“BLESS”

This is an excerpt from the “BLESS” lyrics (L’arc~En~Ciel)

Kimi he to yume wa ima – Me no mae de kirameiteru
Hanabira no mai furu you na yuki ga shukufuku shita

The dream for you is now sparkling before your eyes
It’s blessed by snow falling like petals

Hanabanashii kisetsu mo yokome ni sugisari
Tameiki shiroku tsuite
Mayottari mo shita kedo

Brilliant season has gone by in a glance
A sigh tinted white
Although there were times of doubt

Shinto haritsumeta fuukei
Kodou wa takanari wo oboe
Afureru omoi wa kono shunkan wo koeru
Everything is for today

A scene immersed in silence
Feeling the pulse beating fast
Can overflowing emotions face this moment?
Everything is for today

.

.

.

Would it be someday what was written on that lyric, I will experience? My world is a fully of dream and hope :)

31th august 2010 – 05.32

Cerita Biasa

Sebenarnya ini sebuah cerita-bukan-apa-apa yang saya alami waktu SMA.

Kelas 3 SMA, saya disuruh orang tua untuk les Bahasa Inggris atas rekomendasi seorang temannya Ibu mengenai tempat les yang bagus dengan lokasi tak jauh dari asrama saya. Waktu itu semester 5, kalau tidak salah. Ya. Hitung-hitung sebagai persiapan UAN SMA.

Saya biasa keluar dari asrama sekitar pukul 15.30 usai shalat Ashar, dijemput oleh Ibu. Sedangkan lesnya dimulai pukul 16.00 dan berakhir pukul 18.00.

Pernah suatu sore, selesai les, saya harus kembali ke asrama sendiri naik angkot. Sangat sudah biasa. Tapi, waktu itu menjengkelkan sekali karena saya sudah menunggu begitu lama namun angkot yang kosong tidak muncul-muncul, penuh semua. Mana berdiri pula, mungkin setengah jam lebih pasti ada. Belum lagi gerimis dan saya tidak bawa payung. Pokoknya waktu itu dongkol sekali, kerjanya mau lempar-lempar barang saja.

Bukan saya sendiri sih , sepertinya masih ada beberapa orang yang bahkan mungkin sudah menunggu lebih lama.

Sembari merengut, dari kejauhan akhirnya tampak lagi moncong mobil angkot yang dinantikan. Saya mengamatinya dalam-dalam, berusaha menerka ada tidaknya jatah kosong ya walaupun setengah pantat saja juga boleh deh.

Ternyata ada.

Jatah satu orang di kursi paling dekat pintu terbukanya angkot. Saya berlari kecil ke arah angkot tapi ternyata kurang cepat, keduluan oleh seorang mas-mas yang sudah menaikkan kaki kanannya ke angkot. Namun, baru selangkah mas-mas itu langsung menurunkan kakinya dan berkata,

“Oh…mbak saja yang duluan.”

Balasnya sembari mengulurkan tangan kanan ke arah kursi kosong.

Saya kaget, sempat melongo sebentar. Dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih, barulah saya mendudukkan diri di kursi kosong tersebut. Dan melajulah si angkot.

Saya berdoa dalam hati agar Mas-nya itu cepat ketemu angkot. Dan hidupnya diridhoi.

Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Mungkin sudah ada yang menetes bahkan.

.

.

.

Terima kasih Mas, yang berbaik hati entah karena kasihan lihat tampang saya yang sudah sekusut itu atau mungkin memang Anda adalah laki-laki sejati. Padahal saya tahu Anda menunggu lebih lama, pastinya lebih dongkol dari saya ya?!

Terima kasih angin dan gerimis yang meleburkan air mata saya saat itu supaya saya tidak malu dikira nangis betulan oleh penumpang lain dalam angkot.

Saya terharu padahal yang seperti ini sebenarnya bukan kejadian apa-apa.

Merde(s)a

“Agar dari Merdeka bisa menuju #Merdesa, maka kita harus beranjak dari kata Nasionalisme menjadi kata Patriotisme.”@pandji

Yap. Itu di atas adalah tweetnya Pandji Pragiwaksono. Salah satu orang keren Indonesia :D . Sebenernya saya bingung, kok Pandji ini sering nge-hashtag kata MERDESA dalam beberapa tweetnya. Akhirnya saya googling deh. Dan hasil googlingannya di urutan pertama ternyata webnya Pandji sendiri, di sini nih www.pandji.com

Ini nih yang namanya Pandji. Familiar lah ya mukanya, presenter, rapper, ya gitu deh dia.

Terus googling lagi nyari di KBBI Online, hasilnya…

MERDEKA = bebas dari penjajahan

MERDESA = layak; patut

Jadi ya benar lah ya kata Pandji, merdesa bahasannya lebih jauh dari merdeka. Oke lah cukup mengerti. Merde(s)a

Sajak 1 Jam, Iseng #Indonesia65

65.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

Bukan sesedikit dua-tiga orang.

Berjuta. 

Senyum anak-anak di sepanjang  jalan raya.

Tidak di bangku sekolah.

Menapaki hidup keras mengemis, menjual tangis, mengharap belas kasih.

Dengan ibunya berpeluh, menggaruki dahi.

Lengah mencari sesuap nasi.

Sambil terus menunggu beras kiriman dari kantor orang berstempel. Siapa tahu. 

Bapaknya mondar-mandir dengan kemeja sebulan. Bau.

Bermodal ijazah, yang mungkin palsu.

Atau hasil enam, sembilan tahun bertatapan dengan pengajar yang tak jauh berbeda.

Baik yang menghadap papan tulis, baik yang berdiri membelakanginya. Bernasib sama.

Ia dan keluarganya. Dan tetangganya.

Dan jiwanya.

Yang luluh-lantah meratap di balik gedung bertingkat.

Mereka itu para lulusan muda.

Yang mengaku menjunjung idealisme tapi susut terhadap realita.

Menganggur.

.

Lalu orang berdasi berkoar.

Bergerak. Membenahi yang rusak.

Tapi bagai semut di pelupuk mata, tak disentuhnya.

Rakyat yang protes di balik layar 14 inchi.

Barikade yang menutupi jalan. Mereka yang mogok makan.

Orang capek terhadap janji, yang menulisi JUJUR.ADIL.TEGAS. 5 kaki di atas gedung orang-orang yang tidur saat pemimpinnya berbicara.

Yang kantornya mirip kura-kura, kinerja selamban hewannya berjalan.

Kumpulan orang-orang mengatasnamakan RAKYAT.

Tumpuan 250 juta kepala sebenar-benarnya RAKYAT.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

.

Jauh dari keluhan, ucapan ketidaksenangan atas bangsaku.

Sepenuh hati aku masih ingin melakukan sesuatu.

Sesungguhnya tidak bisa atas hal-hal besar.

Namun untuk saat ini dapat ‘ku berpikir, dengan itu selemah-lemahnya iman perjuangan.

.

Karena nenek moyangku berkata bahwa sesungguhnya.

Menatap ragam indahmu sedalam lautan.

Tak ubahnya menyelami rupawi surga dunia.

Menyusuri alur Nusantara.

Dengan keramahan dan senyum ikhlas rakyatnya yang dielukan.

.

Indonesia.

Semoga elokmu kembali dan abadi.

Semoga harummu mewangi lagi.

Oleh aku dan kau, calon penegak pilar yang t’lah runtuh.

.
170810 - 10.17, di atas kasur dari orang yang belum merasakan asam-garam kehidupan indonesia, jadi maaf saja kalau sok tahu.

Duo Turkinese

Baiklah. Sekarang ini, mari sedikit bercerita tentang angan-angan.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati status seorang senior jurusan saya yang menyuratkan bahwa ia sedang berada di Turki. Berpuasa di Turki, lebih tepatnya. WOW. Lalu saya bengong sejenak. Memikirkan angan-angan.

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin singgah ke Turki. Kenapa? Sederhana sekali alasannya. Dan berbeda dari kebanyakan. Bukan karena keindahan negaranya yang ditonjolkan melalui media. Melainkan terdapat 2 orang tokoh yang super saya senangi karyanya, berasal dari negara tersebut.

Jalalu’ddin Rumi dan Orhan Pamuk.

Jalalu’ddin Rumi

Jalalu’ddin Rumi ialah seorang sufi. Silahkan cari sendiri apa itu sufi, ‘kan bisa googling ya. Saya hanya ingin bernarasi kenapa bisa sebegitu mengagumi sosok ini.

Waktu itu kelas 3 SMA, saya berjalan sendirian di malam hari menyusuri koridor lantai 2 Asrama Putri Gedung H. Sesampainya di depan gudang, saya menemukan sebuah buku tak bertuan berjudul “Kucari Cinta Kutemu Tuhan” yakni kumpulan sajak-sajak sejenis dari Kahlil Gibran dan Jalalu’ddin Rumi. Biasalah. Rasa penasaran mendorong saya membolak-balik halaman buku tersebut. Membacanya sekilas. Hingga sampai pada sebuah sajak di awal-awal buku.

Ada orang asing, tergesa-gesa mencari tempat tinggal, seorang teman membawanya ke sebuah rumah rusak.

“Jika rumah ini beratap,” katanya,”kau dapat tinggal di sebelah tempatku. Keluargamu juga akan kerasan di sini, jika di situ ada sebuah kamar lagi.”

“Ya”, katanya, “enak sekali tinggal di sebelah teman-teman, tapi kawanku sayang, orang tak dapat tinggal di dalam ‘jika’.”

Jalalu’ddin Rumi

Layaknya cinta pada pandangan pertama, rasa kagum spontan menyelimuti relung pikiran saya. Sekejap langsung suka saja. Maka saya lanjutkan melahap habis sajak-sajak dalam buku tersebut dan bersikeras ‘saya telah mengagumi syair-syair karya Jalalu’ddin Rumi’ meskipun 50:50 dalam buku tersebut memuat karya Kahlil Gibran pula.

Saking sukanya dengan sajak yang tadi, sampai-sampai saya muat sebagai bagian pembuka di KIR SMA saya (biasanya kalau novel itu, yang ada tulisan pendek ‘untuk anakku’ atau apalah gitu). Benar-benar pembuka.

Ayolah balik lagi. Kenapa bisa Rumi? Kahlil Gibran ‘kan lebih terkenal. W.S.Rendra juga produk lokal. Tidak tahu juga ya. Mungkin karena kesan religius islami yang lebih ditampilkan oleh Rumi dibandingkan penyair lain, lebih mengena bagi saya. Beralasan.

Mengagumi namun bukan fanatik. Cukup dengan membaca ulang dan membeli sedikit buku yang sekiranya memuat syair-syair Rumi, saya lakukan. Pokoknya suka.

Orhan Pamuk

Nah kalau yang tadi sufi, yang ini seorang sastrawan. Pengarang yang pernah mendapat Nobel Sastra di tahun 2006 ini sampai dijuluki ‘Bintang Baru yang telah terbit dari Timur’ oleh The New York Times. Mendengar kata ‘peraih nobel’ sebenarnya Mas/Jeng pasti sudah bisa menebak bagaimana istimewa orang ini.

Namun, bukan karena mendapat nobelnya tapi karena memang karyanya menarik. Tidak bisa pamer sih karena saya baru membaca salah satu karyanya yang juga fenomenal selain Kar (Snow) yakni Benim Adim Kirmidzi (My Name is Red). Sementara yang Kar (Snow) belum pernah ketemu. Jadi, kalau Mas/Jeng menemukan di mana yang jual itu novel, bisa hubungi saya :)

My Name is Red mengisahkan pembunuhan seorang Elok Effendi, sederhananya, seorang ilustrator yang ditugaskan Sultan membuat sebuah buku istimewa. Kemudian satu novel ini akan mengisahkan hiruk pikuk penelusuran sang pelaku pembunuhan. Detail.

Pemeran utama dalam novel ini (sepertinya) bernama Hitam. Namun, dengan indahnya Pamuk memberikan plot maju dengan berbagai sudut pandang pelaku pada tiap bab yang ia tuliskan. Maka, jangan heran kalau judul tiap bab akan seperti ini.

Aku Dinamai “Hitam”

Aku, Shekure

Aku Adalah Seekor Anjing

Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh

Aku, Setan

Dll.

Sangat seru. Saya langsung terkesima dengan gaya penulisan yang unik seperti ini. Pertama, karena baru kali ini menemukan hal baru (variasi sudut pandang) dari sebuah buku. Kedua, Pamuk bisa mendorong pembacanya untuk ikut menebak siapa pelaku pembunuhan Sang Elok Effendi. Belum lagi nuansa pada rujukan tentang filsafat, ‘ilustrasi’ dan ‘gaya’ zaman Kesultanan Utsmaniyah. Keren lah pokoknya.

Terlepas dari semua penjabaran panjang di atas, ringkasnya adalah saya mengagumi karya kedua tokoh tersebut.

Cukup 1 alasan yang membuat saya ingin ke Turki, tempat yang melahirkan orang-orang istimewa. Semoga tercapai. Amin.

Minggu, 23.39
Masih di tempat berangan-angan