Menara Gading?!


“Kalau ada ITB, seharusnya bisa membuat kebaikan di sekelilingnya” Nia Pontoh, Dosen Teknik Planologi ITB

ITB di Ganesha secara lokasi dekat sekali dengan masyarakat, tapi kampus ini seolah seperti Menara Gading. Megah jika dibandingkan dengan sekelilingnya, dan terlampau kaku penghuninya. Kaku terhadap permasalahan sosial sekitar. Begitu istilah orang-orang  terhadap kampus ini.

Mobil-mobil berseliweran di Dago dan Tamansari, biasa mengambil jatah badan jalan sebagai tempat parkir. Yang seperti itu adalah salah satu hal yang menyuratkan pandangan masyarakat akan perbedaan gaya hidup antara mahasiswa ITB dengan masyarakat sekitarnya.

Ekspani ke Jatinangor, dalam rangka peningkatan jumlah SDM berkualitas. Semoga lewat ekspansi ini, keberadaan ITB ‘baru’ lebih bisa membawa kebaikan langsung di sekelilingnya. Pesan dari Rektor bahwa, kampus ITB di Jatinangor HARUS LEBIH BAIK daripada yang di Ganesha. Maka, jadilah rencana desain infrastruktur dan tetek bengek perencanaan baik akademik maupun nonakademik lainnya dioptimalkan demi mencapai tujuan tersebut.

Lahan di Jatinangor

Sebelum merambat kepada hal-hal lain, maka poin mendasar yang paling harus diketahui adalah lokasi dan status tempatnya. Lahan yang akan menjadi calon kampus kita di Jatinangor luasnya 2 kali daripada luas ITB Ganesha (On-Ganesha/On-G), jadi kalau On-G luasnya sekitar 28 ha, luas lahan di Jatinangor sebesar 56 ha. Dan terdiri atas 2 tempat, yakni lokasi pertama berseberangan dengan UNPAD, dan lokasi kedua di Tanjungsari, luasnya kira-kira 2 ha, masih naik lagi ke arah utara.

Lahan tersebut merupakan lahan UNWIM, sebuah universitas yang dimiliki oleh pemerintah provinsi Jawa Barat. Jumlah mahasiswanya sebesar 9000 mahasiswa dengan pengelolanya (yayasan) tidak perlu mencari uang karena sudah disuplai 30 miliar oleh pemprov Jabar.

Tahun 2006, ada Undang-Undang dari pemerintah yang melarang dana APBN diberikan untuk yayasan. Akibatnya, UNWIM tidak mendapat suplai dana untuk berkehidupan sebagai universitas. Maka, collapse-lah universitas ini.

Pemprov pun menawarkan kepada berbagai instansi untuk mengelola lahan ini. Ada UNPAD, STPDN, dll. yang menawarkan diri untuk mengelola, akan tetapi semua mundur karena tidak menerima kesepakatan untuk ikut mengelola mahasiswa dan karyawan yang masih berstatus civitas UNWIM. Jatuhlah penawaran tersebut kepada ITB, yang mau bertanggung  jawab atas civitas akademika yang masih ada di UNWIM. Hingga saat ini, sudah 242 karyawan UNWIM yang sudah berganti status sebagai karyawan ITB Jatinangor.

Sementara untuk mahasiswa UNWIM sendiri, pihak universitas masih akan menangani sampai semua mahasiswa lulus dan mendapat ijazah UNWIM. Mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lokasi kedua kampus ITB Jatinangor, di Tanjungsari.

Perencanaan Kebijakan Akademik

Di ITB Jatinangor, rencananya akan dibangun 12 prodi baru. Namun, semuanya akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2012 baru akan mulai dibuka penerimaan 5 prodi baru. Tiga dari SITH (Rekayasa Pertanian, Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pasca Panen) dan dua dari FTSL (Rekayasa Keairan bernamaTeknik Sumber Daya Air dan Rekayasa lingkungan bernama Infrastruktur Lingkungan Dan Sanitasi).

Selain S1, di kampus tersebut ITB juga akan didirikan jenjang D3, S2, dan S3.

FYI, civitas akademika yang ada di On-G saat ini sudah mencapai 22.000 orang. Pada beberapa tahun ke depan, jumlah tersebut akan dikurangi sampai 18.000 saja karena 4.000 sisanya akan dipindahkan ke kampus Jatinangor. Berujung pada tahun 2025, kampus On-G akan menampung 15.000 orang, kampus ITB Jatinangor sebanyak 7.500 orang, dan kampus ITB Bekasi sebanyak 7.000 orang.

Perencanaan Kebijakan Terkait TPB

Hingga saat ini, kebijakan yang ada terkait TPB masih berkutat pada dua alternatif. Yaitu, apabila pada tahun 2012 kebijakan menetapkan bahwa tidak ada TPB alias langsung masuk prodi, maka semua mahasiswa S1 akan masuk langsung sesuai dengan prodi-prodi yang ada. Tetapi, kalau kebijakan menetapkan ada TPB, maka seluruh TPB ITB dari semua fakultas akan di-asrama-kan di ITB Jatinangor selama setahun. Setelah melewati masa TPB, maka masing-masing akan dipisahkan sesuai lokasi prodi masing-masing. Berarti yang jurusannya Teknik Lingkungan, nanti mereka akan pindah ke kampus On-G.

Dalam asrama itu sendiri akan disediakan mentor dan kegiatan-kegiatan keasramaan lainnya demi mendukung perkembangan karakter mahasiswa serta tutorial akademik dan kegiatan lain yang menunjang pemenuhan akan kebutuhan akademik.

Sarana-Prasarana, Dan PENDANAAN

Yang paling menarik dari membicarakan masterplan pastinya soal duit ya. Dana total perencanaan perealisasian masterplan ITB Jatinangor ialah sebesar 2 TRILIUN, dan dana yang akan turun tahun ini sebesar 200 miliar. Sebenarnya, untuk infrastruktur apa saja sih?

1. Sampai saat ini, infrastruktur yang sudah dibenahi adalah ruang-ruang kelas dan laboratorium TPB (Kimia Dasar, Fisika Dasar, Komputer). Oh iya, ada juga nih presensi dosen yang canggih pakai sidik jari dosen yang bersangkutan. Biasanya dosen-dosen ‘mengecap’ pukul 08.00 dan 16.30.

“Canggih tapi masih bisa saja diakalin sama mahasiswa. Ya sudahlah, anak ITB emang pintar-pintar ya”, ujar salah satu dosen.

2. Koperasi yang dikelola oleh KKP (Koperasi Keluarga Pegawai, sama seperti yang di ITB Ganesha) saat ini sudah berjalan.

3. Di sana, 1 prodi akan mendapatkan 1 gedung yang terdiri dari 3 lantai dilengkapi dengan ruang kelas dan lab masing-masing.

4. Rumah singgah, yaitu rumah yang disediakan untuk para dosen muda. Syaratnya, dosen muda akan mengajar di ITB tapi belum memiliki rumah tetap, jangka waktu tinggal 2 tahun. Lewat dari itu harus punya rumah/kosan sendiri di luar kampus Off-G.

5. Gerbang Depan yang dananya sekitar 2 MILIAR, dengan desain tidak jauh berbeda dengan deain gerbang depan Ganesha sekarang, tak lupa dengan ciri tanaman merambatnya.

6. Tiga buah danau (miniatur Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang direncanakan menjadi lokasi laboratorium, resapan air hujan, sekaligus penambah nilai estetika. Danau ini sendiri sama sekali belum digarap. Lahan yang digunakan merupakan lahan kosong berumput serta areal sawah masyarakat.


7. Pelayanan kesehatan akan bekerja sama dengan UNPAD.

8. Auditorium Convention Center, yakni bangunan yang fungsinya seperti Aula Barat dan Aula Timur, tapi dengan bentuk yang lebih mewah sepertinya, layaknya Sabuga.

9. Gedung Olah Raga untuk tempat berlatih futsal, gulat, dll. Yang (rencananya) dikelola oleh Menpora.

10. Perpustakaan, yang rencananya akan berisi lebih banyak komputer dibandingkan buku-bukunya sehingga mahasiswa seharusnya lebih mudah mengakses e-book.

11. Kampus pedestrian. Of-G akan memperkaya kampus dengan rute jalan kaki. Diharapkan tidak ada mobil dalam jumlah banyak (seperti di On-G) yang berseliweran di dalam kampus.

12.Dll.

Berikut sedikit gambar-gambar :

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Persilangan jeruk & pepaya oleh mahasiswa UNWIM
 

Setelah menilik lokasi, selanjutnya persepsi dikembalikan sepenuhnya kepada pembaca. Dengan rencana pembangunan yang (sepertinya) mutakhir, dengan pendanaan yang begitu besar, dengan lokasi sekitar yang tidak ramai dan diisi oleh penduduk-penduduk dengan kemampuan ekonomi (mungkin) menengah, silakan dibayangkan akan seperti apa kampus Of-G jika sudah sepenuhnya masterplan diejawantahkan.

Apakah akan terbangun mercusuar, bangunan tinggi kokoh yang menerangi kesunyian laut di kala gelap? Atau seolah akan terbangun tembok Berlin, yang memisahkan wilayah satu dengan wilayah lainnya?

Di luar masterplan, terdapat satu masalah lain yang mengganjal. Pada lahan yang akan dibangun danau, di dalamnya terdapat sawah-sawah penduduk. Pihak ITB menyatakan bahwa lahan tersebut sesungguhnya masih merupakan lahan ITB, bukan lahan milik masyarakat. ‘Mereka hanya menumpang’, tutur salah seorang pegawai.

Memang ada andil kesalahan masyarakat soal menumpang lahan, tapi tidak dapat dibutakan juga bahwa sesungguhnya sawah-sawah tersebut sudah digunakan dan telah memberi pemasukan tersendiri bagi masyarakat. Berikutnya, lahan tersebut akan dirombak menjadi danau. Relakah? Meskipun salah satu pegawai ITB yang turut serta dalam kunjungan mengatakan bahwa ‘warga sih bilang tidak apa-apa’, tetapi dengan mencoba memposisikan diri sebagai warga, apakah semudah itu melepaskan mata pencaharian? Darimana mereka akan mencari pekerjaan baru apabila ITB sendiri seolah tidak memberi rekomendasi mata pencaharian lain atas pengalihfungsian lahan tersebut?

Ya namanya juga rencana kebijakan walaupun dirasa belum terjawab semua pertanyaan, tapi pembangunan dipastikan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan. Mungkin saya sudah lulus (amin) dan tidak sempat merasakan, menyentuh, memijakkan kaki dalam bangungan-bangunan di sana selama menyandang status mahasiswa ITB. Ya semoga ITB mampu benar-benar mencetak sarjana yang benar-benar cakap dan mengabdi.

Karena bukan beton yang menjadikannya Menara Gading. 

Tetapi nilai kemanusiaan yang terkikis,

dan kehidupan pribadi-pribadi di dalamnya, yang terisolir dengan lingkungannya.  

 

4 responses to “Menara Gading?!

  1. kalau anda memeng membutuihkan kampus jangan mengambil milik orang lain yang masih berpenghuni, apa anda tidak bisa menghargai usaha orang yang pertama membangun area yang dulu kosong dan tak bernilai. akan tetapi sekarang sudah berhaga seperti berlian anda ambil.

    harus kah kebasaran ITB membunuh unwim yang lemah ……………..saya hanyalah manusia yang mencintai ruimah yang membesarkannya

  2. Dengan adanya pengambil-alihanlahan UNWIM. Apakah hal tersebut bukan termasuk pengikisan nilai kemanusiaansecara mental terhadap alumnus juga pencinta unwim. Kami pun masih memiliki cinta itu. Sekolah setarap ITB dengan sangat melenggang datang dan brdiri dirumah yang masih berpenghuni walau dalam keadaan minim. Hal ini tetap diluar nurani. Janji pertama yang tercetus adalah pembinaan ITB kepada UNWIM, bukan pengambil alihan UNWIM oleh ITB. Hal ini benar benar tak bermoral, sebagai sekolah bertaraf internasional.

  3. Lahan tersebut merupakan lahan UNWIM, sebuah universitas yang dimiliki oleh pemerintah provinsi Jawa Barat. Jumlah mahasiswanya sebesar 9000 mahasiswa dengan pengelolanya (yayasan) tidak perlu mencari uang karena sudah disuplai 30 miliar oleh pemprov Jabar.

    sampai sa’at ini unwim belum pernah menerima dana sebesar 30 miliar itu, malah menurut kabar dana itiu di pakai untuk renopasi kampus yang di jatinangor yang akan di pake ITB

  4. sudah pernahkah dikompromikan dengan Pemprov Jabar? pernahkah hal itu Anda tanyakan kepada pihak ITB langsung (tepatnya kepada MWA ITB)? maksudnya agar kekecewaan Anda disampaikan tepat sasaran.

    terus yang kutipan terakhir di komen Anda, itu informasi yang saya dapat dari pihak rektorat. kalau memang ternyata salah hmm atau sebaiknya saya edit saja tulisannya untuk diklarifikasi, ok!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s