pertunjukan!

 .

SINOPSIS CERITA RAKYAT : LUTUNG KASARUNG

Alkisah di Negeri Pasir Batang, berdiri kerajaan dipimpin oleh Raja yang arif nan bijaksana. Sang Raja pergi, namun sebelumnya ia bertitah agar kedudukannya digantikan oleh sang bungsu yang dianggap paling pantas karena memiliki tulus hati dan kebijaksanaan, yakni Purbasari. Namun, sembari menunggu Purbasari menjadi insan yang dewasa, Purbararang, sang sulung lah yang memegang tampuk kepemimpinan sementara.

Di bawah kepemimpinan Purbararang, rakyat Pasir Batang perlahan mengalami transformasi kesejahteraan hidup. Purbararang membuat kebijakan untuk menaikkan pajak dengan dalih agar rakyat Pasir Batang hidup sederhana. Padahal dana pajak pun digunakan untuk kepentingan istana. Hal ini menyebabkan rakyat mulai sering berdemo meminta agar Purbararang segera digantikan oleh Purbasari.

Purbararang jengah. Ia menjebak Purbasari dengan memberinya lulur beracun agar kulit Purbasari rusak. Gadis itu berganti menjadi seorang yang buruk rupa sehingga diusir dari istana. Ia lari ke dalam hutan belantara. Untunglah sang Inang, Ibu pengasuh, menemaninya sehingga ia tak sendirian.

Di tengah hutan, Purbasari & Inang bertemu dengan seekor lutung sakti yang dapat berbicara. Tak lama, datang Aki Panyumpit ke dalam hutan, seekor laki paruh baya yang disuruh Purbararang menangkap lutung untuk dimakan pada pesta memperingati kepergian Purbasari.  Lutung Kasarung rela menyerahkan diri karena iba terhadap sangsi yang akan diberikan kepada Aki Panyumpit jika tidak pulang membawa lutung : penggal kepala.

Di istana, Lutung Kasarung malah berbuat onar dan melarikan diri kembali ke hutan sebelum ia disembelih. Purbararang tentu saja murka. Disuruhnya prajurit istana menangkap Lutung Kasarung.

Pada saat yang bersamaan, rakyat Pasir Batang yang sudah tak tahan lagi terhadap kepemimpinan Purbararang mengadakan demonstrasi besar-besaran. Momen inilah yang menarik simpati Lutung Kasarung untuk mengajak Purbasari segera kembali ke istana dalam rangka memulihkan keadaan Negara.

Dengan kepasrahan dan doa, kulit Purbasari berangsur-angsur kembali bersih dan ia turut mendapat kepercayaan diri atas dorongan Inang dan Lutung Kasarung. Maka, pergilah ia ke istana Pasir Batang.

Sesampainya di istana, Purbararang yang telah menduga kedatangan Purbasari, telah menyiapkan tiga buah tantangan. Jika ia berhasil memenangkan seluruh tantangan, maka kursi kepemimpinan akan Purbararang serahkan padanya.

Tantangan pertama adalah menjahit sebanyak-banyaknya kain. Purbararang berhasil menjahit 35 helai kain dengan corak yang beragam. Namun, dengan bantuan doa Lutung, Purbasari ternyata berhasil melampauinya dengan menjahit 80 helai kain.

Tantangan kedua adalah menjinakkan banteng berkulit tebal. Purbasari awalnya enggan, namun Lutung Kasarung dan Inang menyakinkannya kembali. Ketika dihadapkan kepada Purbasari, sekejap banteng tersebut justru terpana dengan paras cantiknya, dan menjadi jinak. Purbasari lagi-lagi berhasil melewati tantangan Purbararang.

Tantangan ketiga adalah membandingkan pasangan. Purbararang bersuamikan Indrajaya, pangeran negeri seberang yang telah diakui ketampanannya, melawan Lutung Kasarung. Juri memutuskan pemenang adalah Purbararang.

Keputusan yang aneh dilontarkan oleh juri, yakni Purbararang sebagai pemenang tantangan karena telah menang dalam tantangan terakhir. Maka, konsekuensinya adalah penggal kepala Purbasari. Lutung Kasarung marah. Terjadi perkelahian antara Lutung dengan Indrajaya dan prajurit yang mengakibatkan Lutung terbunuh.

Sembari Purbasari dan rakyat menangisi Lutung, datanglah Sunan Ampu. Ia adalah dewi yang mengutuk Lutung. Setelah mengamati perilaku Lutung yang santun dan ketulusan hatinya membantu Purbasari, ia mengembalikan wujud Lutung menjadi seorang pangeran serta menghidupkannya kembali.

Rakyat bersukacita dan menyerang istana. Akhirnya, Purbararang dapat dijatuhkan. Purbasari, sesuai dengan amanah ayahanda, kemudian menjadi pemimpin Negeri Pasir Batang dan hidup bahagia bersama sang pangeran.

Resolusi 2012?

Hmm…familiar sekali ya kata ini sekarang-sekarang. Banyak orang mencanangkan pencapaian-pencapaian baru di tahun 2012. Ada yang serius sampai menyusun timeline, ada yang setengah-setengah, asal ada ‘aja. Ada juga yang tidak.

Saya sih tidak interest dengan momentum tahun baru, jadi begini-begini saja kehidupan.

Ngutip kata sudjiwo tedjo “klo aku orangnya sangat terencana, harusnya aku ‘udah jadi presiden cuk” hahaha *abaikan*

Menyusun resolusi. Ritual yang kerap dilakukan menjelang awal tahun baru.

Awalnya saya agak aneh dengan kata resolusi. Re- dan –solusi. Artinya… bukannya mengulang solusi ya? Jadi, hal yang belum tercapai di waktu-waktu sebelumnya, ya diulang lagi. Di re- lagi supaya tercapai. Dan begitu seterusnya.

So, menurut saya cuma ada sebuah solusi paten dalam kehidupan manusia.

Akar dari semua target yang ingin dicapai.   

hehehe… yang ini IMO saja

Berdasarkan apa yang saya tulis di atas, otomatis solusi yang ingin saya targetkan kembali di tahun 2012, dan di tahun-tahun berikutnya adalah … *jeng jeng jeng jeeeng*

 

1. Jadi manusia

Emang lo bukan manusia?

Saya manusia, secara jasmaniah.

Secara rohaniah? Belum tentu.

Manusia yang benar-benar ‘manusia’ pasti tahu untuk apa ia dilahirkan ke dunia.

Tak lain tak bukan adalah untuk beribadah *nah kalau ini berdasarkan agama saya*

Makanya, mari tingkatkan : Hablum minallah. Hablum minannas yuk yuk yuk

 

2. Jadi merdeka

Saya punya definisi sendiri tentang kata ‘merdeka’. Merdeka itu…bebas. Yaaa, memang bebas sih artinya. Tapi sebebas apa? Bagi saya, orang yang merdeka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebebasan, dengan catatan memiliki pribadi yang kokoh.

Prinsip hidupnya adalah semau-gue hehehe.

Maksudnya, apa-apa yang dijalani dalam hidup atas dasar apa yang diyakininya. Gimana caranya memiliki keyakinan? Dilakukan secara moderat, yaitu siap mempertimbangkan segala sudut pandang demi kepentingan yang baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Bukan menjadi seorang mainstream dalam berpikir dan berbuat.

Beuh ribet ya mana ngerti *jangan-jangan yang nulis ‘aja nggak ngerti*

Hmm mungkin bisa dibilang, jadi orang moderat yang semau-gue!

Pokoknya apa-apa semau-gue, mau dibilang gila kek, dibilang cupu kek, dibilang keren kek, yang penting suka-suka gue. Tapi… suka-sukanya harusnya sih yang bermanfaat. Kan katanya mau jadi  ‘manusia’.

Sudah. Sekian saja deh, sudah malam.

Seberapa banyak, panjang, dan mewahnya resolusi mas/jeng, saya ucapkan : selamat menjalani resolusi ya!