Menjadi “Manusia” Dalam Kehidupan Penjara

Judul                    : HARMONY

Pemeran             : Kim Yoon-Jin, Nah Moon-Hee, Kang Ye-Won

Sutradara           : Kang Dae-Kyu

Genre                   : Drama

Durasi                  : 114 menit

Berkisah kehidupan dalam penjara, Moon-Ok, seorang wanita paruh baya yang menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di balik jeruji besi karena dakwaan membunuh suami dan ibu mertuanya yang selingkuh. Dalam penjara, ia tinggal dalam satu bilik bersama Jeong-hye yang didakwa saat sedang hamil sehingga harus membesarkan bayinya dalam penjara wanita, serta tiga pidana lain: Yeon-sil, Soon-yi, dan Yumi. Mereka juga bersahabat dengan Kong, seorang sipir muda.

Jeong-hye terinsipirasi oleh sebuah grup paduan suara (choir) yang pernah datang ke penjara, untuk membuat choir beranggotakan para penghuni penjara. Ia bersikeras memohon kepada Kepala Penjara agar diberi waktu mengorganisir pembentukan choir tersebut, dan jika sukses ia sekaligus meminta agar dapat keluar satu hari bepergian keluar bersama anaknya, Min-woo, yang belum pernah melihat dunia luar penjara sejak pertama dilahirkan.

Moon-Ok yang dulunya seorang profesor musik di sebuah universitas, ditunjuk oleh Jeong-hye untuk memimpin choir. Ia menamakan grup tersebut: Harmony Choir. Karena latar belakang kehidupan di balik jeruji besi cukup keras, awalnya ketidakcocokan antar anggota choir sempat terjadi namun Moon-Ok, sekaligus sebagai yang dituakan, berusaha menekankan sikap keterbukaan anggota-anggota Harmony Choir agar tercipta hubungan yang harmonis dalam grup, serta dalam kehidupan penjara.

Enam bulan waktu yang diberikan oleh Kepala Penjara ternyata mampu menelurkan choir yang cukup menghibur. Kepala Penjara yang terkesima dengan semangat dan enerjik yang ditampilkan oleh para penghuni penjaranya akhirnya mengijinkan Harmony Choir untuk terus berjalan dan menjadi grup yang diakui oleh institusi penjara.

Hingga empat tahun kemudian grup ini mendapat kesempatan tampil dalam sebuah acara bergengsi perayaan Natal di Korea Selatan, yang akhirnya sedikit-banyak meningkatkan situasi emosional para penghuni penjara. Karena diijinkannya mereka mengajak anggota keluarga menonton pertunjukan Harmony Choir tersebut.

Harmony bukanlah sebuah film musikal meskipun mengangkat isi cerita tentang “paduan suara”. Karena beragam latar belakang kehidupan penghuni penjara lah yang ditonjolkan dalam film ini. Semisal, telah lewat 18 bulan sejak Jeong-hye melahirkan Min-woo, tiba saatnya Min-woo harus diserahkan ke panti asuhan untuk diadopsi. Tentang Moon-Ok, yang tidak pernah lagi diakui sebagai ibu oleh kedua anaknya setelah masuk penjara. Serta Yumi, yang selalu dihantui bayang-bayang kemarahan sang ibu. Beragam kisah tersebut membuat hampir sepanjang alur film diliputi oleh situasi haru.

Film ini berusaha menaikkan emosional penonton terus-menerus sampai pada klimaks yakni adegan pertemuan antara penghuni penjara dengan anggota keluarga masing-masing setelah penampilan Harmony Choir. Bahkan sampai pada ending, di mana Moon-Ok … (eits dikosongin ah biar penasaran).

Di luar sisi emosional, sebetulnya terdapat pesan moral kehidupan yang dapat diambil dari cerita film ini. Kasih sayang ibu-anak-teman, menciptakan ‘keluarga’ dalam kehidupan baru, dan cekcok yang sudah biasa namun terselesaikan. Film ini turut menyadarkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui kapan waktu hidupnya akan habis, sehingga patut untuk mempertanyakan ‘sudah berbuat apakah kita sehingga mampu membahagiakan diri sendiri dan orang lain?’ Maka maksimalkan kehidupanmu.

Serta moral lain yang sangat menyentuh.

Bagi orang-orang yang sedemikian tersakiti hatinya oleh orang lain. Selalu ada kesempatan memaafkan dan dimaafkan untuk setiap kesalahan besar yang diperbuat oleh manusia, pada waktunya.

Selamat menikmati.

ITB #Keluarga Lebak Siliwangi

Minggu tanggal 4 Desember 2011, difasilitasi oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB, diadakan pertemuan yang bertujuan sebagai inisiasi awal dalam upaya menjalin silaturahmi lebih baik antara pihak ITB dengan masyarakat sekitar.

Dihadiri oleh Ust.Nur Rachman dan Satria Bijaksana selaku perwakilan YPM Salman, Pak Iwan selaku Ketua RW 3, Pak Wedyanto perwakilan rektorat (SarPras) sekaligus Ketua RT 4, Pak Vedyanto selaku Ketua RW 4, dan Kang Arief, alumni A’05 sekaligus orang yang pernah menjadi Ketua RT saat masih mahasiswa.

Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dengan isi perbincangan seputar harapan-harapan perwakilan warga terhadap mahasiswa ITB.

Pak Wedyanto memulai dengan berkata bahwa kampus kita ITB ini luas tapi janganlah seperti katak dalam tempurung yang nyaman dalam tempurungnya saja. Mungkin sekali untuk membuat kegiatan yang tidak melulu tentang bazar atau band, tapi kegiatan berkontribusi ke masyarakat.

Begitu pula menurut Pak Nur Somaddin, Ketua Lurah. Beliau sedikit menerangkan, Baksil memiliki luas sekitar 100 ha. Terdiri atas 6 RW, 25 RT, dihuni oleh 4.442 jiwa dengan 1.086 Kepala Keluarga. Namun, secara real yang beraktifitas bisa berkali-kali lipat karena ada ITB di dalamnya dengan ITB sendiri penghuninya mencapai 10 ribu jiwa. Jadi, apa yang menjadikan mahasiswa ITB bukan bagian dari Baksil?

Baksil merupakan daerah strategis karena memiliki Sabuga, Saraga, kampus ITB, Pusat Nuklir, dll. Banyak potensi untuk mengembangkan masyarakat sekitar, dengan potensi terbesarnya adalah mahasiswa ITB itu sendiri. Yang dirasa aneh adalah besarnya potensi kampus ITB, tetapi warga Baksil sebanyak 228 KK masih miskin. Hal ini menimbulkan pertanyaan, “betul nggak anak ITB adalah bagian dari Baksil?”

Pertanyaan lain yang muncul di benak Pak Lurah. “Anak ITB kenapa tidak melakukan PM di tempat yang dekat-dekat dulu? Karena masyarakat kita juga sebetulnya membutuhkan. Kegiatan apapun, kami terima. Apapun bisa dilakukan oleh anak ITB. Tidak perlu bingung karena ‘tidak sesuai keilmuan kami’ maka tidak jadi PM di Baksil.

Kami berharap bukan cuma jenius otaknya, tapi juga hatinya.”

Kegiatan di Baksil, Dahulu & Sekarang

Baksil sendiri tidak terdiri atas warga saja, akan tetapi juga komunitas-komunitas yang terbentuk di dalamnya. Termasuk komunitas anak dan pemuda. Kegiatan pemuda di Baksil saat ini sedang banyak. Makanya ITB main lah. Kami mengundang mahasiswa untuk bertukar ide dengan pemuda Baksil, ujar Pak Lurah.

Kang Arief menambahkan bahwa dahulu kami (teman-teman mahasiswa) punya kebanggaan beraktifitas di Baksil. Contoh, dulu pernah ada Forum Ganesha. Melalui wadah tersebut, mahasiswa turut melakukan bimbingan ke pedagang-pedagang Balubur yang terkena rentenir.

Pak Iwan ikut menambahkan. Jaman dulu, warga dengan mahasiswa dekat, intens berinteraksi karena mahasiswa pun banyak yang tinggal di rumah-rumah penduduk. Sekarang sudah tidak jamannya lagi tinggal bersama, mungkin karena hal tersebut jadi salah satu faktor kedekatan kita berkurang. Warga Baksil turut merasa kehilangan mahasiswa yang tinggal, sehingga tidak ada lagi yang mengajar anak-anak, mengajar ngaji, dll.

Apa Yang Ditawarkan di Baksil?

Banyak yang bisa kami tawarkan, kata Pak Iwan. Misalnya, pemetaan daerah Baksil untuk mitigasi bencana. Bagaimana seandainya terjadi bencana lalu masyarakat tidak tahu bagaimana cara berlindung?

Untuk kegiatan kesenian mahasiswa, coba saja latihan di daerah bantaran Cikapundung. Karena kebutuhan berkesenian masyarakat Baksil masih ada, jadikanlah sebuah kegiatan PM.

Terakhir, bagaimana mengatur PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar. Para PKL tahu mereka menempati lokasi yang salah, tapi karena ada konsumen yaitu mahasiswa maka mereka mencoba bertahan hidup (mencari uang) dari sana. Akibatnya pun jadi terasa saat ini. sbadan jalan digunakan lahan parkir. Bisa tidak kita cari jalan keluar untuk menggunakan kendaraan bersama? Dibanding memanfaatkan fasilitas yang tersisa namun merugikan.

Hal-hal kecil yang sebetulnya bermanfaat bisa saja digunakan. Misalnya teman-teman arsitektur memberi alat bermain kepada anak-anak di Baksil, mendekatkan diri dengan warga melalui pergantian kepengurusan mahasiswa yang dilakukan di daerah Baksil (baca: sertijab). Pak Iwan berkata, “Di ITB itu, kementerian mahasiswa kan berlaku hanya satu tahun. Jadi carilah kegiatan jangka pendek yang selesai pada saat itu juga.”

 

Ending

Bicara tentang identitas, mahasiswa ITB juga harusnya punya identitas. Kalau di tridharma Perguruan Tinggi, identitas mahasiswa ada tiga. Pendidikan. Penelitian. Pengabdian Masyarakat. Poin ketiga bisa jadi identitas lho.

Karena, identitas itu penting agar kita punya daya tahan.

Ada sebuah contoh yang menyentuh. Seorang teman pernah membuat bisnis di daerah Suci. Setelah menghasilkan profit, ia memberi modal kepada warga sekitar untuk membuat usaha konveksi sendiri. Akhirnya daerah tersebut ramai dengan bisnis sejenis. Namun, sang teman kemudian bangkrut sehingga harus pergi dari daerah tersebut. Setelah kepergian, ternyata… ada satu nilai yang dirindukan oleh warga terhadap sang teman, perasaan kehilangan. Itulah buah kepedulian terhadap warga sekitar.

Kang Arief FA’05

Semangat, teman-teman ITB!!! :)

intuisi

“The significant problems we face can not be solved at the same level of thinking we were at when we create them”

Masalah mendasar yang kita hadapi saat ini tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan level berpikir sebelumnya yang justru menciptakan masalah tersebut.

Albert Einstein

.

menunjukkan bahwa keyakinan atau intuisi-lah yang memang harus memandu kita dalam memecahkan persoalan-persoalan dasar umat manusia.