Hari Kedua KP

Melaporkan dari ruangan 3×3 meter di desa Sukun. Hari ini hari kedua saya KP. Jadi, tadi siang saya diajak pembimbing buat lihat-lihat proses pengolahan limbahnya. Banyak nih limbahnya, ada yang padat ada yang cair. Yang padat itu serasah (daun pinus, bunga pinus, kayu pinus). Adapula yang cair dibagi-bagi jadi beberapa yaitu kotoran halus, air limbah, lumpur, dan getah pinusnya itu sendiri. Lalu perlakuannya masing-masing berbeda. Yang getah pinus dimasukin lagi ke dalam proses, yang air limbah diolah dalam IPAL, yang lumpur dibuang, yang kotoran halus alias jonjot diproses lagi jadi produk berkualitas rendah.

Tau gak? Melihat prosesnya saya kelabakan lho. Karena tema yang saya ajukan ternyata tidak adaaa. Maksudnya ada tapi pengolahannya sangat sederhanaaa. Yang limbah padat cuma dijadikan bahan bakar batu gamping.  Terus saya bingung deh. Kirain di sini limbah padatnya sudah punya sistem pengolahan sendiri untuk dibentuk atau diproses menjadi ‘sesuatu’. Eh ternyata cuma dilempar ke dalam perapian saja -______-

Tidak bisa menulis banyak-banyak deh akhirnya. Sekian.

15 Juni 2011 – 8an malam 

Hari Pertama KP

Melaporkan dari suatu ruangan di daerah terpencil di barat Jawa Timur. Saya, Sausan Atika Maesara baru saja melaksanakan satu hari sebuah kewajiban akademik yaitu Kerja Praktek (KP). Apa itu KP? Sebuah mata kuliah wajib semester depan (semester 7) 2 SKS yang intinya kita observasi selama minimal 1 bulan di perusahaan/industri tertentu untuk melihat proses tertentu yang berkaitan dengan bidang lingkup per-teknik lingkungan-an.

Saya mau cerita sedikit dulu tentang hari pertama saya menjalankan KP.

Di manakah itu? Saya KP di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Sukun di sebuah desa dalam Kab.Ponorogo, Jawa Timur. Tau? Ya, itu lho Kota Reyog.

Kenapa saya pilih di sini? Alasan utamanya adalah karena objeknya bukan migas atau tambang. Kedua, karena objeknya unik, maksudnya siapa sih anak ITB yang mau menjamah getah pinus, ya objek lain di luar migas dan tambang maksudnya? hehehe. Ketiga, karena malas ngurus administrasi blablabla, maklumlah ini pakai link dari ayah. Sebetulnya saya sangat ingin KP di pabrik tekstil, tapi karena faktor ketiga sangat mendominasi dan ada faktor urusan lain di kampus yang harus dipikirkan makanya gagal. Kecewa lah sama diri sendiri. Payah gw ya. Lain waktu deh lebih berjuang amin.

First Impression

Saya sampai di sini tadi pagi dan segera menuju rumah pegawai yang akan saya tinggali, namanya Pak & Bu Jarkasi. Beliau-beliau ini cuma tinggal berdua. Anak sulungnya tinggal di Makassar dan anak keduanya bekerja di pabrik tempat saya KP juga. Anak keduanya ini bernama Mbak Nita (umur sekitar 31 tahun), tinggal di rumah yang berbeda tapi masih 1 komplek di komplek pegawai sini.

PGT ini terletak desa Sukun, makanya namanya PGT Sukun. Bukan bagian dari kota, oleh karena itu sepi sekali di sini. Akses angkutan umum tidak ada, dan sekelilingnya sebagian besar hanya hutan kayu putih. Adapun rumah-rumah penduduk jarang dan letaknya berjauhan satu sama lain.

Pabriknya pun kecil ternyata. Saya kira gede. Ya, tapi semoga skupnya masih setara dengan teman-teman yang ke pabrik gede.

Kesimpulannya adalah : tempat KP saya terletak di desa ‘agak’ terpencil dan. Simple.

Sesampainya di rumah saya langsung taro barang, ramah tamah dan langsung ke pabrik. Bukan deng. Ke kantornya dulu. Pertama kalinya disambut oleh Pak Sarmanto alias Kaur (Kepala Urusan) Teknis. Beliau bilang nanti saya akan didampingi oleh Pak Dani alias asisten manager alias Kepala Pabrik hahaha gila.

Hari pertama langsung saya diajak keliling lihat proses produksi.

Jadi, pabrik ini merupakan (kalau dalam pohon, istilahnya) rantingnya sebuah pohon bernama Perhutani. Pabrik ini mengolah getah pinus menjadi produk gondorukem dan minyak terpentin. Penasaran? Silakan googling sendiri guys.

Prosesnya sederhana sekali dan mudah dimengerti. Membuat saya agak minder nih sama teman-teman lain yang perusahaannya pasti gede terus pengolahannya pasti rumit blablabla gitu. Ya semoga pikiran selintas ini cuma sementara.

Ma’em Murah Bro

Setelah lihat-lihat proses produksi, saya diajak makan siang oleh Pak Dani dengan ditemani Mbak Nita ke kota. Istilahnya kota cem dari kampung ‘aja hahaha, mau apalagi soalnya pabriknya di desa bukan di kota. Saya naik mobil Pak Dani. Lalu makan di rumah makan lesehan. Enak, anginnya banyak tapi sebelahnya cuma padang ilalang. Ya mungkin itu ya yang membuat udaranya makin sejuk.

Yang mengagetkan adalah, HARGANYA MURAH BET. Maksudnya, harganya harga standar warung-warung pinggiran di Bandung gitu. Padahal tempatnya bagus lho, ada tempat mainan anak kecilnya juga. Kata Pak Dani, “Murah kan? Rumah makan sama warung-warung kalau di sini sih harganya sama lho jadi mending makannya di rumah makan”

Oh saya kira yang di warung lebih murah lagi lho, kalau ayam goreng mungkin di rumah makan ini10 ribu saya kira di warung bisa sampai 6 ribu ternyata sama saja toh. Makanya akhirnya saya pesan ayam goreng, sayur asem dan jus strawberry. Ayam goreng harganya 10 ribu, sayur asem harganya 4 ribu, dan jusnya 4 ribu. Sama ya harganya kayak warung-warung pinggiran di Bandung.

Ternyata sayur asemnya SUPER BANYAK jadi nggak habis deh. Mana ada tomat sama wortelnya pula kan saya bingung biasanya cuma ada kacang panjang, kacang tanah, daun melinjo, melinjo, labu, sudah. Ini cemacem hahaha. Kalau kata Mbak Nita, itu sayur asemnya jawa. Kalau sayur asemnya sunda baru deh yang nggak pakai tomat sama wortel.

Nah di saat-saat menjelang mau pulang dengan piring yang sudah tak berisi, pastinya yang ditakutin seorang perantau adalah à DUIT. Ya, saya bingung ini siapa yang bakal bayar HAHAHA. Setelah ditanya ‘sudah?’ Pak Dani pergi ke kasir untuk bayar. Saya sampai sms mama, nanya kalau kayak gini duitnya nggak mesti diganti kan? Katro abis nih, nggak enak soalnya dibayarin hehehe.

Sekian tentang makanannya. Habis makan, pulang lagi naik mobil Pak Dani ke pabrik. Berhubung saya dibilang ‘pasti capek ya, mbak’ akhirnya saya nggak diajak ke lapangan lagi tapi disuruh ke kantor. Di kantor saya dikasi 1 kursi tersendiri di sebelah Mbak Nita dan seorang pegawai TU namanya Bu Yuni.

Seketika siang itu setelah saya duduki, Bu Yuni langsung menyuguhkan tempe goreng tipis-tipis yang sangat garing enak maknyus buat dimakan. Ples air putih. Jadi nggak enak lagi, pikir saya dalam hati. Terus bingung kan mau ngapain sambil menunggu jam 3 sore. Akhirnya saya cuma corat coret kertas deh.

Jam 3 Ke Atas

Jam 3 teng saya pulang ke rumah. Oiya saya belum cerita ya? Komplek perumahan pegawai dengan pabrik cuma 5 meter lho, jadi bisa bebas pulang sesuka hati. Kalau jalan kaki mungkin habis waktu sekitar 3 menitan. Saya pulang jalan kaki, niatnya sore ini mau beres-beres koper. Tadi pagi kan cuma ditaro di kamar.

Jadilah saya mendem di kamar dari jam 3 sampai 6, keluar hanya untuk wudlu dan mandi.

Pukul 6 lewat sedikit setelah shalat magrib, Bu Jar (panggilan buat si empunya rumah) ngetok-ngetok pintu ngajak makan malam. Makannya makan pecel, ayam, dan tempe. Tau kan kalau Ponorogo itu sebelahnya Madiun (I guess you’re not :p) otomatis pecelnya enak, ada ciri khasnya tersendiri. Untuk sayurnya, ada bunga turi-nya. Agak pahit tapi enak lah sebagai pelengkap. Toge-nya juga toge yang masih tunasnya kecil banget bro, jadi krenyes-krenyes gitu. Sambelnyaaa yang paling mantap. Enak deh pokoknya nikmat jengjet!

Saya makan berdua sama Bu Jar. Karena Pak Jar sedang ke pabrik. Urusan pabrik memabrik nanti sajala di postingan yang lain.

Nah sambil makan itu saya mikir nih ceritanya dan faktanya betulan mikir sih. Dalam hati saya berharap ini makanannya bukan ‘diada-adain’. Ya taulah maksudnya, kalau misalnya kedatangan tamu apalagi tamu dari kota wah kan maunya menjamu dengan sebaik-baiknya, tapi semoga nggak ya, Bu? Seadanya saja saya juga wong Indonesia tulen kok sukanya mangan sayur.

Habis makan saya nemenin Bu Jar nonton TV dulu. Bu Jar nontonnya sinetron RCTI, apa ya itu? Saya nggak afal abisnya nggak pernah nonton -__________-

Pas jam 8an saya ke kamar mandi deh buat wudlu dan sekalian minta ijin mau langsung tidur. Capek dari pagi belum tidur. Pas sampai di kamar, mendekati paragraf-paragraf terakhir dari postingan ini, saya shalat terus menyalakan laptop dan menemukan fakta bahwasanya MODEM SAYA NGGAK JALAN, karena nggak ada sinyal. Nol besar. Hiks.

Ya sudah deh. Postingan pertama ini saya simpan sampai nanti ketemu internet.

Bye. Goodnight. Have a nice dream. Jangan lupa pasang weker.

Salam remang-remang (lampu tidurnya) dari kamar depan

14 Juni 2011 – 20.56

Emosional !!! – Eliana, serial anak-anak mamak

A gift for my lovely nephew

Adalah bunyi kalimat yang tertulis di halaman pertama novel saya berjudul ELIANA : serial ke-4 anak-anak mamak, karangan Tere Liye. Eliana ditulis oleh Tere Liye, tahu? Yang mengarang “Moga Bunda Disayang Allah” dan beberapa novel anak lainnya. Dan tante saya namanya Eliana, sesuai dengan judul novelnya, makanya mungkin buku itu diberikan ke saya, bukan dalam rangka apa-apa tapi memang kayaknya tante saya mau ngasih ‘aja.

 

Novel ini mengambil tokoh utamanya seorang anak sulung sebuah keluarga sederhana di daerah pedalaman yang bernama Eliana. Ia tinggal bersama Mamak, Bapak, dan ketiga adiknya, Pukat, Burlian, Amelia.

Isinya mensuasanakan kehidupan sederhana keluarga dengan watak ingin tahu, kepolosan, dan kenakalan anak-anak yang dibalut oleh cerita tentang petualangan, proses pembelajaran, dan pemahaman yang baik atas kehidupan bermasyarakat.

Kisah dalam novel ini dimulai ketika suatu hari Eliana diajak Bapak ke Kota Provinsi untuk sekedar melihat bagaimana perawakan kota besar. Namun, sesungguhnya Syahdan, nama Bapak, serta beberapa tokoh desa akan melaksanakan negosiasi dengan Johan, pemilik perusahaan tambang pasir yang ingin mengambil alih lahan kampung yang menjadi sasaran lokasi penambangan.

Eliana yang sesungguhnya tak diundang dalam pertemuan, yang seharusnya menunggu di penginapan, bersikeras menyusul Bapak. Tak sengaja mendengar percakapan dalam ruangan negosiasi, Eliana yang tak menerima Bapaknya direndahkan oleh Johan menyebu masuk ruangan dan memaki pemilik perusahaan tersebut. Lantas, dimulailah kisah dalam novel ini.

Inti utama perjalanan cerita adalah bagaimana Eliana dan teman-temannya yang kemudian mendirikan geng “Empat Buntal” berusaha merebut kembali tanah kampung dari eksploitasi oleh perusahaan tambang pasir milik Johan. Ala anak kecil, pastinya.

Konflik yang dimunculkan bermacam-macam. Contohnya adalah “Empat Buntal” yang berusaha mengusik para pekerja tambang dengan menaruh paku-paku agar ban traktor kempes, sampai usaha membakar traktor menggunakan balon kecil berisi minyak tanah yang berakibat pada terbunuhnya Marhotap dalam pengejaran pekerja tambang. Marhotap adalah salah satu anggota Empat Buntal.

Di luar inti cerita, novel ini disuguhi oleh berbagai pembelajaran moral dalam berkehidupan. Misalnya, persahabatan yang diwujudkan oleh solidnya Empat Buntal, kasih sayang Mamak (ibu) ketika Eliana kabur dari rumah, semangat hidup meski dalam kesederhanaan yang disiratkan oleh Pak Bin, guru SD Eliana, serta banyak ajaran-ajaran lain yang tersirat hikmahnya.

.

Emosional. Begitu pendapat saya terhadap isinya.

Mungkin karena saya sudah bukan anak kecil lagi, sudah bosan dengan pelajaran Kewarganegaraan, maka berbagai pelajaran moral berkehidupan yang dituliskan dalam novel ini seperti menjadi hal yang lumrah. Namanya juga novel anak-anak.

Yang menarik adalah bagaimana Tere Liye berhasil menuturkan, atau menggugah lebih tepatnya, mengenai sudut pandang rakyat yang merasa kehilangan haknya karena tanahnya dieksploitasi sebuah perusahaan. Berlebihan, mungkin hehehe, kalau mas/jeng rasa. Tapi toh novel ini yang membuat saya lebih aware sedikit terhadap Baksil! Lagi-lagi lebay, hehehe.

Karena novel ini kasusnya hampir sama dengan Baksil. Tentang lahan yang tidak seharusnya dieksploitasi, dijadikan lahan komersil, karena apa? Mengganggu keseimbangan alam. Menguntungkan sepihak.

Novel ini saya baca tak berapa lama sebelum tanggal 12 Mei, di mana Baksil tiba-tiba kedatangan oknum yang mengaku ‘peduli Baksil’ tapi nyatanya malah menebang pohon kecil (pohon kecil tuh artinya masih muda umurnya, belum layak ditebang, guys) dan memasang petak-petak bambu di sana.

Emosional. Makanya saya sebut begitu :p

.

Di luar ke-emosional-an tersebut, sepertinya novel ini memang a-must-read, baik bagi anak-anak, orang tua, para pecinta alam, remaja-remaja nganggur yang kehilangan semangat hidup #lho, kakek-nenek yang mau mengenang sejarah kampungnya, guru SD.

Atau orang-orang yang terlalu berorientasi dengan oil & gas or mine, whatever lah supaya kalian-kalian tahu tuh kalau gaji hasil kerja di pertambangan bukan segalanya #eh jadi curhat tentang trend jurusan :p

Overall, silakan dibaca dan selamat menikmati penuturan jujur di dalamnya :)

Keluhan Para Penerima Sponsorship

Celotehan kecil. Dibuat setelah audiensi dengan Tizar, Presiden KM-ITB 2011/2012, setelah beliau curhat tentang obrolannya dengan alumni ITB yang sudah sering berkecimpung dalam proyek-proyek beberapa perusahaan.

“acara yang dibikin anak ITB makin ke sini makin kurang bagus, makin kurang bermanfaat.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh beberapa alumni ITB yang sudah terlibat proyek dengan perusahaan. Dan pernyataan tersebut sebenarnya bukan terlontar dari alumni saja, tapi lebih tepatnya pernyataan titipan oleh beberapa perusahaan yang mungkin sering atau pernah didatangi oleh mahasiswa ITB untuk ngemis alias menjadi sumber pendanaan acara mereka.

Kalau mengobrol dengan beberapa orang dan melihat trendnya secara langsung dalam beberapa tahun terakhir, sepertinya memang bukannya tidak beralasan ya pernyataan seperti itu tercetus. Sejak saya masuk tahun 2008, sepertinya makin ke sini memang sudah terjadi degradasi format sebagian besar acara anak ITB.

Beberapa contoh acara besar, tahun 2009 ada Ganesha Harmonic dan Olimpiade KM-ITB V. Beranjak pada tahun 2010, sepertinya terpusat semakin semarak dengan adanya Pagelaran Seni Budaya (PSB), ITB FAIR, dan Pasar Seni.

Distrik pun, Himpunan dan Unit tak mau kalah. Untuk unit, dies tiap tahunnya diperingati sebagai bentuk aktualisasi minat-bakat sekaligus sebagai program penyebarluasan dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap keragaman budaya dan potensi Indonesia, terutama bagi unit-unit yang tergabung dalam rumpun seni budaya. Untuk Himpunan lebih-lebih. Trendnya kemahasiswaan mengusung “pengejawantahan keprofesian”, maka muncullah acara-acara yang berlandaskan keprofesian dengan semangat aktualisasi, pengenalan budaya keprofesian terhadap masyarakat, hingga acara yang dibilang sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Degradasi Format Acara Anak ITB

Gradasi adalah tingkat pergeseran. Dan degradasi adalah pergeseran menurun; kemerosotan.

Bisa dilihat, dan sepertinya sudah banyak yang merasakan juga. Akhir-akhir ini acara anak ITB seolah mengalami kemerosotan, baik dari segi efektivitas (ketepatan sasaran) maupun konsep awal (landasan, tujuan, dan implementasi). Makin banyak yang sekedar menjual tema, tapi tidak diformat dengan konsep yang lebih dalam dan bermakna, serta umumnya dikemas dalam bentuk hura-hura.

Contoh. Temanya keprofesian. Tujuannya adalah pengenalan kepada masyarakat, pamer (bahasa halusnya : aktualisasi) hasil keprofesian, berkontribusi, dll. Kemasannya? Panggung yang tingginya 2 meter, artis ibukota-bayaran-puluhan juta, media instalasi 3D megah, dll deh.

Mulia sekali tujuannya, teman. Tapi sayangnya TIDAK TEPAT SASARAN. Sekedar meninggikan nama dan prestise entitas? Atau memang dirancang untuk memberi hiburan saja? Berapa persen pencapaian tujuannya? Lantas, jadi momentum dua atau tiga hari saja?

Seperti itu ya mewujudkan mimpi mahasiswa…

Besar Pasak Daripada Tiang. Pastinya.

Setelah formatnya, mari kita beralih ke poin terpenting dari acara. DUIT. Sudah jadi trendnya juga mahasiswa ITB nyari-nyari duit ke perusahaan. Beberapa tahun terakhir, dengan kondisi acara mahasiswa ITB yang seperti itu, akhirnya perusahaan gatal juga.

Maka tercetuslah kalimat seperti di awal tulisan ini. (Balik ke atas ya :D )

Proposal yang dikeluarkan anak ITB umumnya dananya lebih dari 20 juta. Ya iyalah pasang instalasi saja keluar berapa juta, belum lagi publikasi, konsumsi, dan biaya terbesar itu manggil artisnya, so pasti.

Kembali lagi. Perusahaan lah yang kewalahan menerima tawaran sponsorship anak ITB. Maka, timbullah paradigma bahwa “acara anak ITB kurang manfaat, kok kayak gini ya?”. Dampak dari paradigma tersebut adalah timbul ketidakpercayaan perusahaan dalam menerima tawaransponsorship yang diajukan oleh mahasiswa ITB.

Sudah dasarnya membuat acaranya nggak jelas, dana yang dikeluarkan berlebihan, tidak sebanding dengan ketercapaian tujuan, nggak ngasih manfaat banyak pula.

Efek dominonya, maka timbul pula perspektif perusahaan yang menyiratkan bahwa alumni ITB dirasa kurang tanggung jawab. Maksud kurang tanggung jawab di sini adalah ketika uang yang diberikan kepada mereka tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ya itu, karena semasa jadi mahasiswa, mereka bikin acara yang kurang bermanfaat.

Nah lho. Salah siapa? :p

Mari Kembali Menyusun Format Yang “Benar” Meskipun “Tantangan”nya Berat

Sudah saatnya kembali memperhitungkan alasan kita mengadakan acara. Merumuskan kembali tujuannya, dan bijak dalam mengonsep kemasannya seefektif & seefisien mungkin. Terutama masalah pendanaan, jangan sampai menimbulkan ketidakenakan atau bahkan merugikan pihak-pihak tertentu (misal, perusahaan yang bersangkutan). Sebab, masalah itu semacam akar serabut,berabe bisa menjalar ke mana-mana. Karena kurang bijak ngonsep acara, jadilah cetakan alumni kita dibilang kurang tanggung jawab. Siapa sih yang mau disebut begitu?

Setelah membenahi secara internal, coba ditabrakkan dengan kondisi eksternal. Langsung deh biasanya merasa hopeless. Pasti terpikir, memangnya acara bakal ramai kalau kemasannya tidak mewah? Mau tidak mau di situlah tantangannya.

Sudah jelas kalau anak ITB sebagian besar tergolong ekonomi menengah ke atas.

Hidupnya nyaman dan sejahtera. Bahkan kebutuhan yang jaman SMP dulu disebut sebagai kebutuhan tersier sekarang sudah dengan mudah dapat diakses oleh anak ITB, digeser jadi kebutuhan primer!

Hal ini menuntut kekreatifan dan kerja keras untuk mengajak teman-teman lain, dan lebih luasnya masyarakat untuk berpatisipasi. Bukan cuma anak SR yang bisa kreatif, semua juga bisa asal mau putar otak.

Sebelum mengakar lebih dalam, menyusun format acara yang kurang jelas itu harus diubah sebelum kebiasaan ini menjelma menjadi template format acara-acara kemahasiswaan lainnya.

Seperti pepatah sunda,

cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok

(kucuran air menimpa sebuah batu, lama-lama menjadi lubang)

Karena batu yang berlubang tidak bisa dipakai untuk menjadi bahan baku “pondasi bangunan”.

.

"duh, level kereta doang nih. nggak kesampean nampil di ITB"

Secuil Tentang Babakan Siliwangi

“Hak atas lingkungan hidup yang sehat

adalah hak asasi manusia.”

Babakan Siliwangi merupakan sebuah lahan yang terletak di timur laut kampus ITB. Terbentang dari arah Sabuga sampai pangkalan jembatan ke arah Ciumbuleuit. Pada dekade 1980-an, Babakan Siliwangi masih berupa petak-petak lahan hijau yang diramaikan oleh pepohonan dan semak-semak. Di dalamnya terdapat pula aktivitas seni yang dilakukan oleh para seniman, dan biasa dikunjungi oleh warga sekitar. Hingga pada akhir 1990-an, Pemerintah Kota mendirikan restoran dengan jalur memanjang pada lahan tersebut. Restoran berdesain rumah panggung etnik khas sunda, dengan taman, kolam air mancur, dan jalan setapak.

Napak Tilas

Babakan Siliwangi merupakan salah satu hutan kota yang sesungguhnya perlu dikelola. Hingga PemKot ahirnya memutuskan untuk membangun restoran di lahan tersebut. Pada awal dekade 2000-an, restoran yang didirikan PemKot bangkrut. Bangunan terbengkalai.

Bangunan Kawasan Restoran yang Terbengkalai

Tahun 2003, beberapa bom molotov diluncurkan mengarah pada restoran. Akibatnya, bangunan yang terbengkalai tersebut habis terbakar. Memang tidak terdapat apa-apa lagi di sana. Akan tetapi, warga sekitar masih menggunakan lahan tersebut bahkan memberdayakannya kembali melalui kegiatan-kegiatan sosial seperti mengajar anak TK, melukis di alam terbuka, dan penanaman pohon.

Tidak diketahui oknum mana yang melemparkan bom Molotov, seolah hal tersebut menjadi cikal bakal munculnya konflik kepentingan. Tak berapa lama, PT. EGI (PT. Esa Gemilang Indah) meminta PemKot untuk menjual lahan tersebut kepada mereka. PT.EGI merupakan anak perusahaan Istana Group dan trademark yang sudah terbangun, ya sudah menjadi rahasisa umum, Istana Group adalah perusahaan yang khusus mendirikan bangunan-bangunan komersil seperti hotel dan apartemen, serta mall.

Dalam perujukannya, PT.EGI berencana membangun restoran. Meminta izin memang sulit, tapi ketika izin sudah didapat maka akan mudah untuk melakukan peruahan terhadap desain awal. Jadi, wajar saja apabila banyak pihak tidak mampu percaya bahwa PT.EGI akan membangunnya menjadi restoran ‘saja’.

Namun, izin akhirnya dikeluarkan juga oleh PemKot kepada PT.EGI.

Entah apa yang ada di benak para bikorat serta para wakil rakyat Kota Bandung, ketika memutuskan Babakan Siliwangi kembali akan dibangun menjadi kawasan komersial, ditengah minimnya ruang terbuka hijau di Kota Bandung.

Sedikit info. Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007, mewajibkan setiap kota harus memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30% dari luas wilayah kotanya. Dalam Perda No. 3 tahun 2006 tentang penataan ruang dan wilayah Kota Bandung, mencantumkan bahwa RTH di Kota Bandung yang harus dicapai sebesar 10 %. Sedangkan yang ada saat ini tidak lebih dari 6% saja. Itu pun tidak memiliki kualifikasi sebagai RTH.

[Kiri] Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat. [Kanan] Pohon kecil yang Ditebangi. Kira-kira Segitu Tingginya.

Sanggar Olah Seni

SOS merupakan beberapa bangunan yang terletak di samping Kantor Kelurahan. Sanggar Olah Seni didirikan sejak tahun 1982, dengan pencetusnya senior-senior seperti Anan Sumarna dkk. Mereka berpendapat bahwa kawasan Baksil merupakan tempat yang representatif untuk berkarya.

Para leluhur memutar otak untuk mencari modal agar dapat membangun sanggar. Akhirnya, usaha dilakukan dengan cara mengumpulkan tape untuk diekspor ke Jepang. Namun, hasil yang didapat tidak mencukupi modal awal perkiraan. Para founding father akhirnya menyusun proposal untuk disampaikan kepada Pemerintah Kota agar bisa mendapatkan dana APBN Pusat.

Sanggar Olah Seni sendiri diberi nama oleh alm. Otto Iskandar dan disahkan oleh Menteri Pariwisata saat itu. Hingga saat ini, anggotanya melebihi 800 seniman aktif maupun nonaktif, menjadikannya sanggar seni terbesar di Indonesia.

Pada tahun 2002, mulai terwacanakan isu bahwa dalam kawasan Baksil akan dilakukan pemekaran restoran dan dibangun kondominium. Termasuk sanggar, saat itu diajukan untuk diganti dengan 7 buah kios di Taman Sari. Namun, secara tegas para anggota menolak karena hal tersebut akan mendegradasikan tujuan diadakannya sanggar tersebut. Toh seni itu tidak melulu komersil, akan tetapi juga diterapkannya pendidikan seni rupa untuk masyarakat yang umumnya murid-murid TK atau SD.

ITB Sebagai Pencetus Komersialisasi Baksil?

Pada akhir tahun 90-an, ITB membeli sebagian lahan di Baksil untuk dibangun sebuah gedung pementasan karya, yang sekarang kita kenal sebagai Sasana Budaya Ganesha serta lahan untuk penyediaan sarana dan prasarana olahraga yakni Sarana Olahraga Ganesha.

Sedikit gelitik, mungkin. Namun, memang asal mula lahan Baksil ternyata mampu diproyeksikan sebagai kawasan komersil ialah dengan pembangunan kedua proyek tersebut. Sabuga yang dikhususkan untuk mahasiswa ITB, tapi pada kenyataannya apabila ingin menyewanya, mahasiswa tetap harus membayar mahal. Hmm…

Status Baksil

Kepemilikan Baksil saat ini masih dipegang oleh PT. EGI. Sesuai peraturan perndang-undangan, pemilik lahan wajib melakukan pengelolaan terhadap lahan yang dimilikinya. Entah dibuat taman, perkebunan, atau pembangunan infrastruktur lain. Namun, dalam keberjalanannya seperti kita tahu, tidak ada perubahan signifikan atas visual lahan Baksil tersebut.

Kecuali pada tanggal 12 Mei 2011 lalu, beberapa pohon di Baksil ditebangi dan telah ditanami petak-petak (berupa bambu setinggi kurang lebih 30 cm). Media menyebutkan bahwa pelaku penebangan tersebut berasal dari forum yang concern terhadap Baksil. Mereka memberi alasan bahwa semak-semak perlu dibersihkan agar Baksil sendiri tidak menimbulkan suasana seram bagi masyarakat sekitarnya. Sementara dalam ekspedisi langsung ke tempat, bukan hanya semak yang dibersihkan akan tetapi juga pohon-pohon kecil.

Sayangnya menurut Sawung, seorang aktivis WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), beliau menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya forum peduli Baksil yang tiba-tiba terbentuk. Orang yang menebangi pohon-pohon tersebut terlihat seperti orang asing. Karena LSM maupun komunitas-komunitas yang concern terhadap Baksil sejak awal, satu sama lain sudah saling mengenal. Toh isu ini sudah diangkat dan pernah menjadi pembahasan LSM & komunitas pecinta lingkungan sejak awal tahun 2000-an.

Alih Fungsi Baksil

Di Bandung sendiri, lahan hijau yang tersisa hanyalah di daerah Baksil dan Cilaki. Apabila Baksil dialihfungsikan dari komponen ‘hijau’ menjadi ‘tidak hijau’ pada peta, dalam arti mengubahnya dari RTH menjadi lahan penduduk atau lahan komersil, maka produksi oksigen untuk Bandung akan semakin berkurang. Akibatnya?

Bandung makin panas! Lahan komersil pastinya menjadi cikal bakal kemacetan! Debu tidak ada yang menyaring! Kebebasan menghirup udara segar tak terwujud! Ketersediaan akan oksigen berkurang! Dan pemukiman di bawah Baksil pasti kebanjiran karena limpasan air hujan semakin cepat turun ke bawah dan tidak terinfiltrasi (terserap) ke dalam tanah!

Sudah siapkah kita dengan keruwetan tersebut?

Sumber :

Sawung, aktivis WALHI Jawa Barat

Pak Susantono, Sekertaris Sanggar Olah Seni

Berbagai sumber dari internet

Menara Gading?!

“Kalau ada ITB, seharusnya bisa membuat kebaikan di sekelilingnya” Nia Pontoh, Dosen Teknik Planologi ITB

ITB di Ganesha secara lokasi dekat sekali dengan masyarakat, tapi kampus ini seolah seperti Menara Gading. Megah jika dibandingkan dengan sekelilingnya, dan terlampau kaku penghuninya. Kaku terhadap permasalahan sosial sekitar. Begitu istilah orang-orang  terhadap kampus ini.

Mobil-mobil berseliweran di Dago dan Tamansari, biasa mengambil jatah badan jalan sebagai tempat parkir. Yang seperti itu adalah salah satu hal yang menyuratkan pandangan masyarakat akan perbedaan gaya hidup antara mahasiswa ITB dengan masyarakat sekitarnya.

Ekspani ke Jatinangor, dalam rangka peningkatan jumlah SDM berkualitas. Semoga lewat ekspansi ini, keberadaan ITB ‘baru’ lebih bisa membawa kebaikan langsung di sekelilingnya. Pesan dari Rektor bahwa, kampus ITB di Jatinangor HARUS LEBIH BAIK daripada yang di Ganesha. Maka, jadilah rencana desain infrastruktur dan tetek bengek perencanaan baik akademik maupun nonakademik lainnya dioptimalkan demi mencapai tujuan tersebut.

Lahan di Jatinangor

Sebelum merambat kepada hal-hal lain, maka poin mendasar yang paling harus diketahui adalah lokasi dan status tempatnya. Lahan yang akan menjadi calon kampus kita di Jatinangor luasnya 2 kali daripada luas ITB Ganesha (On-Ganesha/On-G), jadi kalau On-G luasnya sekitar 28 ha, luas lahan di Jatinangor sebesar 56 ha. Dan terdiri atas 2 tempat, yakni lokasi pertama berseberangan dengan UNPAD, dan lokasi kedua di Tanjungsari, luasnya kira-kira 2 ha, masih naik lagi ke arah utara.

Lahan tersebut merupakan lahan UNWIM, sebuah universitas yang dimiliki oleh pemerintah provinsi Jawa Barat. Jumlah mahasiswanya sebesar 9000 mahasiswa dengan pengelolanya (yayasan) tidak perlu mencari uang karena sudah disuplai 30 miliar oleh pemprov Jabar.

Tahun 2006, ada Undang-Undang dari pemerintah yang melarang dana APBN diberikan untuk yayasan. Akibatnya, UNWIM tidak mendapat suplai dana untuk berkehidupan sebagai universitas. Maka, collapse-lah universitas ini.

Pemprov pun menawarkan kepada berbagai instansi untuk mengelola lahan ini. Ada UNPAD, STPDN, dll. yang menawarkan diri untuk mengelola, akan tetapi semua mundur karena tidak menerima kesepakatan untuk ikut mengelola mahasiswa dan karyawan yang masih berstatus civitas UNWIM. Jatuhlah penawaran tersebut kepada ITB, yang mau bertanggung  jawab atas civitas akademika yang masih ada di UNWIM. Hingga saat ini, sudah 242 karyawan UNWIM yang sudah berganti status sebagai karyawan ITB Jatinangor.

Sementara untuk mahasiswa UNWIM sendiri, pihak universitas masih akan menangani sampai semua mahasiswa lulus dan mendapat ijazah UNWIM. Mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lokasi kedua kampus ITB Jatinangor, di Tanjungsari.

Perencanaan Kebijakan Akademik

Di ITB Jatinangor, rencananya akan dibangun 12 prodi baru. Namun, semuanya akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2012 baru akan mulai dibuka penerimaan 5 prodi baru. Tiga dari SITH (Rekayasa Pertanian, Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pasca Panen) dan dua dari FTSL (Rekayasa Keairan bernamaTeknik Sumber Daya Air dan Rekayasa lingkungan bernama Infrastruktur Lingkungan Dan Sanitasi).

Selain S1, di kampus tersebut ITB juga akan didirikan jenjang D3, S2, dan S3.

FYI, civitas akademika yang ada di On-G saat ini sudah mencapai 22.000 orang. Pada beberapa tahun ke depan, jumlah tersebut akan dikurangi sampai 18.000 saja karena 4.000 sisanya akan dipindahkan ke kampus Jatinangor. Berujung pada tahun 2025, kampus On-G akan menampung 15.000 orang, kampus ITB Jatinangor sebanyak 7.500 orang, dan kampus ITB Bekasi sebanyak 7.000 orang.

Perencanaan Kebijakan Terkait TPB

Hingga saat ini, kebijakan yang ada terkait TPB masih berkutat pada dua alternatif. Yaitu, apabila pada tahun 2012 kebijakan menetapkan bahwa tidak ada TPB alias langsung masuk prodi, maka semua mahasiswa S1 akan masuk langsung sesuai dengan prodi-prodi yang ada. Tetapi, kalau kebijakan menetapkan ada TPB, maka seluruh TPB ITB dari semua fakultas akan di-asrama-kan di ITB Jatinangor selama setahun. Setelah melewati masa TPB, maka masing-masing akan dipisahkan sesuai lokasi prodi masing-masing. Berarti yang jurusannya Teknik Lingkungan, nanti mereka akan pindah ke kampus On-G.

Dalam asrama itu sendiri akan disediakan mentor dan kegiatan-kegiatan keasramaan lainnya demi mendukung perkembangan karakter mahasiswa serta tutorial akademik dan kegiatan lain yang menunjang pemenuhan akan kebutuhan akademik.

Sarana-Prasarana, Dan PENDANAAN

Yang paling menarik dari membicarakan masterplan pastinya soal duit ya. Dana total perencanaan perealisasian masterplan ITB Jatinangor ialah sebesar 2 TRILIUN, dan dana yang akan turun tahun ini sebesar 200 miliar. Sebenarnya, untuk infrastruktur apa saja sih?

1. Sampai saat ini, infrastruktur yang sudah dibenahi adalah ruang-ruang kelas dan laboratorium TPB (Kimia Dasar, Fisika Dasar, Komputer). Oh iya, ada juga nih presensi dosen yang canggih pakai sidik jari dosen yang bersangkutan. Biasanya dosen-dosen ‘mengecap’ pukul 08.00 dan 16.30.

“Canggih tapi masih bisa saja diakalin sama mahasiswa. Ya sudahlah, anak ITB emang pintar-pintar ya”, ujar salah satu dosen.

2. Koperasi yang dikelola oleh KKP (Koperasi Keluarga Pegawai, sama seperti yang di ITB Ganesha) saat ini sudah berjalan.

3. Di sana, 1 prodi akan mendapatkan 1 gedung yang terdiri dari 3 lantai dilengkapi dengan ruang kelas dan lab masing-masing.

4. Rumah singgah, yaitu rumah yang disediakan untuk para dosen muda. Syaratnya, dosen muda akan mengajar di ITB tapi belum memiliki rumah tetap, jangka waktu tinggal 2 tahun. Lewat dari itu harus punya rumah/kosan sendiri di luar kampus Off-G.

5. Gerbang Depan yang dananya sekitar 2 MILIAR, dengan desain tidak jauh berbeda dengan deain gerbang depan Ganesha sekarang, tak lupa dengan ciri tanaman merambatnya.

6. Tiga buah danau (miniatur Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang direncanakan menjadi lokasi laboratorium, resapan air hujan, sekaligus penambah nilai estetika. Danau ini sendiri sama sekali belum digarap. Lahan yang digunakan merupakan lahan kosong berumput serta areal sawah masyarakat.


7. Pelayanan kesehatan akan bekerja sama dengan UNPAD.

8. Auditorium Convention Center, yakni bangunan yang fungsinya seperti Aula Barat dan Aula Timur, tapi dengan bentuk yang lebih mewah sepertinya, layaknya Sabuga.

9. Gedung Olah Raga untuk tempat berlatih futsal, gulat, dll. Yang (rencananya) dikelola oleh Menpora.

10. Perpustakaan, yang rencananya akan berisi lebih banyak komputer dibandingkan buku-bukunya sehingga mahasiswa seharusnya lebih mudah mengakses e-book.

11. Kampus pedestrian. Of-G akan memperkaya kampus dengan rute jalan kaki. Diharapkan tidak ada mobil dalam jumlah banyak (seperti di On-G) yang berseliweran di dalam kampus.

12.Dll.

Berikut sedikit gambar-gambar :

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Persilangan jeruk & pepaya oleh mahasiswa UNWIM
 

Setelah menilik lokasi, selanjutnya persepsi dikembalikan sepenuhnya kepada pembaca. Dengan rencana pembangunan yang (sepertinya) mutakhir, dengan pendanaan yang begitu besar, dengan lokasi sekitar yang tidak ramai dan diisi oleh penduduk-penduduk dengan kemampuan ekonomi (mungkin) menengah, silakan dibayangkan akan seperti apa kampus Of-G jika sudah sepenuhnya masterplan diejawantahkan.

Apakah akan terbangun mercusuar, bangunan tinggi kokoh yang menerangi kesunyian laut di kala gelap? Atau seolah akan terbangun tembok Berlin, yang memisahkan wilayah satu dengan wilayah lainnya?

Di luar masterplan, terdapat satu masalah lain yang mengganjal. Pada lahan yang akan dibangun danau, di dalamnya terdapat sawah-sawah penduduk. Pihak ITB menyatakan bahwa lahan tersebut sesungguhnya masih merupakan lahan ITB, bukan lahan milik masyarakat. ‘Mereka hanya menumpang’, tutur salah seorang pegawai.

Memang ada andil kesalahan masyarakat soal menumpang lahan, tapi tidak dapat dibutakan juga bahwa sesungguhnya sawah-sawah tersebut sudah digunakan dan telah memberi pemasukan tersendiri bagi masyarakat. Berikutnya, lahan tersebut akan dirombak menjadi danau. Relakah? Meskipun salah satu pegawai ITB yang turut serta dalam kunjungan mengatakan bahwa ‘warga sih bilang tidak apa-apa’, tetapi dengan mencoba memposisikan diri sebagai warga, apakah semudah itu melepaskan mata pencaharian? Darimana mereka akan mencari pekerjaan baru apabila ITB sendiri seolah tidak memberi rekomendasi mata pencaharian lain atas pengalihfungsian lahan tersebut?

Ya namanya juga rencana kebijakan walaupun dirasa belum terjawab semua pertanyaan, tapi pembangunan dipastikan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan. Mungkin saya sudah lulus (amin) dan tidak sempat merasakan, menyentuh, memijakkan kaki dalam bangungan-bangunan di sana selama menyandang status mahasiswa ITB. Ya semoga ITB mampu benar-benar mencetak sarjana yang benar-benar cakap dan mengabdi.

Karena bukan beton yang menjadikannya Menara Gading. 

Tetapi nilai kemanusiaan yang terkikis,

dan kehidupan pribadi-pribadi di dalamnya, yang terisolir dengan lingkungannya.